Oleh Muhammad Subhan

DI SEBUAH kelas puisi yang saya ampu di sebuah sekolah, seorang siswa dengan kritis bertanya, “Di era digital hari ini, untuk apa menulis puisi?”

Lama saya renungi pertanyaannya itu. Ada sebuah kegelisahan di sana.

Siswa itu tidak semata bertanya tentang puisi, tetapi lebih tepatnya mempertanyakan posisi manusia di tengah dunia yang serba cepat dan serba instan. “Masihkah puisi penting?”

Kita tahu, gawai tak pernah tidur di saat kita tertidur. Notifikasi di benda pipih pintar itu muncul tanpa jeda. Dalam arus seperti itu, puisi terasa menjauh. Seolah usang. Atau setidaknya, tak lagi dianggap penting.

Namun, justru di situlah letak persoalannya.

Menulis puisi di tengah gempuran kecepatan digital bukan sekadar upaya merangkai kata yang indah. Menulis puisi adalah sebuah tindakan perlawanan kultural, cara untuk menolak tunduk sepenuhnya pada logika algoritma.

Ketika dunia digital memaksa kita berpikir cepat, merespons seketika, dan sering kali tanpa kedalaman, puisi hadir sebagai ruang jeda.

Puisi mengajak kita berhenti, meski hanya sejenak, untuk menarik napas panjang dan menatap kembali realitas dengan lebih jernih.

Dalam lanskap yang riuh oleh potongan-potongan informasi pendek, puisi menawarkan sesuatu yang langka bernama “kedalaman”.

Bahasa di media sosial kian hari kian mengalami penyederhanaan, bergerak ke arah yang fungsional, bahkan kadang banal. Kata-kata dipilih bukan karena ketepatannya, melainkan karena potensi viralnya.

BACA JUGA :  Mendesak Penguatan Ekosistem Literasi dari Hulu ke Hilir

Dalam situasi seperti itu, menulis puisi menjadi semacam ikhtiar merawat bahasa agar tidak kehilangan jiwanya.

Puisi membuka ruang bagi metafora, simbol, dan lapisan tafsir yang tak bisa direduksi menjadi sekadar slogan.

Lebih jauh, puisi juga bekerja sebagai katarsis. Di era ketika orang berlomba menampilkan versi terbaik dirinya di ruang publik digital, yang sering kali semu, puisi justru menyediakan ruang privat bagi kejujuran emosional.

Kesedihan, kegelisahan, bahkan kehampaan, menemukan bentuknya dalam larik-larik yang mungkin tak sempurna, tetapi jujur.

Di sinilah puisi berfungsi sebagai cara menjaga kewarasan; ia mengeluarkan apa yang tak sanggup diucapkan secara langsung.

Ada yang menyebut penyair kerap dekat dengan kegelisahan, bahkan “ketidakwarasan”. Tetapi kita perlu membedakan antara ketidakwarasan klinis dan kebebasan imajinasi. Puisi memang kerap melampaui logika sehari-hari. Jika dunia digital bekerja dengan rumus kepastian, puisi justru merayakan kemungkinan.

Puisi memberi izin kepada pikiran untuk menyimpang sejenak, untuk melihat realitas dari sudut yang tak biasa.

Dan justru di situlah ia menyelamatkan kita.

Di dunia yang terlalu “waras”, dalam arti mekanis, terukur, dan seragam, sering kali manusia kehilangan sisi kemanusiaannya. Puisi mengembalikan itu.

Puisi mengingatkan bahwa manusia bukan sekadar data, bukan sekadar angka statistik, melainkan makhluk yang merasakan, mengingat, dan menafsirkan hidupnya sendiri.

BACA JUGA :  Membangun Nalar di Sebuah Ruang Seminar

Puisi juga memiliki peran penting sebagai dokumentasi batin. Sejarah mungkin mencatat angka korban, tanggal kejadian, atau keputusan politik, tetapi puisi mencatat bagaimana rasanya menjadi manusia di dalam peristiwa itu.

Puisi menyimpan getaran emosi yang tak bisa direkam oleh laporan apa pun. Dalam pengertian ini, puisi adalah arsip kemanusiaan.

Di tengah polarisasi digital yang kian tajam, di mana orang mudah terpecah oleh perbedaan pandangan, puisi juga bekerja sebagai jembatan empati. Sebuah puisi yang baik mampu membuat pembaca merasakan apa yang dirasakan penulisnya, melintasi batas geografis, identitas, bahkan ideologi.

Puisi mempertemukan kita pada satu titik yang sama; “sebagai manusia”.

Ironisnya, di saat perannya begitu penting, puisi justru sering kali dipinggirkan secara ekonomi. Puisi belum ditempatkan sebagai pelengkap kehidupan. Honorarium kerap tak sebanding dengan proses kreatif yang dilalui seorang penyair. Era digital memperparah keadaan; ketika puisi bisa diakses gratis di mana-mana, nilai ekonominya kian tergerus.

Namun, apakah itu berarti puisi kehilangan denyut batinnya?

Tidak sepenuhnya.

Nilai puisi memang tidak selalu terletak pada rupiah yang diterima hari ini, sebaliknya pada kemungkinan yang dibukanya di masa depan, baik dalam bentuk pengakuan, jejaring, maupun pengaruh kultural.

Meski demikian, kita tetap perlu memikirkan ekosistem yang lebih adil, yaitu ruang publikasi yang sehat, dukungan kebijakan, hingga model apresiasi baru yang memungkinkan penyair hidup dari karyanya tanpa harus kehilangan martabat.

BACA JUGA :  Selamat Jalan, Kuyut…

Dalam konteks Indonesia, perbincangan tentang puisi juga menarik ketika kita melihat adanya dua momentum perayaan, yaitu Hari Puisi Nasional setiap 28 April dan Hari Puisi Indonesia pada 26 Juli. Keduanya merujuk pada sosok yang sama, Chairil Anwar, tetapi lahir dari semangat yang berbeda. Yang satu dari tradisi sejarah, yang lain dari deklarasi sekelompok komunitas.

Sebagian melihat dualisme ini sebagai kebingungan, tetapi sesungguhnya ia bisa dibaca sebagai kekayaan.

April memberi ruang refleksi, sementara Juli membuka peluang selebrasi. Dua momentum ini, jika dimanfaatkan dengan baik, justru memperluas ruang hidup puisi di tengah masyarakat.

Pertanyaan siswa di awal esai ini tidak benar-benar meminta jawaban praktis, melainkan cermin dari kegelisahan generasi yang tumbuh dalam dunia serba cepat. Dan mungkin, jawaban jujur bukan argumentasi panjang, justru pengalaman itu sendiri: duduk sejenak, menulis, dan merasakan.

Ya, sesungguhnya puisi tidak pernah benar-benar membutuhkan pembenaran.

Puisi hanya membutuhkan keberanian untuk tetap ditulis.

Di dunia yang bising, bagi seorang penyair, menulis puisi adalah cara paling manusiawi untuk tetap menjadi manusia.

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis

Follow Berita Insertrakyat.com di whatsapp channel