SUARA emak selalu membuat hati teduh. Apalagi mengaji. Merdu sekali.
Wajib saya puji sebagai anak kandungnya, kenyataannya memang benar-benar bagus. Kalau bernyanyi, khususnya kasidah, juga memberikan manfaat untuk terapi batin.
Di tengah keheningan malam di rumah di tengah sawah itu, sehabis magrib hingga Isya, Emak rajin membaca Al-Qur’an. Suaranya menggema di antara suara mesin jahit merek Singer yang dikayuh bapak.
Di luar, malam gelap gulita. Tak ada lampu jalan. Tak ada penerangan lain selain kunang-kunang yang beterbangan di semak-semak, atau cahaya bulan dan bintang.
Selebihnya malam hening, sesekali ditingkahi suara kodok dan jangkrik, adapula suara insekta margasatwa lainnya penghuni sawah.
Cukup beralasan suara emak merdu, sebab sejak ia duduk di bangku kelas 2 Sekolah Rakyat (SR) di Medan, emak belajar mengaji di Masjid Raya Al-Mashun yang berada di kompleks Istana Maimun yang legendaris itu. Guru-guru mengaji emak di masjid itu qari-qariah ternama, tiga di antaranya Nur Asiah Jamil, Ustaz Usman Fatah, dan Ustaz Chalid Daulay.
Di zamannya, emak memenangkan Musabaqah Tilawatil Quran tingkat kanak-kanak, dari satu kampung ke kampung lainnya di Kota Medan dan sempat direkam pula di sebuah radio. Tapi sayang, emak tak punya simpanan kasetnya.
Tak lama emak belajar mengaji di Masjid Raya Medan itu sebab zaman bergejolak. Tahun 1965 emak terpaksa pulang ke kampungnya di Kajai hingga remaja. Tahun 1972 emak balik lagi ke Medan, mencari peruntungan karena di kampung kehidupan susah.
Di Medan, emak bekerja di sebuah rumah makan Padang, dan di situ pula pengalaman baru emak dapat dari masak-memasak. Masakan emak sedap.
Selain ahli memasak masakan Minang, emak juga pintar memasak masakan Mandailing, salah satunya sayur Ubi Tumbuk. Daun ubi kayu (singkong) ditumbuk halus di batu gilingan cabai, lalu diberi santan di dalam kuali, ditaburi segala bumbu, ditambah rimbang, kincung, hingga teri belah. Makannya berteman ikan asin. Ikan asin dibakar di atas tungku api.
Ondeh, sedap sekali. Terbit air liur.
Bapak suka ikan asin bakar. Tentu zaman itu bapak tak cukup punya uang membeli ikan laut di Pajak Bengkok yang harganya lebih mahal. Tapi kalau sedang ada rezeki, bapak sering bawa pulang ikan tongkol atau ikan gembung yang diantar orang dari Sibolga.
Kalau sayur Ubi Tumbuk sudah selesai dimasak emak, kami makan bersama. Sudah pasti saya bertambah memakannya. Tak cukup sepiring dua piring. Emak sering menghardik kalau saya makan terlalu banyak. Lambung saya lentur seperti karet, katanya.
Tapi begitulah keasyikan tinggal di rumah di tengah sawah. Ubi singkong banyak ditanam bapak di belakang rumah. Tinggi-tinggi batangnya. Begitu juga cabai merah atau cabai rawit, buahnya lebat. Kincung juga. Rimbang apalagi. Semua tersedia. Uang saja yang payah.
Penulis: Muhammad Subhan
Editor: Supriadi Buraerah

























