SEORANG murid kelas IV Sekolah Dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT), berinisial YBR, mengakhiri hidupnya dengan cara yang menyayat hati. Ia bunuh diri dan meninggalkan secarik surat bertulis tangan. Dugaan pemicunya adalah sebuah permintaan yang tak mampu dipenuhi orang tuanya, yaitu uang untuk membeli buku tulis dan pulpen.

Permintaan itu bukan karena sang ibu tak sayang atau tak peduli, semata karena impitan ekonomi yang teramat mencekik. Kehidupan mereka jauh dari kata cukup.

Kematian tragis ini seolah menjadi noktah hitam di atas kertas putih dunia pendidikan kita, meski tragedi itu tak terjadi di sekolah. Di balik angka-angka statistik pencapaian dan gegap gempita kurikulum, terselip sebuah realitas yang sering kali luput dari pandangan bahwa bagi sebagian anak, alat tulis bukanlah sekadar kebutuhan teknis, melainkan tiket untuk merasa “ada” dan “setara”. Ketika tiket itu tak terbeli, dunia mereka bagai luluh lantak dalam keterpurukan yang paling dalam.

Tulisan ini tidak hendak menyalahkan siapa pun. Tidak orang tua, tidak guru, tidak sekolah, tidak pula sistem. Sebab dalam peristiwa semacam ini, saling tuding justru sering kali menutup pintu pemahaman. Yang lebih mendesak untuk kita tanyakan adalah: apa yang sesungguhnya sedang kita ajarkan, dan apa yang gagal kita dengar, dalam semesta literasi anak-anak kita, baik oleh guru maupun orang tua?

Selama ini, literasi kerap kita sederhanakan sebagai kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Kita membanggakan kenaikan indeks literasi, maraknya lomba menulis, deretan rak buku, dan slogan “gemar membaca” serta “gemar menulis”. Namun, kasus YBR mengingatkan kita bahwa literasi bukan hanya soal teks, melainkan soal rasa, empati, dan keberpihakan.

YBR tidak hanya kekurangan buku tulis, ia kekurangan ruang aman untuk menyampaikan kegundahannya.

Bagi seorang anak kelas IV SD, buku tulis dan pulpen bukan sekadar alat belajar. Mereka adalah simbol. Simbol keterlibatan di sekolah, simbol “aku sama dengan teman-temanku”, dan simbol harga diri. Ketika simbol itu tak dapat digenggam, yang tergerus bukan hanya semangat belajar, tetapi juga rasa keberhargaan diri.

Anak-anak belum memiliki kosakata emosi yang lengkap. Mereka belum pandai mengatakan, “Saya sedih,” “Saya malu,” atau “Saya merasa tertinggal.” Yang mereka pahami sering kali hanya satu: “Aku tidak mampu, dan itu salahku.”

Di sinilah literasi emosi dan empati seharusnya hadir. Sekolah semestinya tidak hanya menjadi tempat mengisi lembar-lembar buku atau menuntut ini-itu, tetapi juga ruang di mana anak merasa aman untuk jujur tentang keadaannya. Guru bukan sekadar penyampai isi kurikulum, melainkan “pembaca” yang peka terhadap tanda-tanda yang selalu tak tersurat tetapi lebih banyak tersirat, seperti murid yang tiba-tiba diam, menunduk, enggan bertanya, atau terlalu patuh tanpa suara.

Literasi, dalam tafsir terdalamnya, adalah kemampuan membaca manusia dengan segala masalahnya, bukan hanya halaman buku atau keriuhan mengatasnamakan “literasi”.

Kita juga perlu jujur mengakui bahwa masih banyak anak Indonesia yang bersekolah sambil memikul beban orang dewasa: kemiskinan, rasa bersalah kepada orang tua, dan ketakutan menjadi beban keluarga. Dalam situasi segetir itu, kalimat “pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan” bisa terdengar kontras dan ironis, bahkan menyakitkan, jika jalan itu sendiri penuh lubang tanpa pegangan.

Esai ini tidak sedang menghakimi bahwa sekolah telah gagal atau orang tua telah lalai. Sebaliknya, ia mengajak kita melihat betapa rapuhnya anak-anak kita ketika sistem terlalu yakin bahwa semua murid berdiri di “garis start” yang sama. Saat buku tulis dianggap hal sepele, kita lupa bahwa bagi sebagian keluarga, ia adalah kemewahan yang harus dipilih di antara kebutuhan perut yang juga mendesak.

Pertanyaannya, berapa banyak guru yang tidak hanya menunggu di gerbang sekolah atau di muka kelas, tetapi juga mau menyediakan waktu mendatangi rumah-rumah muridnya untuk melihat seperti apa kehidupan anak-anak yang mereka didik?

Namun, kondisi ini pun berdiri di atas kontradiksi yang getir; ketika kesejahteraan guru belum sepenuhnya dikatakan baik, sementara beban administrasi yang kian menumpuk menyebabkan mereka kehabisan waktu dan energi untuk sekadar menoleh pada sisi humanis pendidikan. Guru dipaksa menjadi teknokrat laporan, hingga sering kali kehilangan ruang gerak untuk menjadi pendamping jiwa bagi murid-muridnya.

Literasi yang berkeadilan seharusnya peka pada konteks. Ia tidak hanya mengajarkan anak mengeja kalimat, tetapi juga menuntut kita untuk mampu “membaca” kondisi anak dan keluarganya. Ia tidak hanya menuntut anak siap belajar, tetapi memastikan mereka memiliki sarana, dukungan, dan rasa aman untuk tumbuh.

Literasi yang manusiawi adalah literasi yang tidak mempermalukan kekurangan dan tidak mengukur nilai seorang anak dari kelengkapan alat sekolahnya.

Tragedi YBR seharusnya menjadi cermin, bukan palu. Sebuah cermin untuk merefleksikan apakah selama ini kita terlalu sibuk mengejar target, angka, dan capaian formalitas, hingga lupa mendengar suara paling hening di pojok kelas. Suara anak-anak yang tidak berteriak, namun memikul beban yang terlalu berat bagi pundak kecil mereka.

Kita memang tidak bisa mengubah peristiwa yang sudah berlalu. Namun, kita bisa mengubah cara kita memaknainya, dengan menghadirkan literasi yang lebih berempati dan lebih manusiawi. Literasi yang tidak hanya menyalakan pikiran untuk mengejar target prestasi dan prestise, tetapi juga menjaga fondasi paling krusial: empati.

Tujuan tertinggi pendidikan bukan hanya membuat anak pandai membaca dan menulis, melainkan memastikan tidak ada satu pun anak yang merasa hidupnya terlalu tersisih hingga tak lagi punya alasan untuk bertahan.

Sudah saatnya kita berhenti sejenak dari perlombaan statistik dan mulai membasuh luka yang tak kasat mata. Pendidikan harus kembali pada fitrahnya sebagai pembebas, bukan pemberi beban yang justru mematikan harapan sebelum ia sempat mekar. Jangan biarkan ada lagi anak yang harus “pergi” hanya karena merasa tidak memiliki “tiket” untuk sekadar duduk di bangku kelas yang mereka impikan.

Ke depan, marilah kita tuliskan bab baru dalam dunia pendidikan kita; sebuah bab yang mengutamakan kemanusiaan di atas administrasi. Sebab, apalah artinya mencetak generasi yang mahir mengeja, jika kita sendiri gagal membaca jeritan di balik diamnya seorang murid. Bagaimanapun juga, buku tulis yang kosong bisa diisi dengan ilmu, namun nyawa yang hilang tidak akan pernah bisa digantikan oleh tumpukan piagam maupun angka-angka kelulusan yang sempurna, sehebat apa pun capaian itu.

Berkontribusi dalam penulisan artikel ini adalah Muhammad Subhan.