Oleh Muhammad Subhan
SALAH seorang doktor yang saya kenal dekat adalah Sulaiman Juned. Meski bergelar akademik doktor seni, ia tak mau dipanggil doktor. “Doktor hanya di ruang kelas,” katanya kepada saya, suatu hari di meja kopi.
Kalimat itu diulanginya lagi di hadapan 200-an mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Bahasa dan Sastra, FKIP, Universitas Jambi (UNJA), Selasa, 14 April 2026. Saya juga berada di kampus itu di hari yang sama.
Di luar kelas, ia lebih senang disapa “Adun”. Adun, dalam bahasa Aceh, berarti Abang. Maka, semua mahasiswa yang dididiknya memanggil Adun. Bukan Bapak. Termasuk orang lain di luar kampus yang kenal dekat dengannya.
Bagi yang belum kenal, kadang sapaan Adun itu digandeng dengan kata Bapak. “Kami persilakan kepada Bapak Adun,” kata pembawa acara. “Bapak Adun”, berarti bapak dan abang. Atau bapaknya si abang. Setelah tahu artinya, orang yang salah ucap tergelak. Setelah itu akrab dengan sapaan “Adun” saja, tidak pakai “bapak”.
Itulah uniknya Sulaiman Juned. Ia tak melepaskan identitas kultural ke-Aceh-annya meski bermukim di tanah rantau, khususnya di Padang Panjang.
“Saya ini orang Minang asal Aceh,” guraunya setiap kali orang bertanya ia berasal dari mana.
Secara administratif, di KTP-nya tersurat ia warga Padang Panjang. Secara kultural ia orang Aceh yang merantau, bekerja, dan hidup di Ranah Minang.
Bukan saja soal sapaan “Adun” yang saya amati, tapi caranya berpakaian. Sebagai seorang dosen bergelar doktor, nyaris tidak pernah saya melihat ia memakai jas atau kemeja berdasi. Pakaiannya selalu santai. Sering memakai kaus oblong, celana panjang semi-jeans. Sesekali ia memakai kaus berkerah. Mengenakan topi layaknya anak muda, dan di pundaknya tersandang sebuah tas kecil.
Tidak hanya pakaian, saya amati pula penutup kakinya. Nyaris tak pernah saya lihat ia memakai sepatu hitam berkilat layaknya pejabat. Jika tidak terlalu formal, ia lebih sering memakai terompah bertali merek Eiger.
Kalau acara formal, seperti di FKIP UNJA itu, ia memakai baju batik, bersepatu santai ala mahasiswa. Batiknya pun batik sederhana. Selebihnya, ia hanya memakai kaus, sandal bertali, topi baseball cap (topi bisbol) dengan ornamen kain motif Aceh, layaknya seorang seniman.
Ya, Sulaiman Juned seorang seniman sejati. Ia praktisi yang juga akademisi.
Di ruang kelas, ia tidak hanya mengajarkan teori, tetapi paham praktik. Ia pelaku seni. Ratusan sudah pementasan teater ia lakoni, baik sebagai aktor maupun sutradara, termasuk sebagai pembaca puisi, dan penulis sastra.
Kedatangannya ke Jambi dalam rangka memenuhi undangan Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Bahasa dan Sastra, FKIP, Universitas Jambi (UNJA). Mengisi materi Workshop Kreativitas Sastra dengan tema “Keaktoran dan Puisi: Dua Wajah Ekspresi Sastra”.
Selain Sulaiman Juned, turut tampil sebagai narasumber Dra. Hj. Yusra D., M.Pd., seorang penulis dan dosen FKIP UNJA. Bu Yusra mengupas kiat menulis karya sastra. Dan secara khusus, ia menghadiahkan buku karyanya kepada saya berjudul “Perang Panta: Sejarah yang Terlewatkan”. Buku yang menarik.
Panta, sebuah daerah di Sungai Pua, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Bu Yusra berkampung halaman di sana.
Workshop yang diketuai Dimas Anugrah Adiyadmo, M.Pd. dan dihadiri Dr. Sophia Rahmawati, S.Pd., M.Pd. (Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNJA) serta sejumlah dosen ini, secara resmi dibuka Dr. Tubagus Zam Zam Al Arif, S.Pd., M.Pd. (Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra, FKIP UNJA).
Kegiatan tersebut juga merupakan bagian dari rangkaian Tur Literasi Sumatera Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang di Provinsi Jambi, yang berlangsung mulai 12 April hingga 19 April 2026. Tahun lalu, Kuflet tur ke Aceh. 11 kabupaten/kota terjangkaui.
Pada materinya di FKIP UNJA, “Adun” Sulaiman Juned memaparkan secara mendalam mengenai proses kreatif seorang aktor. Baginya, menjadi aktor bukan sekadar menghafal naskah lalu naik ke panggung. Seorang aktor harus mampu membangun bentrokan emosi melalui perangkat raga. Perangkat itu tubuh, gerak, pernapasan, dan kekuatan.
“Tubuh itu seamsal tanah liat,” tegasnya. Tubuh harus dibebaskan dan dimerdekakan agar mampu menjadi kendaraan imaji dalam menyampaikan dialog. Kadang kala, bukan gerak yang mengikuti pikiran, tetapi pikiranlah yang harus mengikuti gerak demi mencapai reaksi refleks yang jujur.
Adun juga menekankan pentingnya penguasaan vokal dan napas. Pusat kekuatan tubuh dalam mengusung pernapasan terletak pada tulang belakang. Seorang calon aktor perlu melatih artikulasi, diksi, serta tangga resonansi agar mampu melahirkan pengucapan yang sempurna. Semua itu harus dibalut dengan olah sukma, sebuah kesanggupan mengerahkan kekuatan rohani dan konsentrasi untuk menciptakan peran yang hidup.
“Aktor harus jujur dengan memori emosionalnya,” tambahnya. Dengan kejujuran itu, emosi seperti marah, sedih, hingga penderitaan tidak sekadar menjadi akting belaka, melainkan pengalaman yang nyata di atas panggung.
Tak berhenti di seni peran, Adun juga membedah teknik menulis puisi. Menurutnya, puisi lahir dari keberanian “merebut” gagasan melalui teknik Peta Pasang Kata. Penulis harus berani memasang kata secara bebas namun imajinatif, serta mengelola idiom-idiom baru. Pemilihan diksi yang padat, permainan bunyi, hingga tipografi harus diperhatikan secara sosiologis dan psikologis agar pesan dalam puisi tersampaikan dengan mempesona.
Baginya, proses menulis tidak berhenti saat pena diletakkan. “Tulislah puisi, lalu koreksi dengan mengedit. Lakukan revisi hingga mencapai bentuk yang sempurna,” pesannya kepada para mahasiswa.
Terakhir, “Adun” Sulaiman Juned mengulas seni membaca puisi. Ia membedakan antara deklamasi yang cenderung teatrikal, baca puisi yang tetap setia pada teks, hingga musikalisasi dan dramatisasi puisi.
Satu pesan penting darinya adalah kehati-hatian dalam memilih teks. Ada “Puisi Podium” yang memang diciptakan untuk karakter bunyi yang meledak, namun ada pula “Puisi Kamar” yang lebih nikmat dibaca dalam hening untuk meresapi pesannya.
Sementara dalam membaca puisi, vokal bukan hanya soal kerasnya suara, tetapi permainan ritme, tempo dramatik, dan pemanfaatan jeda (pause). Ekspresi yang lahir haruslah menjadi kekuatan yang mampu memberikan sugesti kepada penonton, sehingga pembacaan puisi tersebut tidak hanya terdengar, tapi juga terasa hingga ke dalam sukma.
Demikianlah penampilan “Adun” Sulaiman Juned yang saya reportase hari itu. Dari apa yang saya amati, seorang doktor tidak harus dibatasi oleh sekat-sekat formalitas yang kaku. Seperti sosok “Adun” Sulaiman Juned itu.
Saya belajar bahwa seni dan akademik adalah dua keping mata uang yang saling menguatkan; bahwa kerendahan hati untuk tetap menjadi “abang” bagi mahasiswa justru membuka pintu kreativitas yang lebih lebar.
“Adun” Sulaiman Juned telah menunjukkan bahwa gelar hanyalah atribut di ruang kelas, namun dedikasi dan kejujuran dalam berkarya adalah identitas sejati yang akan terus hidup di luar sana, dalam setiap panggung dan setiap karya yang ia lahirkan.
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.
Follow berita Insertrakyat.com ( whatsapp channel)
























