Rungo Ashta. Menetap di Kabupaten Pasaman. Menulis puisi, cerpen, esai, dan cerita anak. Tergabung dalam Sekolah Menulis elipsis, Wong Indonesia Nulis, dan Ufuk Literasi. Mendirikan Akademi Menulis Metafora pada tahun 2025. Buku kumpulan puisinya berjudul Retisalya (2021) dan Lidah Ombak, Tanah Darah (2026).
.
Maya
.
maya menyusuri pagi yang belum usai
membawa matahari di pundak kurus
angin menegur langkahnya lembut
seolah tahu betapa berat hari yang harus ia jujung seorang diri
di tangannya waktu tumbuh bagai akar
diam, mencengkeram bumi
.
maya belajar tersenyum pada cermin
yang seringkali memantulkan retak
dalam retaknya ada sungai yang tak pernah diumumkan
mengalir pelan dari matanya membasahi malam yang pura-pura tuli
ia menanam sabar bagai menanam padi di musim ragu
tanah seringkali pelit, langit kadang lupa menurunkan hujan
tetapi ia tetap menyemai hari dengan benih yang nyaris suci
di dadanya ada musim yang tak pernah usai
ada badai yang berputar pelan bagai kipas tua di langit ingatan
ia mengikat bising dengan diam yang panjang
.
bising dunia menelan langkahnya setiap pagi
trotoar menghafal jejak lelahnya
lampu-lampu jalan menunduk hormat
ia pulang membawa malam yang menempel di ujung rambutnya
kadang luka bertengger di bahunya
bagai burung kehilangan arah
tak berkicau, hanya mengepakkan luka tajam bagai pecahan musim
.
namun maya tak pernah benar-benar runtuh
ia menjahit hari dengan benang keberanian
menambal retak nasib dengan keyakinan yang gigih
dunia sering lupa berterima kasih
diam-diam berdiri di atas pundaknya
menyembunyikan hujan di balik senyumnya.
.
Pasaman, Maret 2026
.
Rumah Ibu
.
denting jam menutup malam tergesa-gesa
menyibak pagi dalam kabut nestapa
embun berembus lambat menjamah tubuh yang kedinginan
terbaring di ranjang kesepian
semua terasa hambar
sirna ditelan keegoisan
semua ditinggalkan, atau meninggalkan
hanya kenangan peredam kesedihan
sesekali terisak jua
air mata tak lagi merembah
hanya tangis tanpa suara
.
tubuh yang dulu payung teduh
lembaran kasih, tinta cinta tanpa cela
kini renta dimakan usia
memayungi hidup seorang diri
rumah yang dulu singgasana bahagia
tinggal debu di bilik figura.
.
Pasaman, September 2025
.
Menanak Air Mata
.
di bawah jembatan yang kian berkarat
seorang anak menambal mimpi dengan kardus basah
langit menatapnya tanpa suara
sementara menara kaca menutup rapat jendelanya
di sana meja makan berkilau dari sisa lapar orang pinggiran
sendok-sendok berdenting seperti notif gaji
seraya senyum di bibir petinggi, tapi rakyat cupul nasi
.
di lorong sempit lagi kumuh
ibu menanak air mata di dalam panci
menyebut nama Tuhan dalam bisu tersedu
berharap nasi datang dari doa yang beradu
.
keadilan lewat di depan mata mereka
menyamar iklan di layar lebar
tersenyum manis menjanjikan
esok yang tak pernah datang
tak pernah singgah
menyapa jiwa-jiwa yang telah lelah dalam tabah.
.
Pasaman, September 2025
.
Penulis: Rungo Ashta
Editor: Likin At Tamimi
Editor: Likin At Tamimi
.
Catatan Redaksi:
.
BILIK ELIPSIS adalah ruang sastra/literasi yang dikelola Majalah Digital elipsis bersama Sekolah Menulis elipsis bekerja sama dengan koran digital InserRakyat.com. Terbit setiap pekan, menayangkan cerpen, puisi, dan esai terkurasi. Kirim naskah ke BILIK ELIPSIS via surel: majalahelipsis@gmail.com.




































