SOLOK, InsertRakyat.com — Pondok Pesantren Darut Thalib Kota Solok, Sumatra Barat, terus memperkuat budaya literasi di lingkungan pesantren melalui program Syiar & Siar bertajuk “Santri Menulis Santri Berdaya” yang digelar Rabu, 20 Mei 2026.
Kegiatan yang berlangsung di lingkungan pondok pesantren tersebut menjadi ruang pembelajaran kreatif bagi para santri untuk mengasah kemampuan menulis sekaligus memperluas wawasan literasi.
Acara dibuka secara resmi Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Kota Solok, Fauzi, S.Sos.I., M.H. Kegiatan itu turut dihadiri Pimpinan Pondok Pesantren Darut Thalib, Bobi Gustiadi, bersama puluhan santriwan dan santriwati yang mengikuti workshop dengan penuh antusias.
Dalam kegiatan tersebut, penulis dan pegiat literasi Muhammad Subhan hadir sebagai pemateri. Founder Sekolah Menulis elipsis itu menyampaikan materi bertema “Show and Tell”, sebuah teknik menulis kreatif yang mengajak penulis tidak sekadar “memberitahu” pembaca, tetapi juga “memperlihatkan” suasana, emosi, dan peristiwa melalui detail-detail yang hidup.
Di hadapan para santri, Muhammad Subhan menjelaskan bahwa kemampuan menulis tidak lahir secara instan, melainkan dibangun melalui kebiasaan membaca, mengamati, dan menuliskan pengalaman sehari-hari.
Menurutnya, santri memiliki potensi besar menjadi penulis karena terbiasa dekat dengan tradisi keilmuan, kitab, dan nilai-nilai keislaman yang kaya akan hikmah.
Ia juga menekankan bahwa menulis merupakan bagian penting dari dakwah dan syiar Islam di era digital. Melalui tulisan, gagasan dan nilai-nilai kebaikan dapat menjangkau masyarakat lebih luas tanpa dibatasi ruang dan waktu.
Santri, kata dia, tidak hanya perlu pandai berbicara di mimbar, tetapi juga mampu menyampaikan pemikiran melalui tulisan yang mencerahkan.
“Menulis adalah jalan untuk merawat gagasan dan meninggalkan jejak pemikiran. Banyak ulama dikenang dunia karena karya-karya tulisnya. Santri hari ini harus berani menulis pengalaman, pandangan, dan nilai-nilai yang mereka pelajari di pesantren,” ujar Muhammad Subhan.
Ia turut mengajak para peserta untuk menjadikan menulis sebagai budaya harian di lingkungan pesantren. Menurutnya, kebiasaan sederhana seperti menulis catatan harian, puisi, cerpen, opini, maupun refleksi pembelajaran dapat menjadi latihan penting untuk membangun kepercayaan diri dan daya pikir kritis santri.
Sementara itu, Fauzi menyampaikan apresiasi tinggi kepada pengurus Pondok Pesantren Darut Thalib yang dinilai konsisten menghadirkan kegiatan penguatan literasi bagi santri.
Ia menilai keterampilan menulis merupakan salah satu modal penting bagi generasi muda pesantren untuk menyebarkan syiar Islam hingga ke tingkat internasional.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi pondok pesantren maupun santri. Jika para santri pandai menulis, ini akan menjadi ladang kreativitas yang membawa nama pesantren dikenal dunia,” ujarnya dalam sambutan.
Fauzi juga membakar semangat santri yang menjadi peserta workshop agar mengikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh. Ia mengingatkan para santri untuk menghargai perjuangan orang tua yang telah bekerja keras demi pendidikan anak-anak mereka di pesantren.
Pimpinan Pondok Pesantren Darut Thalib, Ustadz Bobi Gustiadi, menyambut baik dukungan penuh dari pihak Kementerian Agama Kota Solok terhadap kegiatan tersebut.
Ia berharap program literasi seperti ini dapat terus berlanjut dan melahirkan santri-santri yang tidak hanya kuat dalam pemahaman agama, tetapi juga mampu berkarya melalui tulisan.
“Terima kasih kepada Pak Kasi yang sangat antusias dan mengapresiasi kegiatan workshop literasi yang kami laksanakan. Mudah-mudahan kegiatan ini menjadi motivasi bagi para santri untuk terus belajar dan berkarya,” tuturnya menutup sesi pembukaan acara. (han/insertrakyat)










