Oleh Muhammad Subhan
SEBARIS kalimat itu ditulis Bapak menggunakan pensil di buku pelajaran Bahasa Indonesia: “Nak, cintai buku seperti aku mencintaimu.” Saat itu saya tidak terlalu paham maksudnya, sebab saya baru mulai belajar membaca.
Seperti anak-anak lain seusia saya, saya menganggap sekolah adalah bentuk pengekangan dan lebih senang bermain di sawah. Tapi Bapak selalu membujuk agar saya rajin sekolah.
Bermacam-macam dibelikan Bapak agar saya rajin belajar, termasuk melengkapi buku-buku bacaan, baju baru, tas baru, sepatu baru, walau saya tahu Bapak sungguh susah mendapatkan semua itu.
Di buku pelajaran Bahasa Indonesia SD yang isinya masih saya ingat: itu ani dan budi/ itu ibu budi/ itu bapak budi/ ani kakak budi/ budi adik ani/ bapak budi duduk/ budi masuk bilik/ ani di muka lemari/ ani sibuk sekali, Bapak sering mendampingi saya belajar sebelum ia kembali duduk di mesin jahit merek Singer, satu-satunya harta paling berharga di rumah kami di tengah sawah.
Sehabis sembahyang Magrib berjamaah di rumah, Bapak mendampingi saya mengaji Qur’an kecil, lalu dilanjutkan dengan membacakan buku pelajaran Bahasa Indonesia yang di zaman itu menggunakan metode SAS (Struktur Analisa Sintesa).
Budi, Ani kakak Budi, Bapaknya, Ibunya, populer sekali bagi kami anak-anak di era 1980-an itu.
Bapak bukan orang terpelajar. Ia hanya tamatan Sekolah Rakyat, begitu juga Emak. Meski demikian, kedua orang tua saya itu selalu memerhatikan pendidikan anak-anaknya, sebab mereka tahu tak ada cara lain untuk mengubah hidup kecuali dengan pendidikan.
Maka, dimasukkannyalah saya ke sekolah, juga ke langgar mengaji bersama marbot yang sekaligus mendampingi anak-anak di rumah tengah sawah lainnya belajar.
Saat itu saya malas sekali membaca buku. Saya lekas bosan. Tapi gara-gara si Budi, Ani kakaknya, Bapaknya, dan Ibunya yang entah orang mana itu—yang pasti bukan orang Tembung—saya menjadi suka membaca. Ditambah lagi, di perpustakaan sekolah banyak sekali buku cerita anak, dan saya sering disuruh kepala sekolah masuk ke perpustakaan yang biliknya sangat sederhana, termasuk kursi dan meja bacanya.
Suatu hari Bapak sakit agak lama. Tak ada uang untuk membeli beras, meski di sekeliling rumah kami sawah terbentang luas. Tapi sawah itu sawah orang, bukan sawah kami. Kami hanya berumah di tengah sawah, meski memang selain beras, kebutuhan lain disediakan alam, seperti ikan betik, lele, gabus, atau belut. Semua tinggal dipancing. Sayur-mayur juga tersedia di alam, seperti kangkung, genjer, dan bayam. Telur pun tersedia karena di belakang rumah ada beberapa ekor itik dan ayam.
Ketika di rumah tak ada uang untuk membeli kebutuhan lain seperti beras, Emak terpaksa menjual telur itik atau telur ayam. Kadang ayam dan itiknya sekaligus dijual. Paling sering Emak menjualnya kepada Nek Ani, pemilik warung sate kerang di ujung jalan. Kalau dijual ke Pajak Bengkok, jaraknya lumayan jauh dari rumah kami, sementara Emak tak pandai mengayuh sepeda onta milik Bapak. Kalau dijual ke tetangga, umumnya tetangga sudah punya, sebab mereka juga beternak itik dan ayam. Hidup mereka pun tak jauh berbeda dengan keadaan kami.
Selain itu, Emak juga membuat grontol jagung goreng, semacam popcorn hari ini. Jagung itu digoreng Emak menggunakan minyak jelantah, meletup-letup di kuali. Setelah dingin, dibungkus plastik, lalu dijual seharga dua puluh ketip atau sekitar dua perak. Jagung itu dititipkan di kedai Nek Ani atau beberapa kedai di depan sekolah saya. Soal bekerja, Emak memang gigih, seperti Bapak, didorong oleh kehidupan yang susah.
Di bilik tidur Bapak yang berdinding tepas, saya mendengar suara batuk Bapak. Batuknya berat. Panasnya belum turun. Padahal Dokter Mantri sudah datang ke rumah kami memeriksa keadaan Bapak. Mantri bukan benar-benar dokter ahli, ia hanya seorang tenaga kesehatan yang dipercaya masyarakat, setingkat perawat. Dokter yang sebenar-benarnya masih langka di pedesaan dan hanya berada di kota. Ketika Tuan Mantri datang ke rumah kami, saya ingat ia memakai baju jas putih yang sudah agak buram, membawa sebuah tas kulit yang ia kepit di ketiak, dan datang menggunakan sepeda onta, seperti sepeda milik Bapak.
“Bapak agak kelelahan. Sebaiknya beristirahat cukup saja dulu,” ujar Tuan Mantri itu. Setelah itu, Bapak diberi beberapa obat yang saya tidak tahu apa jenisnya.
Setelah Tuan Mantri pulang, Bapak memanggil saya dengan suara berat. Dibelainya rambut saya, dikusuk-kusuknya punggung saya. “Bukunya ada dibaca?” tanya Bapak pelan.
Saya mengangguk, meski buku itu tidak benar-benar saya baca.

























