Oleh Muhammad Subhan penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis
SAYA sudah sampai di Pasar Hongkong. Tapi bukan Hongkong yang berada di Wilayah Administratif Khusus Hongkong di Republik Rakyat Tiongkok. Bukan.
Hongkong ini Hongkong-nya Jambi. Lokasinya di Jalan Hayam Wuruk, Cempaka Putih, Jelutung.
“Kita ngopi dulu,” ajak penyair perempuan Jambi yang bermukim di Tebo, Ramayani Riance, bersama sang suami, Rian Juskal. Hari itu, Jumat, 17 April 2026, Ramayani meluncurkan buku kumpulan puisi terbarunya berjudul Tasbih Batanghari. Dia penulis produktif.
“Di mana ngopinya?” tanya saya, bersama penyair Sulaiman Juned.
“Kedai kopitiam.”
“Sedap,” celetuk saya.
Di Negeri Sepucuk Jambi Sembilan Lurah ini, kopitiam sudah semacam institusi sarapan pagi. Selalu ramai. Dan saya melihat keramaian itu. Dominan warga keturunan Tionghoa tampak di sana.
“Bermacam orang duduk di kedai kopitiam, mulai dari pejabat, pekerja swasta, hingga orang biasa,” ujar Ramayani lagi.
Di kedai kopitiam, menunya banyak, terutama kopi robusta saring yang pekat. Ada juga teh tarik, teh telur, termasuk hidangan pelengkap seperti nasi gemuk, mi celor, pisang goreng, dan lainnya.
Di hari pertama Tur Literasi Sumatera Komunitas Seni Kuflet di Jambi, di sebuah kedai sarapan empunya keturunan India, di lain tempat, saya sudah mencicipi nasi gemuk. Sebelumnya belum pernah.
Tapi nasi itu sekilas mirip nasi lemak, mirip pula nasi uduk. Namun, rasanya lebih gurih. Lebih berlemak. Bersantan. Enak pokoknya.
Kedai-kedai kopitiam di Jambi bangunannya umum bergaya klasik-modern. Ada nuansa tempo dulu. Sebagian sudah berpendingin udara. Meski ramai, ruangannya cukup nyaman untuk mengobrol.
Selain menu-menu tadi, ada juga ragam menu lainnya seperti martabak kari, soto, gado-gado, hingga mi pangsit. Kopi tetap jadi pusatnya. Kopi O, atau Kopi C, diseduh dan disaring dengan cara tradisional.
“Kenapa disebut Pasar Hongkong?” tanya saya penasaran kepada Rian Juskal, suami Ramayani.
“Banyak warga etnis Tionghoa berjualan di sini,” jawabnya.
Saya mengangguk, paham.
Namun, konon, pedagang dan pembeli di Pasar Hongkong kini sudah beragam. Tidak hanya didominasi etnis Tionghoa saja, tapi juga etnis Batak, Jawa, Melayu Jambi, hingga Minang. Pasar ini hidup hanya sekitar enam jam, dari subuh hingga menjelang siang.
Mulanya, Pasar Hongkong memang didominasi pedagang dan pembeli warga keturunan Tionghoa. Bahasa yang digunakan pun bahasa Mandarin. Dari situ nama “Hongkong” melekat.
Seiring pergantian zaman, pasar ini menjadi ruang perjumpaan lintas etnis. Terjadi pula pertukaran budaya.
Di pasar ini barang yang dijual beragam. Mulai dari kebutuhan rumah tangga, bahan makanan khas selera Tionghoa, daging, ikan, sayur, hingga tumbuhan obat. Ada lobak Tiongkok, ada akar-akaran. Ada hasil laut seperti udang dan teripang.
Orang datang ke Pasar Hongkong cukup berasalan, terutama karena kualitas barang dagangannya, selain ingin menikmati keunikan suasananya.
Usia Pasar Hongkong sudah lebih dari tiga dekade. Namun, denyutnya tetap sama. Paginya masih sibuk. Riuh dan ramai.
Usai ngopi di kedai kopitiam di sudut Pasar Hongkong, azan salat Jumat berkumandang.
“Di mana kita salat?” tanya saya.
“Masjid Seribu Tiang,” jawab Rian Juskal. Dan bergegaslah kami ke sana.
Di benak saya, Masjid Seribu Tiang memang memiliki tiang berjumlah seribu. Saya hitung-hitung, masjid bernama asli Masjid Al Falah di Jalan Sultan Thaha, Telanaipura, Jambi, ini tiangnya tak sampai berjumlah seribu. Barangkali karena jumlah tiangnya banyak, akrablah kata “seribu tiang” itu di telinga jemaah.
Mirip itu, sebutan Jenjang Seribu di Bukittinggi, jenjang (tangga) objek wisata itu tak sampai berjumlah seribu. Pun Jenjang Ampek Puluah di pasar Bukittinggi, malah jumlah anak tangganya sampai seratus, lebih dari empat puluh.
Setiap objek pasti punya sejarah, cerita, dan alasan orang-orang di zamannya melekatkan nama dengan segala filosofinya.
Yang pasti, Masjid Seribu Tiang merupakan salah satu ikon Kota Jambi. Begitu masuk, kesan pertama yang saya rasakan adalah sejuk. Angin mengalir lepas. Tidak ada sekat. Damai beribadah di sajadah berlama-lama di masjid ini.
Kawasan masjid ini, pada zaman kolonial Belanda, pernah menjadi benteng. Setelah kemerdekaan, muncul gagasan membangun masjid besar sebagai pusat kegiatan umat.
Lalu dibangunlah masjid itu pada awal 1970-an. Hingga kini, Masjid Seribu Tiang terus berkembang dan selalu diramaikan jemaah maupun anak-anak yang belajar mengaji.
Usai salat Jumat, kami beranjak ke Tempoa Art Gallery. Ini sebuah ruang budaya di Jambi. Di sinilah buku puisi Tasbih Batanghari karya Ramayani Riance diluncurkan dan dibedah.
Diskusinya berlangsung hangat. Hadir pula sejumlah pejabat. Saya menjadi salah satu pembicara, selain Sulaiman Juned (penyair dan sutradara teater) dan Jumardi Putra (penyair). Acara itu dipandu Rachmadi, host program BeBiBeBa Tempoa.
Diskusi mengalir, diselingi tanya jawab dan pembacaan puisi. Bahkan setelah acara usai, sebagian orang belum beranjak. Beberapa di antara mereka mengatakan, “Kami butuh lebih banyak ruang-ruang diskusi buku seperti ini.”
Sebuah harapan yang menarik. Sepekan di Jambi, saya merasakan kota ini adalah ruang yang inklusif. Di antara aroma kopi dan percakapan-percakapan yang tak pernah sepi, literasi menemukan rumahnya yang paling hangat. Dan suatu hari, saya akan datang lagi ke sini.
Editor : Zamroni. Follow berita InsertRakyat di whatsapp channel


























