JAKARTA, — Pemerintah daerah perlu memperluas akses keuangan masyarakat untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen. Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menilai, penguatan ekonomi daerah membutuhkan dukungan pembiayaan yang terjangkau, layanan keuangan inklusif, serta transaksi digital yang semakin mudah diakses warga.
Pandangan tersebut disampaikan Bima saat peluncuran Dashboard Indeks Akses Keuangan di Daerah (IKAD) di Jakarta, Senin (19/10/2026). Ia mengingatkan bahwa belanja pemerintah dan investasi skala besar saja belum cukup untuk menopang pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.
“Diperlukan penguatan ekonomi masyarakat melalui akses pembiayaan, tabungan, transaksi digital, serta layanan keuangan yang terjangkau,” ujar Bima.
Perluasan akses keuangan juga berkaitan dengan sasaran pembangunan nasional. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, pemerintah menetapkan target inklusi keuangan sebesar 93 persen pada 2029. Sementara itu, Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2045 mematok sasaran sebesar 98 persen.
Di tingkat daerah, integrasi IKAD ke dalam dokumen perencanaan pembangunan telah mencakup seluruh 38 provinsi. Adapun pada tingkat kabupaten/kota, sebanyak 341 daerah atau sekitar 66,34 persen telah mengintegrasikan indeks tersebut.
Capaian itu menjadi pijakan untuk memperluas jangkauan layanan keuangan. Namun, pemerintah daerah juga perlu memperkuat koordinasi agar kebijakan pembiayaan, digitalisasi, dan pengendalian harga berjalan selaras.
Bima mendorong pemerintah daerah menyinergikan tiga tim, yakni Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPKAD), Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), serta Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD).
“Kalau tiga ini bisa sinergi, bisa kolaborasi, maka target kita memperluas akses keuangan, memperkuat digitalisasi, menjaga stabilitas harga, ujung-ujungnya akan betul-betul mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” tuturnya.
Peluncuran Dashboard IKAD diharapkan menyediakan basis data bersama untuk memperkuat koordinasi antarpemangku kepentingan, termasuk dalam memperluas layanan keuangan hingga perdesaan. Data tersebut juga diharapkan membantu pemerintah daerah menyusun kebijakan sesuai kebutuhan masyarakat.
Bima menyatakan Kemendagri akan terus mendukung pengembangan IKAD. Menurut dia, keberadaan dashboard tersebut diharapkan mempercepat sinergi dan kolaborasi dalam memperluas akses keuangan daerah.
Peluncuran itu turut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, Ketua Dewan Komisioner OJK, serta para undangan.
Laporan: Syamsul Bahri
Editor: Supriadi Buraerah



















