MELAYANI masyarakat, baik di kantor pemerintahan maupun di luar kegiatan formal, selalu menghadirkan kebahagiaan tersendiri. Ada kepuasan batin yang lahir ketika jabatan diposisikan sebagai alat pengabdian, bukan sebagai tujuan untuk menikmati kekuasaan.

Kesadaran itu terlihat sejak hari pertama T.R. Fahsul Falah menjalankan tugasnya sebagai Penjabat Bupati Sinjai, berlanjut pada Jumat siang, 29 September 2023, ia melaksanakan sholat Jumat perdana di Kabupaten Sinjai, tepatnya di Masjid Jami’ Ta’mirul Islamiyah, Desa Kanrung, Kecamatan Sinjai Tengah. Ia datang bersama jajarannya dan berbaur dengan masyarakat setempat sebagai jamaah biasa.

Sholat Jumat tersebut dilaksanakan di sela agenda kunjungan kemanusiaan. Seusai ibadah, Fahsul dijadwalkan mengunjungi warga korban kebakaran rumah di Dusun Karobbi, Desa Kanrung, Kecamatan Sinjai Tengah, yang lokasinya tidak jauh dari masjid tempat ia menunaikan sholat Jumat.

TR Fahsul Falah.

Usai sholat Jumat pada 29 September 2023 itu, Fahsul menyampaikan salam hangat dan ucapan terima kasih kepada para jamaah, khususnya masyarakat Desa Kanrung yang menyambutnya dengan penuh keakraban. Ia menyampaikan harapan agar selama memimpin Kabupaten Sinjai, masyarakat bersedia bersinergi dan ikut berperan aktif dalam pembangunan daerah yang dikenal dengan sebutan Bumi Panrita Kitta.

Pria kelahiran Aceh Timur itu juga secara terbuka memohon dukungan masyarakat dalam menjalankan tugas pemerintahan, termasuk menjaga stabilitas dan menyukseskan agenda nasional Pemilu Serentak 2024.

“Terima kasih kepada seluruh masyarakat atas sambutan hangatnya. Saya memohon dukungan dari seluruh masyarakat untuk membantu saya selama melaksanakan tugas di Kabupaten Sinjai, khususnya dalam menyukseskan Pemilu Serentak 2024 mendatang,” ucapnya.

Di luar aktivitas pemerintahan, Fahsul menempatkan aspek spiritual sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kepemimpinannya. Salah satu program yang kemudian menjadi rutinitas selama ia menjabat sebagai Penjabat Bupati Sinjai adalah pelaksanaan yasinan setiap Kamis malam.

Agenda yasinan tersebut dilaksanakan di Rumah Jabatan Bupati Sinjai. Salah satu kegiatan yasinan berlangsung pada Kamis malam, 8 Februari 2024, bertempat di musholla kompleks rumah jabatan, setelah pelaksanaan sholat Maghrib secara berjamaah. Yasinan dipimpin oleh Ustadz Achmad Zamzury dan dihadiri langsung oleh Pj Bupati Sinjai T.R. Fahsul Falah, petugas urusan rumah tangga rumah jabatan, serta warga sekitar.

Kegiatan ini berlangsung sederhana, tanpa jarak antara pemimpin dan masyarakat. Selama Fahsul memimpin Sinjai, yasinan tersebut menjadi kegiatan rutin setiap pekan.

Fahsul menjelaskan bahwa yasinan tersebut merupakan wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan, sekaligus sebagai ikhtiar spiritual dalam menjalankan amanah pemerintahan.

“Kegiatan ini merupakan bentuk kesyukuran atas segala nikmat dan karunia Allah SWT. Yasinan ini menjadi sarana kita bermunajat kepada-Nya, memohon rahmat dan hidayah dari Sang Pencipta,” jelasnya pada Kamis, 8 Februari 2024.

Kepekaan sosial Fahsul juga terlihat dalam peristiwa lain yang menyentuh perhatian publik. Pada Maret 2024, ia menyatakan niat untuk menjadikan seorang anak bernama Nuraeni sebagai anak angkat. Nuraeni, berusia tujuh tahun, merupakan siswi kelas II Madrasah Ibtidaiyah Maddako, Desa Barania, Kecamatan Sinjai Barat.

Nama Nuraeni menjadi perhatian luas setelah sebuah video yang memperlihatkan dirinya bersekolah sambil menggendong adik laki-lakinya viral di media sosial. Video tersebut menampilkan potret keterbatasan ekonomi dan tanggung jawab yang harus dipikul seorang anak seusianya.

Niat Pj Bupati Sinjai tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan Sinjai, Irwan Suaib, saat mengunjungi kediaman Nuraeni pada Kamis, 21 Maret 2024. Dalam kunjungan itu, disampaikan bahwa Fahsul juga berniat menjadikan adik Nuraeni, Muhammad Zaenal Akbar yang berusia dua tahun, sebagai anak angkat.

Irwan menjelaskan bahwa Fahsul berencana menyekolahkan kedua kakak-beradik tersebut di Kota Sinjai. Bahkan, Fahsul membuka kemungkinan agar Nuraeni dan adiknya tinggal bersama di Rumah Jabatan Bupati Sinjai.

“Pak Pj Bupati juga mau, kalau berkenan, kedua kakak-beradik ini bisa tinggal di rujab. Soal sekolah, bisa sekolah di kota sekalian,” ujar Irwan pada 21 Maret 2024.

Menanggapi tawaran tersebut, Sanu, ayah Nuraeni, menyampaikan rasa terima kasih atas niat baik Pj Bupati Sinjai. Namun, ia mengaku masih mempertimbangkan tawaran tersebut karena berat berpisah dengan kedua anaknya.

“Kalau niatnya Pak Bupati menjadikan putra-putri saya sebagai anak angkat, saya bersyukur sekali. Akan tetapi, kalau untuk tinggal di rujab, saya masih pikir-pikir. Jarak saya dengan mereka akan terlalu jauh, sedangkan saya hanya punya mereka,” ucap Sanu dikutip berita Tabloid Merah Putih Pos (MERPOSNEWS.COM).

Peristiwa-peristiwa itu memperlihatkan bahwa kepemimpinan tidak hanya bekerja melalui kebijakan tertulis, tetapi juga melalui empati. Ketika seseorang berada dalam kesulitan, perhatian dan kepedulian dapat menghadirkan harapan. Kebahagiaan tidak hanya dirasakan oleh mereka yang dibantu, tetapi juga oleh mereka yang memberi.

Sejatinya, seorang pemimpin sejak awal harus menanamkan dalam dirinya bahwa keinginan untuk meraih jabatan adalah bentuk kesiapan untuk mengabdi kepada masyarakat. Ketika kesadaran itu tertanam kuat, seorang bupati, wali kota, atau gubernur akan mengerahkan seluruh kemampuan dan potensi yang dimilikinya untuk melayani.

Menikmati fasilitas negara dan menerima penghormatan dari masyarakat adalah hal yang wajar bagi seorang kepala daerah. Namun, semua itu hanyalah sarana pengabdian, bukan tujuan. Ketika fasilitas dan penghormatan dijadikan tujuan, seorang pemimpin akan mudah terjebak pada kepentingan diri sendiri dan melupakan amanah yang diembannya.

TR Fahsul Falah, yang telah menapaki jenjang kepemimpinan sejak usia muda, memahami prinsip tersebut dan berusaha mengimplementasikannya dalam praktik kepemimpinan. Baginya, pemimpin pada hakikatnya adalah pelayan umat.

Pandangan itu pernah ia sampaikan secara langsung kepada penulis Supriadi Buraerah, sesaat setelah sholat Isya di Rumah Jabatan Bupati Sinjai, Jalan Persatuan Raya.

“Pemimpin itu harus menjadi pelayan. Jadi, pemimpin adalah pelayan,” ucap Fahsul sambil bersedia jika kisah pengabdiannya kelak ditulis dalam buku Hijrah.

Menjadi kepala daerah berarti memasuki dunia pengabdian. Paradigma ini mungkin terasa asing, tetapi justru itulah yang dibutuhkan masyarakat yang semakin sadar dan demokratis. Masyarakat tidak lagi menghendaki pemimpin yang haus kekuasaan dan penghormatan. Masyarakat ingin dilayani, bukan melayani.

Paradigma ini dikenal sebagai paradigma kemitraan. Pemerintah dan masyarakat berdiri sejajar sebagai mitra untuk memperjuangkan kesejahteraan bersama. Dalam pola hubungan seperti ini, masing-masing memahami posisi dan tanggung jawabnya. Tidak ada kebohongan dan tidak ada kepura-puraan.

Di situlah makna hijrah menemukan wujudnya, berpindah dari orientasi kekuasaan menuju pengabdian, dari keinginan untuk dilayani menuju kesiapan untuk melayani sepenuh hati.