SIDRAP, InsertRakyat.com – Dalam melestarikan warisan budaya lokal sejak usia dini terus digencarkan. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Hasanuddin (Unhas) menghadirkan inovasi pembelajaran bertajuk “Kelas Lontara Cilik” di SD Negeri 1 Amparita, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidenreng Rappang.
Program yang digagas oleh mahasiswa Program Studi Sastra Daerah Unhas, Mar’atul Sholeha, tersebut dirancang untuk mengenalkan aksara Lontara Bugis kepada siswa sekolah dasar melalui metode belajar yang interaktif, menyenangkan, dan berbasis aktivitas fisik.
Kegiatan berlangsung selama empat kali pertemuan, yakni pada 22, 24, 29, dan 30 Juli 2026, dengan menyasar siswa kelas III SD yang berada pada fase emas pengenalan budaya dan pembentukan karakter.
Mar’atul menjelaskan, pembelajaran dikemas menggunakan konsep gamifikasi gerak dan taktil agar anak-anak lebih mudah memahami aksara Lontara tanpa merasa terbebani.
“Kami ingin mengubah stigma bahwa belajar aksara tradisional itu sulit dan membosankan. Melalui gamifikasi gerak, anak-anak belajar sambil beraktivitas fisik. Mereka bergerak, melompat, dan mencari kartu aksara Lontara yang disebar di lantai, lalu menuliskan kembali hasilnya di papan tulis dengan gembira,” ujar Mar’atul usai penutupan kegiatan, Kamis (30/7/2026).
Pada pertemuan pertama, peserta dikenalkan dengan 23 huruf induk (Indo Sure’) menggunakan media visual yang menarik sehingga memudahkan proses pengenalan bentuk aksara.
Kemudian, pada pertemuan kedua, para siswa mulai mempelajari tanda vokal (Ana’ Sure’) melalui media flashcard interaktif yang dirancang untuk meningkatkan daya ingat dan pemahaman.
Suasana belajar semakin semarak saat memasuki pertemuan ketiga melalui permainan edukatif “Berburu Aksara”. Dalam sesi tersebut, para murid berlari mencari simbol aksara yang disebutkan oleh pengajar, kemudian menuliskan huruf beserta tanda vokalnya secara cepat dan tepat di papan tulis.
Sebagai penutup, seluruh peserta diajak mengikuti misi “Menulis Nama Sendiri” menggunakan aksara Lontara. Hasil karya mereka kemudian dipamerkan dalam “Mading Aksara” yang dipajang di pojok baca sekolah sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas sekaligus kecintaan terhadap budaya daerah.
Kepala SD Negeri 1 Amparita bersama para guru memberikan apresiasi atas hadirnya program tersebut. Mereka menilai metode pembelajaran berbasis gerak mampu meningkatkan minat belajar sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan budaya Bugis sejak dini.
Program “Kelas Lontara Cilik” menjadi salah satu inovasi mahasiswa KKN-T Unhas dalam menggabungkan pendidikan, pelestarian budaya, dan pembelajaran kreatif. Melalui pendekatan yang menyenangkan, siswa tidak hanya mengenal aksara Lontara, tetapi juga diajak mencintai identitas budaya lokal sebagai bagian dari kekayaan bangsa.
Editor: Azhari










