SINJAI, INSERTRAKYAT.COM — Pemerintah Desa Suka Maju, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sinjai, memperkuat kewaspadaan warga terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah prakiraan curah hujan rendah pada Oktober 2026.
Pemerintah Desa Sukamaju mengimbau masyarakat tidak membakar sampah atau lahan, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta berhati-hati menggunakan api di kawasan dengan vegetasi kering.
Imbauan tersebut senada dengan arahan Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian yang meminta pencegahan kebakaran hutan dan lahan diperkuat hingga tingkat desa.
“Pencegahan ditempatkan sebagai langkah awal untuk menekan munculnya titik api, dengan melibatkan pemerintah daerah, aparat, dan masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak,” kata Tito dalam rapat bersama pada Senin belum lama ini. Pernyataan itu juga dikonfirmasi oleh InsertRakyat.com kepada Mendagri Tito pada Selasa (6/10/2026).
Di Sukamaju, pemerintah desa meminta warga meningkatkan kewaspadaan ketika beraktivitas di sekitar hutan, semak belukar, lahan kosong, serta area pertanian.
“Jangan membakar sampah atau lahan. Sekecil apa pun api dapat menimbulkan kebakaran besar,” demikian imbauan Pemerintah Desa Sukamaju.
Warga juga diminta segera melaporkan apabila menemukan kebakaran kepada pemerintah desa atau Satgas Bencana Desa Sukamaju.
Kepala Desa Sukamaju Asrul Arkan, S. Pd mengatakan pelaporan cepat menjadi bagian dari kewaspadaan masyarakat. Menurut dia, kebakaran yang terlambat diketahui dapat berkembang dari titik awal dan menjangkau kawasan di sekitarnya.
Sukamaju memiliki 4.572 jiwa penduduk yang tersebar di empat dusun. Aktivitas masyarakat berlangsung di kawasan permukiman sekaligus bersinggungan dengan ruang pertanian dan kawasan produksi yang menjadi bagian dari kegiatan ekonomi setempat. Seperti budidaya Semangka. 
Secara administratif, Desa Sukamaju berbatasan dengan Desa Bua di sebelah timur, Desa Lasiai di sebelah utara, Desa Tellu Limpoe di sebelah barat, dan Desa Era Baru di sebelah selatan.
Sementara itu, luas Kecamatan Tellu Limpoe mencapai 147,30 kilometer persegi atau 17,96 persen dari luas Kabupaten Sinjai. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertanian menjadi salah satu sektor dalam profil kecamatan tersebut.
Tellu Limpoe juga memiliki aktivitas produksi tanaman buah-buahan dan sayuran tahunan serta tanaman hortikultura semusim. Data tersebut merupakan gambaran tingkat kecamatan, bukan angka produksi khusus Desa Sukamaju.
Kondisi itu membuat pencegahan kebakaran tidak hanya berkaitan dengan kawasan permukiman. Api yang berasal dari pembakaran sampah atau lahan dapat menjalar ke tanaman budidaya, perkebunan, semak, dan ruang terbuka yang berada dalam kondisi kering.
Asrul kembali mengingatkan warga agar segera melaporkan apabila menemukan kebakaran.
“Segera laporkan jika terjadi kebakaran kepada pemerintah desa atau Satgas Bencana Desa Suka Maju,” kata Asrul saat ditemui InsertRakyat.com, Selasa (6/10/2026). Ia juga menegaskan bahwa sepanjang periode kemarau tahun ini, belum ada kejadian kebakaran di Desa Suka Maju.
Kewaspadaan tersebut berlangsung ketika kondisi meteorologis di Sinjai masih menunjukkan kecenderungan kering. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam prakiraan 6–12 Oktober 2026 menyatakan kondisi kering masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia.
Pada Dasarian I Oktober, sekitar 79,65 persen wilayah Indonesia diprakirakan menerima curah hujan kategori rendah, yakni 0–50 milimeter per dasarian. Sebagian besar wilayah Sulawesi juga berada dalam kategori curah hujan rendah pada periode tersebut.
Untuk Kabupaten Sinjai, prakiraan curah hujan bulanan BMKG menempatkan Oktober 2026 dalam kategori rendah, yakni 0–100 milimeter per bulan.
Kondisi tersebut tidak berarti hujan sama sekali tidak terjadi di Sinjai. BMKG tetap memprakirakan peluang hujan lokal di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan akibat dinamika atmosfer regional. Kategori curah hujan rendah merupakan gambaran kecenderungan wilayah, bukan kepastian bahwa setiap desa atau setiap hari tidak mengalami hujan.
Secara nasional, BMKG memprediksi musim kemarau 2026 memiliki karakter lebih kering dari biasanya. Sebanyak 64,5 persen zona musim diperkirakan mengalami akumulasi curah hujan di bawah normal, sementara 57,2 persen diprediksi mengalami musim kemarau lebih panjang dari kondisi normal.
BMKG juga menyebut El Niño dengan intensitas sangat kuat masih bertahan pada awal Oktober 2026. IOD positif turut memengaruhi pasokan uap air dan mendukung kondisi atmosfer yang relatif lebih kering di sejumlah wilayah.
Untuk musim hujan 2026/2027, sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan mulai memasuki musim hujan pada November dan Desember 2026. Awal musim tersebut tidak berlangsung serentak dan sebagian besar zona musim diprakirakan mengalami kemunduran dari kondisi normal.
Dalam situasi tersebut, imbauan Pemerintah Desa Sukamaju menjadi langkah pencegahan di tingkat paling dekat dengan masyarakat. Warga diminta menghindari aktivitas yang dapat memicu api di lahan terbuka dan segera melaporkan kebakaran apabila ditemukan.

Pencegahan karhutla di tingkat desa juga menjadi bagian dari arahan Mendagri agar upaya pengendalian tidak menunggu api muncul dan berkembang. Pemerintah daerah, aparat, dan masyarakat didorong terlibat dalam pencegahan di wilayah yang memiliki potensi terdampak.
(Supriadi Buraerah).

























