SINJAI, INSERTRAKYAT.com — Sekjen Kemendagri, Tomsi Tohir tak lekas bersuara soal Sinjai Puncaki IPH Sulsel pada awal periode April 2026.

Sejauh pemantauan InsertRakyat.com hingga Kamis (16/4/2026), Pati Polri yang menjabat Sekjen Kemendagri Itu belum menyikapi persoalan yang ada. Padahal erat kaitkannya dengan tugasnya dalam mengendalikan Inflasi di Indonesia.

Lantas etiskah bila publik bilang patut diduga kalau Tomsi masih malu – malu bersuara diruang publik?.

Kendati demikian, Kemendagri dinanti merilis tanggapan Tomsi Tohir soal realita di daerah.

Diberitakan sebelumnya, Kabupaten Sinjai mencatat perubahann Indeks Perkembangan Harga (IPH) tertinggi di Sulawesi Selatan selama dua pekan berturut-turut pada April 2026. Meski mengalami tren penurunan tipis secara mingguan, fluktuasi harga komoditas hewani dan hortikultura di wilayah ini masih signifikan dibanding kabupaten lain di Sulsel.

BACA JUGA :  Sekjen Kemendagri Minta Pemda Kendalikan Harga Cabai

Berdasarkan data pantauan IPH pekan kedua (M2) April 2026, laju IPH Sinjai tercatat 3,37 persen. Angka ini menempatkan Sinjai di urutan pertama dari 16 kabupaten yang dipantau, disusul Kepulauan Selayar (3,29 persen) dan Luwu Utara (2,79 persen).

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sinjai, Syamsuddin mengatakan bahwa meskipun Sinjai masih berada di posisi teratas, terdapat penurunan laju IPH jika dibandingkan dengan pekan pertama (M1) yang sempat menyentuh 4,08 persen.

“Ada penurunan 0,71 persen secara week-to-week. Namun, tekanan inflasi di pasar lokal masih cukup kuat, terutama didorong komoditas daging dan beras,” ujar Syamsuddin di Sinjai, Rabu (15/4/2026).

BACA JUGA :  Sekjen Kemendagri Minta Pemda Kendalikan Harga Cabai

Data menunjukkan pergeseran pemicu utama IPH di Sinjai. Pada pekan pertama, Daging Ayam Ras menjadi penyumbang andil terbesar (2,4931), diikuti Daging Sapi (2,3851). Namun pada pekan kedua, Daging Sapi mengambil alih sebagai penyumbang utama (2,3851), disusul Daging Ayam Ras (1,7198) dan Beras (0,3317).

Selain komoditas utama tersebut, Cabai Rawit tercatat sebagai komoditas dengan fluktuasi harga tertinggi mingguan di Sinjai selama dua pekan berjalan. Koefisien Variasi (CV) atau nilai fluktuasi harga di Sinjai terpantau di angka 0,1106 pada pekan kedua.

“Masuknya beras sebagai salah satu komoditas penyumbang IPH di pekan kedua, perlu menjadi perhatian tim pengendali inflasi daerah, mengingat sebelumnya pada pekan pertama komoditas bawang merah yang lebih dominan,” tambah Syamsuddin.

BACA JUGA :  Sekjen Kemendagri Minta Pemda Kendalikan Harga Cabai

Secara umum di Sulawesi Selatan, tren IPH pada pekan kedua April 2026 menunjukkan kondisi yang beragam.

Saat ini Sinjai dan 11 kabupaten lainnya masih berstatus “Naik”, terdapat empat kabupaten yang berhasil “Turun” atau deflasi tipis, yakni Barru, Takalar, Enrekang dan Jeneponto. Jeneponto tercatat sebagai wilayah dengan penurunan IPH terdalam mencapai -2,14 persen.

Kondisi IPH ini menjadi indikator penting bagi Pemerintah Kabupaten Sinjai untuk melakukan intervensi pasar guna menekan laju harga, terutama pada komoditas daging dan kebutuhan pokok lainnya, agar tidak membebani daya beli masyarakat lebih jauh di akhir April. (AAF)

Editor : Supriadi Buraerah

Follow berita Insertrakyat di whatsapp channel

💬 Laporkan ke Redaksi