Oleh Muhammad Subhan
SORE itu dia menyapa kami di Tempoa Art. “Saya kuliah di Padang Panjang,” katanya. Dia menyalami saya. Saya mencoba mengingat-ingat. Ya, saya ingat. Dia mahasiswa Dr. Sulaiman Juned, M.Sn., di FKIP UMSB Padang Panjang, waktu itu.
Namanya Asrizal. Ia datang dari sebuah daerah di pedalaman Tebo. Dekat dengan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), yang menjadi rumah bagi Suku Anak Dalam atau Orang Rimba. Asalnya dari Bukittinggi. Urang Awak.
Dia seorang guru. Ketua PGRI di kecamatan. Hari itu ia datang ke Jambi karena melihat poster digital di media sosial. Tahu orang yang pernah menjadi dosennya menjadi pembicara buku puisi “Tasbih Batanghari” karya Ramayani Riance, dia datang. Naik travel umum. Jarak Tebo ke Jambi lebih dari tujuh jam.
“Sudah lama tak jumpa dengan Pak Sulaiman. Kalau dengan Bang Subhan, saya sudah tahu sejak saya kuliah di Padang Panjang,” katanya. Dia mengatakan juga baru tahu Ramayani rekannya sesame guru sudah memiliki empat judul buku. Selama ini tak ia ketahui.
“Tiga buku saya yang lain diluncurkan di luar Jambi,” jawab Ramayani tertawa ketika Pak Guru Asrizal baru tahu bahwa dia seorang penulis.
Ya, Ramayani guru yang produktif. Ia banyak menghadiri pertemuan sastra. Hadir sebagai penulis, bukan sekadar kumpul-kumpul.
Di sela-sela kegiatan peluncuran dan bincang buku itu, juga saat perjalanan ke Tebo, kami ngopi dan mengobrol lepas.
Karena Asrizal tinggal di pelosok Tebo, saya menggali lebih dalam tentang Suku Anak Dalam (SAD) atau dikenal sebagai Orang Rimba. Sudah sejak lama saya tertarik dengan kehidupan suku itu.
“Kalau nanti ada kesempatan saya riset ke sana, atau berkegiatan literasi di sana, Pak Guru temani saya, ya?” seloroh saya. Dia tertawa dan menyahut, “Oh ya, tentu. Dengan senang hati,” katanya.
Dia bercerita, ada tradisi unik dalam kehidupan SAD. Jika ada anggota keluarga mereka yang meninggal, mereka meninggalkan tempat lama dan berpindah ke lokasi baru. Semacam nomaden. Melangun namanya.
Di sana dikenal pula Hutan Kematian. Hutan itu menjadi “kuburan” bagi anggota SAD yang wafat. Melangun dimaksudkan untuk menghilangkan kesedihan, melupakan kenangan pahit, serta menjauhkan diri dari ingatan akan orang yang telah meninggal.
Asrizal bercerita, di Hutan Kematian, SAD menguburkan jenazah dalam posisi terlentang, lalu menutupinya dengan kayu dan dedaunan. Setelah itu ditinggalkan begitu saja. Mereka percaya kematian membawa duka mendalam, dan tempat seseorang meninggal menjadi tempat yang “tidak baik”, sehingga harus ditinggalkan.
Selain di Tebo, komunitas adat SAD mendiami hutan dataran rendah di pedalaman Jambi, khususnya di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas yang mencakup wilayah Kabupaten Sarolangun dan Batanghari.
Pusat kehidupan mereka banyak ditemukan di daerah Air Hitam, Kabupaten Sarolangun. Mereka hidup berkelompok dan sangat bergantung pada hutan, dengan kepercayaan animisme atau agama tradisional. Pembukaan lahan di Bukit Duabelas mengakibatkan tanah adat mereka mengalami perubahan signifikan. Lahan berubah menjadi perkebunan sawit dan karet, yang otomatis mengubah ekosistem hutan tempat mereka tinggal.
Beberapa kali di Padang Panjang, saya melihat sekelompok SAD berjalan beriringan. Perempuan ada yang menggendong anak, tanpa alas kaki. Pakaian apa adanya. Mereka turun dari Bukit Barisan. Kepada orang-orang mereka menadahkan tangan, minta sedekah.
Beberapa kali pula, saat berkegiatan di Kabupaten Dharmasraya, Sijunjung, dan Tebo, saya juga melihat kelompok mereka berjalan di tepi jalan.
Malam itu, mendekati Tebo dari arah Jambi, si Biru—kendaraan operasional Kuflet—kembali mengalami kempes ban. Padahal, dua ban belakangnya sudah baru, setelah malam pertama perjalanan ke Jambi pecah karena lubang di tengah jalan. Di beberapa titik, lubang-lubang jalan sangat mengganggu perjalanan kami, terutama pada malam hari.
Kempesnya di tengah hutan lagi. Sudah hampir dini hari. Hutannya disebut orang angker. Untunglah ada ban serep dan kami selamat sampai ke Jambi.
Saat perjalanan pulang, kami rehat di sebuah masjid. Sulaiman Juned memeriksa ban belakang yang sudah kempes. Sepertinya ada masalah pada pentil. Rian Juskal, suami Ramayani, mengiringi kami ke bengkel terdekat. Tukang bengkel membongkar roda dan memperbaikinya.
Di simpang Muaro Bungo, sepulang dari Tebo, setelah rehat hingga siang, kami mengganti pentil dua ban belakang agar perjalanan pulang ke Sumatera Barat lebih aman.
Dalam setiap perjalanan Tur Literasi Kuflet, kesehatan mesin si Biru menjadi prioritas. Si Biru aman, kami pun aman.
Kembali ke obrolan saya dengan Pak Guru Asrizal, kehidupan SAD memang perlu perhatian, khususnya dari pemerintah. Mereka menghadapi keterbatasan akses pendidikan, kesehatan, serta kehilangan ruang hidup akibat berkurangnya fungsi hutan. Perhatian ini penting untuk perlindungan hak dasar, pelestarian kearifan lokal, serta pendampingan adaptasi terhadap perubahan zaman.
“Tapi jangan salah, di antara mereka juga tak sedikit yang berduit,” ujar Asrizal. Nah, itu yang ingin saya ketahui lebih dalam.
“Kalau dibikin novel atau naskah lakon dan dipentaskan, tambah menarik,” ujar saya. Sulaiman Juned juga mengatakan hal yang sama. Nanti, di lain hari, Kuflet akan ke sana. Saya setuju.
Tur Literasi Sumatra Komunitas Seni Kuflet di Provinsi Jambi berakhir Sabtu, 18 April 2026. Dan Ahad, 19 April, satu kegiatan lagi dituntaskan Kuflet. Kami memenuhi undangan Rumah Baca Marenda di Kabupaten Dharmasraya. Dharmasraya sudah berada di wilayah administratif Sumatera Barat.
Setelah rehat melepaskan penat di sebuah penginapan di Gunung Medan, siangnya kami ke Rumah Baca Marenda. Yang diobrolkan seputar literasi dan sastra. Pesertanya mahasiswa Undhari, kampus dengan ikon warna merah muda pada bangunannya. Unik dan menarik.
Rumah Baca Marenda dikelola Dr. Amar Salahuddin, M.Pd. Ia Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Undhari. Tadi malam, ia menyambut kami, mengajak ngopi dan makan malam di sebuah kantin di Undhari. Orangnya ramah dan bersahaja.
Sehabis dari Dharmasraya, Kuflet kembali ke Padang Panjang, kota sejuk di kaki Singgalang. Sejumlah kegiatan literasi lainnya telah menunggu. Dan, tentu, mengutip Chairil Anwar, apa yang dilakukan Kuflet sebagai “kerja belum selesai, belum apa-apa”. Dan setelah ini, kami akan bekerja lagi.
(Muhammad Subhan). Follow Artikel Insert Rakyat di whatsapp channel


























