HIDUP sering mempertemukan kita dengan banyak orang, tetapi hanya sedikit yang benar-benar memberi arti. Di tengah lalu lintas pertemuan dan perpisahan, manusia belajar bahwa kedekatan bukan soal jumlah, melainkan makna yang ditinggalkan dalam jiwa.

“Siapa yang menyalakan lentera dalam hidupmu; maka, hanya mereka lah yang pantas menerima terbukanya pintu-pintu jiwamu.” Kutipan Syams Tabrizi ini mengingatkan bahwa tidak semua orang layak diberi akses ke ruang batin kita.

Hidup bukan soal seberapa banyak relasi, tapi siapa yang memberi cahaya dalam perjalanan kita. Mereka yang menenangkan, menguatkan, dan mengarahkan pada kebaikan pantas diberi tempat di jiwa. Selebihnya cukup dihormati, tanpa harus diberi ruang terdalam.

Karena menjaga jiwa bukan tentang menutup diri, tapi tentang memilih arah hidup.

Oleh: K.H. Fadhlullah Marzuki, S.Pd, (Ustadz Fadel), Pimpinan Al Markaz Al Islamy Pesantren Darul Istiqamah Sinjai dan Ketua 1 MUI Sinjai.