Oleh Muhammad Subhan
SAYA senang melihat mahasiswa yang bersemangat mengikuti kompetisi. Apa pun bentuk kompetisinya.
Itu pertanda mereka kreatif, mau menguji potensi diri, dan berani maju ke tengah gelanggang. Tidak sekadar jago kandang.
Mahasiswa-mahasiswa seperti itu biasanya kelak menemukan jalan suksesnya. Mereka belajar menghadapi tekanan, membaca peluang, dan tidak mudah menyerah ketika berhadapan dengan kebuntuan.
Kompetisi, bagi mereka, bukan sekadar menang atau kalah, melainkan proses menempa diri.
Semangat kompetisi itu tidak muncul tiba-tiba di bangku kuliah. Ia perlu dipupuk sejak sekolah rendah. Pelan-pelan. Diberi ruang. Dihargai prosesnya. Sampai akhirnya seorang anak menemukan apa yang ia sukai, apa yang membuatnya bertahan, bahkan ketika lelah dan gagal datang berulang kali.
Di situlah passion menemukan bentuknya.
Kemarin, saya membaca berita di media massa. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kian menggila. Dunia kerja sedang tidak baik-baik saja.
Salah satu penyebabnya adalah perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang melesat cepat. Banyak pekerjaan manusia mulai tergantikan. Industri pun menyesuaikan diri dengan ritme baru itu.
Dalam situasi seperti ini, manusia dituntut untuk tidak hanya bekerja, tetapi juga beradaptasi. Siapa yang tidak siap berubah, akan tertinggal. Bahkan, bisa tersingkir. Maka, semangat berkompetisi yang telah dipupuk sejak dini menjadi semacam perisai. Ia melatih keberanian mengambil risiko, kemampuan membaca arah perubahan, dan kecakapan menciptakan peluang.
Kompetisi tidak lagi sekadar menjadi yang terbaik di antara banyak orang. Ia wujud kemampuan bertahan hidup. Bahkan, melampaui itu: kemampuan menciptakan kehidupan.
Di tengah pintu-pintu kerja yang mulai menyempit, mereka yang terbiasa berkompetisi cenderung lebih berani membuka pintu baru. Menciptakan lapangan kerja, merintis usaha, atau menemukan jalan alternatif yang tidak terpikirkan sebelumnya.
Kalau tidak berani melangkah ke arah itu, kita akan mudah terjebak dalam keputusasaan. Sementara kebutuhan hidup terus meningkat. Harga-harga melambung tinggi. Hidup tidak pernah menunggu kesiapan kita. Ia terus berjalan, dengan atau tanpa kita.
Karena itu, semangat berkompetisi tidak boleh dipandang sempit sebagai ajang pamer kemampuan. Ia adalah latihan mental. Latihan keberanian. Latihan menghadapi kegagalan.
Orang yang terbiasa berkompetisi biasanya juga terbiasa kalah. Dan justru dari kekalahan itulah mereka belajar banyak hal yang tidak diajarkan di ruang kelas.
Saya melihat semangat berkompetisi itu di kampus Universitas Jambi (UNJA), Rabu, 15 April 2026. Puluhan mahasiswa dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) mengikuti seleksi Pekan Seni Mahasiswa tingkat fakultas. Mereka memilih cabang seni yang diminati untuk diperlombakan hingga ke tingkat nasional.
Saya bersama Dr. Sulaiman Juned, S.Sn., M.Sn., yang sedang menjalani Tur Literasi Sumatera Komunitas Seni Kuflet di Provinsi Jambi, diundang menjadi juri tamu. Sebuah kehormatan, tentu.
Dan saya bersama beberapa dosen UNJA lainnya menjadi juri untuk cabang cerita pendek (cerpen) dan puisi. Sementara Sulaiman Juned menjadi juri monolog dan baca puisi.
Di momen itu, yang saya lihat bukan sekadar lomba. Saya melihat keberanian anak-anak muda untuk tampil. Unjuk kemampuan.
Di titik itulah kompetisi menjadi lebih substantif.
Ia tidak semata diukur dari capaian simbolik seperti piala, melainkan dari keberanian individu untuk tampil, mengemukakan karya secara terbuka, serta kesediaan menerima penilaian secara objektif.
Proses inilah yang berperan dalam pembentukan karakter.
Semangat berkarya berjalan seiring dengan semangat berkompetisi. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Kompetisi tanpa karya hanya akan menjadi hampa. Sebaliknya, karya tanpa keberanian untuk diuji akan kehilangan daya hidupnya.
Dunia membutuhkan orang-orang yang tidak hanya mampu mencipta, tetapi juga berani memperlihatkan ciptaannya kepada publik.
Dalam jangka panjang, inilah yang menjadi modal penting bagi kesuksesan karier. Bukan semata nilai akademik, tetapi daya juang, kreativitas, dan ketangguhan mental.
Dunia kerja hari ini, dan terlebih lagi di masa depan, lebih menghargai mereka yang adaptif, inovatif, dan berani mengambil inisiatif.
Mahasiswa yang terbiasa berkompetisi akan lebih siap menghadapi dunia yang penuh ketidakpastian. Mereka tidak menunggu kesempatan datang, tetapi menciptakannya. Mereka tidak hanya mengikuti arus, tetapi berani melawan arus ketika diperlukan.
Kampus, karena itu, perlu terus membuka ruang-ruang kompetisi yang sehat. Bukan sekadar seremonial, tetapi benar-benar menjadi wadah pembelajaran. Dosen dan institusi pendidikan harus memberi dukungan, bukan justru membebani dengan hal-hal administratif yang kerap menggerus energi kreatif mahasiswa.
Kita tidak tahu seperti apa wajah dunia kerja sepuluh atau dua puluh tahun ke depan. Namun, satu hal yang pasti, mereka yang terlatih untuk berkompetisi, berkarya, dan bangkit dari kegagalan akan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan.
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat dan penuh anomali, mungkin yang paling kita butuhkan bukan sekadar kecerdasan, tetapi juga keberanian. Keberanian untuk mencoba, gagal, bangkit, dan mencoba lagi.
Dan kompetisi, dalam pengertian yang paling sehat, adalah salah satu cara terbaik untuk melatih keberanian itu.
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.
Follow berita Insert Rakyat di whatsapp channel





















