Oleh Muhammad Subhan

SUDAH enam belas tahun saja usia Harian Rakyat Sumbar. Ini koran “adiknya” Padang Ekspres. Di awal terbitnya, 1 Juni 2010, kawan-kawan wartawan sering menyebutnya begitu. Meski demikian, Rakyat Sumbar koran independen. Masih satu payung dengan grup Jawa Pos.

Saya senang pernah mengasuh salah satu halamannya setiap pekan. Halaman itu, halaman Budaya dan Sastra. Seingat saya sejak 2016–2020. Pemrednya ketika itu, Firdaus Abie, menghubungi saya, meminta kesediaan saya menjadi redaktur tamu.

Firdaus Abie wartawan senior. Ia juga penulis dan pegiat literasi. Ia gigih membawa Rakyat Sumbar masuk sekolah dengan berbagai program literasi. Dia mengajak guru-guru menulis dan memberikan halaman Pendidikan untuk diisi para guru.

Pimpinan Rakyat Sumbar lainnya pada masa itu, Revdi Iwan Syahputra atau akrab disapa Ope, juga menghubungi saya. Ia datang ke Padang Panjang, didampingi Redpel Jon Kennedi alias Jonke. Kami ngopi di sebuah warung kopi, dan ia menceritakan pentingnya halaman Sastra. Sastra menjadikan sebuah koran lebih berwarna, selain tentu lebih humanis karena menyuguhkan banyak cerita.

Tak heran pula, karena Rakyat Sumbar gigih menyuarakan literasi, beberapa kali koran ini menerima Anugerah Literasi dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.

Di saat mengampu halaman itu, saya usulkan kepada redaksi bahwa Rakyat Sumbar perlu memberi ruang kepada penulis lain di luar Sumbar, terutama untuk mengisi cerpen dan puisi di halaman Sastra. Tentu dengan kurasi ketat. Cerpen dan puisi penulis yang baru belajar menulis, terutama dari kalangan pelajar dan mahasiswa, bisa diberi wadah di halaman Apresiasi.

BACA JUGA :  Perguruan Tinggi, Potret Lulusan, dan Ilusi Lapangan Kerja

Usulan saya itu disetujui. Maka, saya umumkanlah di media sosial tentang penerimaan naskah cerpen, puisi, dan esai untuk Rakyat Sumbar edisi akhir pekan. Siapa sangka, respons positif datang dari banyak penulis. Surel yang menampung naskah halaman Sastra membanjir.

Maka, setiap pekan, edisi Sabtu–Minggu, terbitlah cerpen dan puisi dengan kurasi ketat dari penulis-penulis Indonesia, termasuk penulis Sumatera Barat.

Saya masih ingat bagaimana antusiasme para penulis mengirimkan karya mereka. Ada yang berasal dari kampus-kampus besar di Pulau Jawa, ada pula yang menulis dari kota-kota kecil yang jauh dari pusat penerbitan dan media nasional. Halaman Sastra Rakyat Sumbar menjadi semacam ruang perjumpaan. Di sana, nama-nama yang telah dikenal pembaca hadir berdampingan dengan penulis muda yang baru pertama kali melihat karyanya dimuat di koran.

Bagi sebagian orang, satu halaman sastra di koran mungkin terlihat biasa saja. Namun, bagi para penulis pemula, halaman itu sering kali menjadi pintu pertama yang membuka jalan panjang kepenulisan mereka. Banyak penulis lahir dari ruang-ruang semacam itu. Mereka belajar disiplin menulis, belajar menerima penolakan, belajar memperbaiki karya, lalu tumbuh menjadi penulis yang matang.

Kini, tantangan media massa jauh berbeda dibandingkan enam belas tahun lalu. Dunia digital mengubah banyak hal. Kecepatan informasi bergerak melampaui ritme koran harian. Media sosial membuat siapa saja dapat menjadi penyampai berita. Pembaca berpindah ke layar ponsel. Generasi muda makin akrab dengan video pendek dibandingkan lembaran koran.

BACA JUGA :  Sudah Tujuh Tahun Kami Bergerak, Tak Ada Sesuatu yang Membuat Kami Kuat

Dalam situasi seperti itu, banyak media cetak tumbang. Sebagian mengurangi jumlah halaman. Sebagian lagi berhenti terbit. Namun, ada pula yang memilih bertahan dengan cara beradaptasi. Bukan melawan perubahan, sebaliknya berdamai dengan perubahan itu sendiri.

Saya melihat Rakyat Sumbar berada pada jalur tersebut. Kreatif, inovatif, dan kolaboratif. Tiga kata yang bukan sekadar slogan, melainkan kebutuhan agar media tetap hidup. Kreatif dalam menyajikan konten yang dekat dengan masyarakat. Inovatif dalam memanfaatkan teknologi digital. Kolaboratif dengan sekolah, kampus, komunitas literasi, pegiat budaya, dan berbagai elemen masyarakat.

Saya percaya, bahwa sesungguhnya kekuatan sebuah koran tidak hanya terletak pada berita yang disajikan, tapi juga pada kemampuannya membangun ekosistem pengetahuan. Koran bukan semata produk informasi. Koran juga ruang pendidikan publik. Tempat orang belajar memahami realitas, belajar berpikir kritis, dan belajar menghargai keberagaman pandangan.

Di sinilah pentingnya tetap memberi ruang kepada penulis lepas. Ruang itu jangan sampai hilang hanya karena ukuran halaman menyusut atau platform berpindah ke digital. Sebab dari ruang itulah lahir calon-calon wartawan, calon penulis, calon esais, dan calon pemikir yang kelak akan mengisi kehidupan intelektual masyarakat.

Media yang sehat tidak hanya memproduksi berita, tapi juga melahirkan generasi penulis baru. Ketika seorang pelajar melihat namanya dimuat di koran untuk pertama kali, sesungguhnya media sedang menanam benih masa depan. Mungkin beberapa tahun kemudian ia menjadi wartawan. Mungkin menjadi guru. Mungkin menjadi sastrawan. Mungkin menjadi pemimpin yang memahami pentingnya literasi.

Enam belas tahun berlalu, dan Rakyat Sumbar telah menyalakan api literasi itu. Tanggal 1 Juni 2026 kemarin, usianya genap enam belas tahun. Di dalamnya ada kerja keras, pengorbanan, keyakinan, kegelisahan, persahabatan, dan semangat yang terus menyala dari generasi ke generasi.

BACA JUGA :  Launching Buku “Transformasi dan Wacana di Era Disrupsi”, Rasmin Jaya Ungkap Proses Kreatif Menulis

Usia enam belas tahun bukanlah usia yang pendek bagi sebuah media. Apalagi di tengah gelombang perubahan yang begitu cepat. Bertahan selama itu berarti melewati berbagai tantangan ekonomi, perubahan perilaku pembaca, perkembangan teknologi, dan dinamika industri media yang terus bergerak.

Teknologi akan berubah, namun kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang akurat, terpercaya, dan bertanggung jawab tidak pernah berubah. Saya juga percaya itu. Karena itu pula hingga hari ini koran cetak tetap dipertahankan.

Kita paham, di tengah banjir informasi, yang paling dibutuhkan masyarakat bukan sekadar informasi yang cepat, melainkan informasi yang benar. Kecepatan tanpa akurasi hanya akan melahirkan kebisingan. Sebaliknya, media yang menjaga integritas akan tetap menemukan pembacanya.

Sebagai orang yang pernah “berada di dalam” meski hanya sebagai redaktur tamu, saya menitip harapan, pada usia yang ke-16 ini, semoga Rakyat Sumbar terus merakyat. Teruslah dekat dengan pembaca. Teruslah memberi ruang kepada penulis muda. Teruslah menjaga mutu jurnalisme. Dan teruslah menjadi rumah bagi gagasan-gagasan baik yang lahir dari masyarakat.

Selamat ulang tahun ke-16, Harian Rakyat Sumbar. Semoga api yang dinyalakan enam belas tahun lalu tetap menyala, menerangi jalan panjang literasi, jurnalisme, dan peradaban di ranah ini. []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis