Oleh Muhammad Subhan
Move on pada Aceh memang susah. Dua puluh enam tahun negeri itu saya tinggalkan, tapi ingatan tidak pernah benar-benar pergi dari sana.
Saya kecil dan besar di Aceh, meski lahir di Tembung, Medan. Saat kelas dua SD, saya dibawa ayah ke Aceh—karena ayah orang Aceh—hingga tamat SMA. Setelah ayah berpulang, saya tinggalkan Aceh dan merantau ke Padang.
Tahun kemarin saya ke Aceh, berkendaraan lewat jalan darat, menyinggahi sebelas kota dan kabupaten di Aceh. Tur literasi bersama Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang.
Pada tahun-tahun sebelumnya, beberapa kali saya juga ke Aceh. Khususnya untuk kegiatan sastra.
Sebelum pandemi, banyak sekali acara sastra dihelat. Pada 2016, saya mengikuti Temu Penyair Pasie Karam di Meulaboh, Aceh Barat. Pada tahun yang sama, saya mengikuti Temu Penyair 8 Negara di Banda Aceh.
Asyik sekali memang menghadiri pertemuan-pertemuan sastra itu. Sekalian pulang kampung. Berziarah ke makam ayah di Desa Keude Krueng Geukueh, Aceh Utara. Juga bersua teman-teman sekolah, ngopi dan berbincang di keude kupi Aceh di Simpang Empat dan di tempat lain.
Aceh adalah ingatan. Aceh adalah jalan pulang.
Saya tidak tahu, kalau umur panjang, apakah kelak akan pulang lebih lama, bermukim di Aceh lagi, menghabiskan hari-hari pada usia tua. Tidak tahu. Dan bisa saja begitu.
Memang, sebelum pandemi datang, pertemuan-pertemuan sastra banyak dihelat di berbagai kota, termasuk Aceh. Di sejumlah kota lain pun saya mengikutinya, terutama jika lolos kurasi. Sebab, salah satu syarat mengikuti pertemuan sastra adalah kurasi karya. Penyair mengirim puisi, lalu dikurasi. Jika dinilai layak, namanya diumumkan lolos sekaligus menjadi tiket undangan.
Kemarin saya membaca pengumuman yang dibagikan panitia Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh—Indonesia di Instagram mereka. Beberapa pekan lalu saya mengirim puisi ke sana. Saya lihat nama saya muncul sebagai salah seorang yang lolos kurasi di antara lebih 300 penyair yang mengirim puisi. Mereka tidak saja berasal dari Indonesia, tapi juga Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, dan lainnya.
Tadi malam saya mengirim pesan ke nomor WhatsApp panitia PPN, dan saya merencanakan hadir. Artinya, tahun ini, setelah tahun kemarin, saya akan kembali ke Aceh. Pulang. Memungut ingatan, juga kenangan.
Bagi sebagian orang, pertemuan sastra mungkin hanya tampak sebagai agenda seremonial. Kumpul-kumpul. Orang datang, membaca puisi, berdiskusi, lalu pulang. Padahal, bagi penyair dan sastrawan, pertemuan seperti itu jauh lebih penting daripada yang terlihat di permukaan.
Pertemuan sastra adalah ruang bertemunya karya. Puisi-puisi yang lahir dari kota, daerah, dan pengalaman hidup yang berbeda saling dipertemukan. Di sana, seorang penyair dapat melihat bagaimana bahasa bekerja di tangan penyair lain. Bagaimana sebuah pengalaman dapat diterjemahkan dan menjelma puisi yang kuat. Bagaimana sebuah kegelisahan sosial dapat ditafsirkan menjadi larik-larik yang menggugah.
Tidak hanya temu karya, pertemuan sastra juga menjadi temu gagasan. Ada percakapan-percakapan yang kadang berlangsung lebih menarik daripada acara resmi. Di sela minum kopi, di lobi hotel, di warung makan, atau ketika berjalan bersama di dalam bus atau pesawat udara menyusuri kota penyelenggara. Dari percakapan-percakapan kecil itulah sering lahir gagasan besar.
Saya merasakan sendiri manfaatnya. Setiap mengikuti pertemuan sastra di sebuah kota, yang saya bawa pulang bukan hanya sertifikat atau dokumentasi kegiatan. Yang paling berharga justru percakapan, pertemanan, dan pengalaman-pengalaman yang tidak tertulis dalam laporan kegiatan.
Saya selalu percaya bahwa sastra hidup karena dialog. Seorang penulis boleh bekerja sendirian di ruang sepi. Seorang penyair boleh menulis puisi seorang diri di hadapan secangkir kopi. Namun, pada titik tertentu, ia perlu bertemu dengan orang lain. Perlu mendengar suara-suara baru. Perlu melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda.
Oleh sebab itulah, pertemuan sastra menjadi penting sebagai ruang menjaga semangat bersastra.
Di tengah dunia yang bergerak cepat, ketika perhatian orang semakin pendek dan media sosial sering kali lebih riuh daripada buku, pertemuan sastra mengingatkan bahwa masih ada orang-orang yang setia merawat kata-kata.
Ada pula hal lain yang selalu saya nikmati ketika berkunjung ke sebuah kota. Saya suka mengamati. Melihat wajah-wajah orang di pasar. Mendengar logat percakapan masyarakat. Memperhatikan kebiasaan mereka. Menyaksikan bentang alam yang berbeda.
Kadang sebuah cerita pendek, puisi, atau esai lahir dari percakapan singkat dengan tukang becak. Kadang muncul setelah memandang laut pada sore hari. Kadang pula berasal dari obrolan tidak terlalu penting di warung kopi.
Ide tulisan sesungguhnya ada di mana-mana. Ia dapat datang dari apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dicium, bahkan dari hal-hal kecil yang sering luput diperhatikan. Karena itulah perjalanan selalu menjadi sekolah yang menyenangkan bagi seorang penulis.
Mungkin itu pula yang membuat saya sulit benar-benar berjarak dengan Aceh. Setiap kali kembali ke sana, selalu ada cerita baru yang menunggu untuk dipungut. Selalu ada kenangan lama yang kembali menyapa. Selalu ada wajah-wajah yang membuat saya merasa tidak sedang menjadi tamu.
Dan kini, ketika nama saya kembali tercantum sebagai peserta yang lolos kurasi Pertemuan Penyair Nusantara XIV Aceh—Indonesia, saya merasa seperti sedang menerima panggilan pulang.
Pulang untuk bersua sahabat-sahabat lama. Pulang untuk bertemu penulis-penulis baru, sekaligus penulis-penulis lama yang sudah lama bertungkus lumus di ranah kepenulisan Tanah Air.
Dan yang lebih penting dari itu, saya pulang untuk belajar lagi. Pulang untuk memungut cerita. Sebab, bagi saya, Aceh bukan sekadar sebuah daerah di ujung barat Indonesia. Aceh adalah sebagian dari tubuh saya sendiri. []
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis











