Oleh Muhammad Subhan
“Berapa buku yang Anda miliki di rumah?” tanya seorang dosen yang menjadi pembicara pada seminar bahasa dan sastra di sebuah perguruan tinggi.
Ruangan hening.
Acara itu diikuti lebih dari seratus mahasiswa semester dua hingga lima. Di tengah-tengah mereka, saya duduk menyimak.
Sang dosen mengulang pertanyaan, kemudian menambah sebaris kalimat, “Dan berapa judul buku yang Anda baca tahun ini?”
Sejenak, terdengar bisik satu-dua mahasiswa. Setelah itu, ruangan kembali senyap.
Karena tak menemukan jawaban, si dosen mendekat ke bangku salah seorang mahasiswa, menyodorkan mikrofon, lalu mengajukan pertanyaan yang sama.
Mahasiswa itu tampak kikuk. “Dua buku,” jawabnya pelan. Buku-buku yang disebutkan itu fiksi bergenre populer.
Angka “dua buku” sesungguhnya masih lumayan daripada tidak sama sekali.
Namun, di dalam hati saya bertanya, mengapa dari sekian banyak mahasiswa, hanya satu yang berani menjawab? Itu pun setelah “dipaksa”.
Seusai seminar, di sebuah kedai kopi, si dosen bercerita tentang betapa susahnya mengajak mahasiswa berdiskusi, apalagi membaca. Buku sering kali dibaca sebatas untuk memenuhi tugas, bukan karena kesadaran intelektual. Membaca tidak lagi menjadi kebutuhan, alih-alih kewajiban yang ditunaikan dengan keterpaksaan.
Yang lebih memprihatinkan, institusi yang saya kunjungi hari itu adalah kampus pencetak calon guru. Bagaimana mungkin seorang calon pendidik, yang kelak menjadi sumber pengetahuan di depan kelas, tidak akrab dengan buku? Bagaimana seorang guru bisa menumbuhkan minat baca jika dirinya sendiri tidak memiliki kegemaran membaca?
Di titik ini, persoalan membaca tidak lagi sepele.
Membaca bukan sekadar hobi, melainkan fondasi berpikir. Membaca sejak dini membentuk cara seseorang memahami lingkungan, mengasah empati, sekaligus memperkaya bahasa.
Anak-anak yang terbiasa membaca akan lebih mudah menyusun gagasan, mengolah informasi, dan menilai sesuatu secara kritis.
Kebiasaan itu seharusnya kian mengakar hingga jenjang perguruan tinggi, bukan justru meluruh.
Sayangnya, realitas menunjukkan arah sebaliknya. Segelintir mahasiswa datang ke kampus tanpa bekal budaya literasi yang kuat. Mereka lebih terbiasa dengan informasi yang serba cepat, ringkas, dan instan.
Dalam riuh rendah era digital, buku sering kali kalah bersaing dengan gawai. Membaca buku dianggap menyita waktu, sementara media digital menawarkan kecepatan yang menggiurkan.
Lalu muncul pembenaran, apakah membaca digital tidak cukup?
Asumsi ini sering dijadikan tameng. Seolah-olah membaca di layar ponsel dapat menggantikan kedalaman membaca buku. Padahal, keduanya memiliki karakter kognitif yang berbeda.
Bacaan digital cenderung fragmentaris, terputus-putus, dan dibaca sambil lalu. Pembaca sering terdistraksi notifikasi atau sekadar memindai (skimming) tanpa benar-benar menyerap isi.
Sebaliknya, membaca buku, terutama buku cetak, menuntut ketekunan. Sebuah buku mengajak pembaca tenggelam dalam satu alur pikiran, mengikuti argumentasi penulis secara utuh, dan merenungkan nilai di baliknya.
Di situlah kedalaman terbentuk.
Membaca buku bukan sekadar memperoleh informasi. Membaca buku sebuah proses dialektika berpikir.
Karena itu, membaca buku tetap relevan dan mendesak di tengah arus digital. Bukan berarti menolak teknologi, justru merupakan upaya menempatkan buku sebagai sumber utama pembentukan nalar yang mendalam.
Tanpa itu, kita hanya akan menjadi konsumen informasi, bukan pengolah pengetahuan.
Namun, membaca saja tidak cukup. Persoalan berikutnya, apa yang dibaca?
Menentukan bacaan berkualitas merupakan langkah krusial agar investasi waktu dan energi memberikan dampak maksimal.
Di tengah banjir informasi, kualitas sebuah buku tidak ditentukan oleh popularitasnya, sebaliknya oleh kedalaman materi, kredibilitas sumber, dan relevansinya.
Cara paling mudah menelisik kualitas buku adalah meninjau kredibilitas penulis dan penerbit. Penulis yang memiliki otoritas atau pengalaman panjang cenderung menghasilkan karya yang dapat dipertanggungjawabkan.
Selain itu, reputasi penerbit menjadi penjamin mutu karena melalui proses penyuntingan dan verifikasi yang ketat. Penerbit kredibel tidak akan mempertaruhkan nama baiknya demi karya yang lemah secara substansi.
Selanjutnya, pembaca perlu melakukan evaluasi teknis. Membaca secara acak beberapa halaman dapat memberikan gambaran jujur mengenai gaya bahasa dan kejelasan argumen.
Buku berkualitas biasanya menawarkan kebaruan ide atau perspektif yang menantang cara berpikir, bukan sekadar mengulang kredo umum. Struktur yang sistematis dalam daftar isi juga mencerminkan kerangka berpikir penulis yang terorganisasi.
Ulasan dari komunitas literasi atau rekomendasi tokoh kompeten juga dapat menjadi penyaring tambahan. Namun, kualitas tertinggi sebuah buku tetap bersifat subjektif: sejauh mana ia menjawab kebutuhan pembacanya? Buku yang mampu menambah kosakata, memperluas wawasan, atau mengguncang cara pandang adalah buku yang benar-benar “bekerja”.
Kembali ke ruang seminar yang hening itu, saya membayangkan masa depan pendidikan: jika calon guru saja tidak memiliki kedekatan dengan buku, bagaimana nasib generasi berikutnya?
Literasi tidak bisa dibangun hanya dengan slogan atau spanduk di gerbang sekolah, tetapi dengan keteladanan. Guru yang membaca akan melahirkan murid yang membaca.
Kampus harus berhenti menjadi sekadar “pabrik ijazah” dan kembali menjadi kawah candradimuka pemikiran. Perguruan tinggi memegang tanggung jawab moral untuk memulihkan martabat buku di tangan mahasiswa.
Jika tradisi membaca buku ditinggalkan oleh kaum intelektualnya sendiri, maka kita sedang bergerak menuju masa depan yang dangkal, di mana masyarakatnya mudah terombang-ambing oleh sentimen dan informasi palsu tanpa kemampuan untuk mengujinya secara kritis.
Memulihkan budaya baca di lingkungan calon pendidik adalah investasi tunggal yang tak bisa ditunda. Kita membutuhkan guru-guru yang tidak hanya mampu mengajar, tetapi juga guru yang mampu “menularkan” gairah intelektual. Hanya dengan guru yang tekun membolak-balik halaman buku, kita bisa berharap memiliki generasi yang tidak hanya mahir menatap layar, tetapi juga mampu menatap masa depan dengan nalar.
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis
Editor : Supriadi Buraerah. Follow whatsapp channel





