TANJUNG SELOR – Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) bersiap menjadi pelopor pembangunan jalur rel pertama di Pulau Borneo melalui proyek strategis bernilai investasi sekitar Rp25 triliun. Senin (8/6/2026).
Proyek ambisius tersebut dirancang membentang dari Kabupaten Malinau, melintasi Tana Tidung, hingga berakhir di Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan. Kehadirannya diharapkan menjadi fondasi awal terbentuknya jaringan transportasi rel modern yang kelak menghubungkan berbagai wilayah di Kalimantan.
Gubernur Kalimantan Utara, Dr. H. Zainal Arifin Paliwang, SH, M.Hum, mengungkapkan optimisme tinggi terhadap realisasi proyek tersebut. Menurutnya, komunikasi antara pemerintah daerah dan investor potensial terus berjalan intensif, menandakan keseriusan berbagai pihak untuk segera merealisasikan pembangunan.
“Insyaallah, investor yang akan menggarap jaringan kereta api ini segera masuk ke Kaltara. Rencana rutenya membentang mulai dari Malinau, melewati Tana Tidung, hingga berakhir di Tanjung Selor, Bulungan,” ungkap Zainal.
Bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pedalaman dan perbatasan, proyek ini bukan sekadar pembangunan sarana transportasi. Kehadirannya dipandang sebagai simbol perubahan yang dapat memangkas keterisolasian wilayah, mempercepat mobilitas masyarakat, sekaligus membuka akses ekonomi yang selama ini terkendala kondisi geografis.
Selama bertahun-tahun, sebagian besar aktivitas transportasi di wilayah tersebut masih bertumpu pada jalur sungai dan jalan darat yang memerlukan waktu tempuh panjang serta biaya logistik yang relatif tinggi. Jalur rel baru diharapkan mampu menghadirkan alternatif transportasi yang lebih efisien, aman, dan berdaya saing.
Visi pembangunan yang diusung Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara tidak berhenti pada konektivitas antarwilayah di dalam provinsi semata. Pemerintah daerah menaruh harapan besar agar jalur rel tersebut nantinya dapat terhubung langsung dengan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur.
Menurut Zainal, jaringan kereta api di Kaltara diproyeksikan menjadi bagian penting dari sistem konektivitas regional yang mengintegrasikan berbagai kawasan strategis di Pulau Kalimantan.
“Bahkan, impian besarnya adalah jalur ini bisa melesat hingga menembus perbatasan Brunei Darussalam dan Malaysia,” tuturnya optimistis.
Apabila visi tersebut terealisasi, keberadaan jalur kereta api tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi domestik, tetapi juga berpotensi menjadi koridor ekonomi lintas negara yang memperkuat perdagangan, logistik, investasi, hingga mobilitas masyarakat kawasan Asia Tenggara.
Jaringan rel yang terhubung dengan negara tetangga dinilai mampu menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru sekaligus meningkatkan daya saing kawasan perbatasan Indonesia yang selama ini relatif tertinggal dibanding wilayah lain.
Rencana pembangunan jalur kereta api pertama di Kalimantan memperoleh dukungan kuat dari pemerintah pusat yang saat ini tengah mengakselerasi pemerataan pembangunan infrastruktur nasional.
Dukungan tersebut, menurut Zainal, diperoleh setelah dirinya melakukan koordinasi dengan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
“Pak Menko AHY menegaskan komitmennya agar seluruh pulau besar di Indonesia memiliki jaringan kereta api. Jawa sudah matang, Sumatera sebagian sudah berjalan, begitu juga Sulawesi lewat rute Makassar-Parepare. Nah, sekarang giliran Kalimantan yang kita mulai,” jelasnya.
Pembangunan jalur rel dinilai memiliki nilai strategis yang jauh melampaui fungsi transportasi semata. Infrastruktur tersebut diyakini mampu mempercepat distribusi barang, menurunkan biaya logistik, memperluas akses pasar, serta mendorong tumbuhnya kawasan industri dan pusat ekonomi baru di berbagai wilayah Kalimantan.
Optimisme Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara semakin menguat seiring adanya sinyal positif dari calon investor yang disebut menunjukkan komitmen serius terhadap proyek tersebut.
Menurut Zainal, berbagai tahapan komunikasi dan penjajakan kerja sama terus berlangsung dengan intensitas tinggi. Pemerintah daerah bahkan menargetkan proses penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dapat terlaksana sebelum akhir tahun.
“Kami menargetkan penandatanganan MoU bersama pihak investor sudah bisa terlaksana sepenuhnya pada tahun ini,” tegasnya.
Apabila target tersebut tercapai, proyek kereta api Kaltara akan menjadi tonggak sejarah baru dalam pembangunan transportasi berbasis rel di Kalimantan. Kehadirannya sekaligus menjadi simbol percepatan pemerataan pembangunan nasional yang selama ini lebih terkonsentrasi di Pulau Jawa.
Selain menggandeng investor dalam negeri, pemerintah juga mulai membuka peluang kerja sama internasional guna mempercepat realisasi proyek-proyek strategis nasional, termasuk pembangunan jaringan perkeretaapian di Kalimantan.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) secara terbuka menawarkan peluang investasi tersebut kepada Rusia saat menghadiri St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026.
Dalam forum ekonomi internasional tersebut, Indonesia mempresentasikan berbagai peluang kerja sama strategis di bidang perkeretaapian, pelabuhan, logistik maritim, hingga pengembangan kawasan pertumbuhan baru kepada Rusia dan sejumlah negara Eurasia.
Langkah diplomasi ekonomi tersebut sejalan dengan arah pembangunan nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat konektivitas antarwilayah serta mempercepat pemerataan pembangunan di luar Pulau Jawa.
“Langkah ini membuka ruang kolaborasi besar, mulai dari manufaktur bersama untuk armada kereta dan pelabuhan, transfer teknologi sistem persinyalan dan logistik digital, hingga integrasi koridor kereta api dan pelabuhan yang modern,” pungkas AHY dalam rilis resminya.
Jika seluruh rencana tersebut berjalan sesuai target, Kalimantan tidak hanya akan memiliki jalur kereta api pertamanya, tetapi juga berpotensi menjadi tulang punggung baru konektivitas regional yang menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan kawasan Asia Tenggara secara lebih efektif dan berkelanjutan. (James).








