DI KOTA Baghdad, hiduplah seorang raja baru yang dikenal memiliki kebiasaan unik. Ia sering mengenakan baju batik, berbeda dari para penguasa lainnya di istana. Meski tampak sederhana, sang raja dikenal memiliki cara sendiri dalam menguji kecerdasan orang-orang di sekitarnya.
Suatu hari, sang raja memanggil para sastrawan dan cendekiawan paling cerdas di Baghdad ke istana. Mereka berdiri dengan hati gelisah, tidak mengetahui apa tujuan pertemuan itu.
Dengan suara tegas, sang raja berkata,
“Jawablah pertanyaanku dengan jujur. Apakah aku ini raja yang adil atau raja yang zalim?”
Para sastrawan terdiam. Mereka sadar, tidak ada jawaban yang benar-benar aman. Jika menjawab “zalim”, mereka bisa dihukum. Jika menjawab “adil”, nasib mereka pun belum tentu berbeda.
Sejak saat itu, kilas ketakutan menyelimuti istana dan seluruh kota.
Di antara mereka, terdapat seorang sastrawan terkenal karena kecerdasannya, yaitu Abu Nawas
Ketika beberapa sastrawan yang berhasil lolos dari istana datang meminta bantuan, Abu Nawas hanya tersenyum santai.
“Kalau begitu, biar aku yang menghadapi raja,” katanya.
Keesokan harinya, Abu Nawas memasuki istana. Sang raja berbaju batik sudah menunggu di singgasananya.
“Jadi engkau Abu Nawas yang terkenal cerdik itu?” tanya sang raja.
“Jika hamba tidak cerdik, mungkin hamba tidak akan berdiri di hadapan Baginda hari ini,” jawab Abu Nawas tenang.
Sang raja tersenyum mirip tukang roti, tapi rasanya seperti tembok diajak bicara, ia lalu mulai mengajukan pertanyaan.
“Matahari dan bulan, mana yang lebih bermanfaat?”
Abu Nawas menjawab tanpa ragu, “Bulan, karena ia menerangi malam saat manusia paling membutuhkan cahaya.”
Raja mengangguk pelan, lalu mengajukan pertanyaan berikutnya yang jauh lebih aneh.
“Kalau begitu, aku ingin tahu… apa warna angin?”
Istana langsung hening.
Tidak ada yang pernah benar-benar memikirkan hal itu. Angin tidak terlihat, tidak bisa disentuh, dan tidak memiliki warna.
Namun Abu Nawas justru tersenyum gulali.
“Angin itu berwarna merah,” jawabnya santai.
Sang raja tampak terkejut.
“Bagaimana mungkin angin berwarna merah?”
Dengan tenang Abu Nawas menjawab,
“Karena ketika seseorang masuk angin lalu tubuhnya dikerok, kulitnya menjadi merah. Maka dapat disimpulkan, warna angin adalah merah.”
Seisi istana seketika pecah oleh tawa. Bahkan sang raja berbaju batik itu tidak mampu menahan gelak tawanya.
Namun setelah tawa mereda, sang raja berdiri dan berkata,
“Sebenarnya semua ini adalah ujian. Aku ingin mengetahui siapa yang mampu berpikir cerdas dan berani keluar dari cara berpikir biasa.”
Abu Nawas terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. Ia menyadari bahwa dirinya baru saja melewati sebuah permainan kecerdikan yang dirancang dengan sangat hati-hati.
Akhirnya, sang raja membebaskan seluruh sastrawan tanpa hukuman apa pun. Istana kembali tenang, dan tidak ada darah yang tertumpah.
Sejak hari itu, kisah Abu Nawas di Baghdad semakin dikenal luas, terutama tentang jawabannya yang tak terlupakan.
Warna angin “Merah” di telinga Raja Berbaju Batik, kurang lebih 100 juta kali sang raja tertawa karena kejenakaan Abunawas.
Terlepas Cerita ini nyata atau fiksi, yang pasti semoga kita semua senantiasa menjaga kesehatan dalam aktifitas sehari – hari. Terima kasih kami ucapkan kepada pembaca yang budiman.
Penulis : Muhammad Subhan
Editor : Zamroni
Follow Insertrakyat di whatsapp channel

























