Oleh Muhammad Subhan

MENARIK membaca esai Yurnaldi, wartawan senior Sumatra Barat, di laman Facebook-nya berjudul “Ketika Jurnalistik Menjadi Asing di Sekolah”, Senin, 18 Mei 2026. Ia mengungkap pengakuan seorang guru tentang rendahnya minat siswa terhadap lomba jurnalistik sehingga lomba-lomba itu sering sepi peminat.

Disebutkan pula siswa bahkan tidak memahami apa itu jurnalistik. Saat beberapa di antara mereka menulis, mereka tidak tahu karakteristik jurnalistik. Jurnalistik dianggap susah dan sulit dipahami. Teknis menulisnya rumit.

Tapi menurut hemat saya, yang lebih penting dari kerisauan itu, apakah jurnalistik masih diajarkan di sekolah, sekurang-kurangnya lewat sanggar menulis? Atau sekolah hanya “mencomot siswa tiba-tiba” ketika ada sebuah kompetisi menulis, salah satunya FLS3N? Ketika sepi peminat dan ketidaktahuan siswa terhadap jurnalistik terjadi, kemudian haruskah kesalahan ditimpakan kepada mereka?

Di sini penting pihak sekolah memberi wadah pembinaan berkelanjutan, bukan hanya meminta kesediaan siswa ikut karena “dianggap tampak mampu menulis”, padahal sesungguhnya mereka tidak mengerti apa yang akan mereka tulis.

Memberi wadah kepada siswa melalui kelas jurnalistik, sanggar menulis, penerbitan majalah atau buletin sekolah akan berdampak pada tumbuhnya budaya berpikir kritis di lingkungan pendidikan. Anak-anak tidak hanya diajarkan menulis berita, tapi juga belajar mengamati, mendengar, bertanya, dan memahami persoalan di sekitar mereka.

Jurnalistik sesungguhnya bukan sekadar urusan mencetak calon wartawan. Jurnalistik adalah latihan berpikir. Di dalamnya ada kemampuan menyusun logika, memverifikasi fakta, menyampaikan gagasan secara runtut, dan membedakan mana opini serta mana kenyataan.

BACA JUGA :  Menjaga Napas Literasi dari Rumah dan Sekolah

Saya sepakat dengan Yurnaldi, ironis sekali ketika jurnalistik justru terasa asing di sekolah-sekolah di Sumatra Barat. Padahal, daerah ini memiliki sejarah panjang sebagai tanah kelahiran wartawan, penulis, pemikir, dan tokoh pers nasional.

Dari rahim budaya Minangkabau pernah lahir tradisi intelektual yang kuat. Budaya berdiskusi di lapau, budaya berdebat dengan argumentasi yang “bergizi”, budaya membaca, juga budaya menulis.

Dahulu, anak-anak muda terbiasa membaca surat kabar, mendiskusikan isu sosial, bahkan berani mengirim tulisan ke media massa. Majalah dinding sekolah hidup. Pers siswa aktif. Buletin sekolah terbit rutin walau dengan fasilitas sederhana. Ada gairah belajar menulis dan menyampaikan pikiran.

Kini perlahan semua itu seperti memudar, bahkan pelan-pelan hilang ditelan zaman.

Anak-anak lebih akrab dengan media sosial dibandingkan berita. Mereka lebih cepat membuat konten daripada memahami isi informasi. Mereka terbiasa menyebarkan sesuatu sebelum memeriksa kebenarannya. Di tengah banjir informasi digital, generasi muda justru hidup tanpa kemampuan memadai untuk memilah fakta.

Hoaks, disinformasi, manipulasi judul, hingga potongan video yang menyesatkan beredar begitu cepat. Dalam situasi seperti itu, kemampuan jurnalistik sebenarnya makin penting. Jurnalistik mengajarkan disiplin berpikir, memeriksa sumber, melakukan konfirmasi, menjaga akurasi, dan memahami etika menyampaikan informasi.

BACA JUGA :  Saya Mengerti Kamu Sedang Sedih, Mau Cerita?

Sayangnya, banyak sekolah belum memiliki budaya jurnalistik yang hidup. Majalah dinding banyak yang mati. Pers siswa vakum. Buletin sekolah hilang. Majalah sekolah apalagi, tak lagi terbit. Majalah digital pun tak diproduksi. Latihan wawancara, observasi, dan reportase hampir tidak pernah dilakukan lagi. Jurnalistik hanya hadir sesaat ketika ada lomba.

Akibatnya, siswa merasa asing ketika diminta menulis berita atau membuat laporan. Mereka bingung memulai dari mana karena memang tidak pernah dibiasakan. Menulis akhirnya dianggap sesuatu yang sulit dan menakutkan.

Di sisi lain, guru pembina jurnalistik yang memahami dunia pers juga masih terbatas. Tidak semua sekolah memiliki guru yang memiliki pengalaman membina media siswa. Bahkan jurnalistik sering dianggap sekadar ekstrakurikuler biasa, padahal di dalamnya terkandung latihan literasi yang sangat lengkap.

Melalui jurnalistik, siswa belajar membaca dengan teliti, mendengar dengan saksama, bertanya secara kritis, dan menulis dengan jernih. Mereka juga belajar bertanggung jawab terhadap informasi yang disampaikan. Nilai-nilai seperti inilah yang sesungguhnya dibutuhkan di era digital hari ini.

Bangsa yang sehat membutuhkan generasi yang mampu membedakan fakta dan opini. Masyarakat yang cerdas lahir dari kebiasaan berpikir kritis. Dan salah satu jalan melatihnya adalah melalui jurnalistik.

Untuk itu sekolah perlu menghidupkan kembali pers siswa. Jurnalistik jangan hanya dijadikan agenda seremonial tahunan menjelang lomba, tapi menjadi bagian dari proses pembelajaran sehari-hari.

BACA JUGA :  Jangan Sampai Rumah Sudah Tokok Berbunyi

Anak-anak perlu diberi ruang untuk menulis tentang sekolah mereka, lingkungan mereka, dan persoalan sosial yang mereka lihat.

Pemerintah daerah juga perlu hadir membuat program pembinaan jurnalistik pelajar secara berkelanjutan. Wartawan senior, media lokal, komunitas literasi, dan sekolah dapat dilibatkan bersama. Tidak cukup hanya mengadakan lomba, tapi juga pelatihan, pendampingan, dan penerbitan karya siswa secara rutin.

Media massa pun memiliki tanggung jawab moral membina generasi muda. Jangan semata-mata sibuk mengejar klik, sensasi, dan viralitas, tapi ikut membuka ruang pembelajaran jurnalistik bagi pelajar.

Masa depan pers tidak lahir tiba-tiba. Pers tumbuh dari tradisi membaca, menulis, dan berpikir yang dirawat sejak sekolah.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, Sumatra Barat bukan hanya kehilangan calon wartawan muda, tapi juga kehilangan generasi penerus tradisi berpikir kritisnya.

Dan ketika jurnalistik benar-benar menjadi asing di sekolah, kita akan kehilangan calon-calon penulis masa depan yang tangguh. Lebih dari itu, kita sedang membiarkan lahirnya sebuah generasi gagap logika yang mudah diombang-ambingkan oleh arus informasi tanpa daya kritis. []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.

(Follow Berita Insertrakyat.com di whatsapp channel)