SURABAYA, INSERTRAKYAT.com — Tren batu akik yang meredup tidak membuat Redho berhenti berjualan. Ia tetap menjaga kualitas dan melayani pelanggan di kawasan Pasar Turi Surabaya.
Demam batu akik yang merebak pada 2014–2015 kini jauh berkurang. Kondisi tersebut turut terlihat di Surabaya, termasuk kawasan Pasar Turi dan Jalan Kayoon.
Di tengah perubahan pasar, sejumlah pedagang dan pengrajin masih mempertahankan usaha. Mereka menjual batu akik sekaligus mengolahnya menjadi cincin dan perhiasan.
Redho menjadi salah satu pedagang yang memilih tetap bertahan. Ia mengaku mulai berjualan batu akik di Surabaya sejak 2013.
“Kalau dulu bisa dibilang setiap hari ada pembeli, sekarang paling kadang-kadang saja,” ujar Redho sambil menata dagangannya, Sabtu (15/8/2026).
Menurut Redho, kondisi pasar membuat kebutuhan modal ikut berubah. Dahulu, ia menyiapkan jutaan rupiah untuk stok batu.
Kini, ia membeli batu sesuai kebutuhan dan permintaan pelanggan. Modal yang digunakan dapat ditekan hingga ratusan ribu rupiah.
“Kalau dulu modal bisa jutaan untuk stok batu, sekarang cukup ratusan ribu saja. Saya ambil seperlunya, sesuai permintaan,” katanya.
Harga jual juga berubah dibandingkan masa kejayaan batu akik. Redho mengatakan beberapa jenis batu yang dahulu dapat terjual ratusan ribu rupiah kini jauh lebih sulit mendapatkan harga tersebut.
“Kadang hasil jual cuma cukup buat ganti modal. Untungnya tipis, tapi masih bisa bertahan,” ujarnya.

Redho tetap menjalankan usaha tersebut sebagai tambahan sumber penghidupan. Biaya sewa tempat yang kini lebih rendah turut membantu mengurangi beban usaha.
“Kalau sewanya masih mahal seperti dulu, mungkin saya sudah berhenti jualan,” kata dia.
Pada malam hari, Redho tetap aktif berjualan batu akik di kawasan Pasar Turi. Pelanggannya berasal dari berbagai kalangan, mulai anggota TNI, Polri, pejabat, hingga masyarakat umum.
Ia menyebut salah satu pelanggannya adalah Mas Jono. Menurut Redho, keberagaman pelanggan menjadi bagian dari perjalanan usahanya.
Untuk mempertahankan pasar, Redho mengutamakan kualitas batu dan hubungan baik dengan pelanggan. Pesanan khusus juga dilayani dengan mencarikan batu sesuai kebutuhan pembeli.
“Saya tetap jaga kepercayaan pembeli. Kadang ada yang pesan batu khusus, saya carikan. Itu yang bikin pelanggan masih datang,” tuturnya.
Selain berdagang dan mengolah batu, Redho merupakan kontributor InsertRakyat.com. Ia bergabung sebagai kontributor sejak 2025.
Aktivitas tersebut berjalan berdampingan dengan kegiatannya sebagai pedagang dan pengrajin batu akik di Surabaya. Pada malam hari, ia tetap berada di lapak untuk melayani pelanggan.
Redho melihat perubahan minat masyarakat sebagai salah satu faktor turunnya permintaan Akik. Menurutnya, konsumen kini lebih banyak tertarik pada perangkat digital dan aksesori modern.
Meski pasar tidak lagi seramai masa booming, Redho memilih tetap bertahan. Ia mengandalkan kualitas, pelayanan, serta kepercayaan pelanggan untuk menjaga usaha tetap berjalan.
Ditambahkan (Redho, -red), usaha tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya di Surabaya sejak 2013 dalam mencari nafkah halal. (Tim Insertrakyat).




















































