Oleh: Ustadz KH Fadhullah Marzuki (Ustadz Fadel), Pimpinan Pondok Pesantren Darul Istiqomah


SETIAP manusia memiliki hati, namun tidak semua hati hidup dengan rasa belas kasih dan empati. Inilah salah satu penyakit ruhani (Rohani,-Melayu,red), yang bergerak lalu kerap luput kita sadari.

Agama sering kita pahami sebatas ritual, bukan sebagai proses pembentukan akhlak dan kehalusan jiwa.

Dalam kehidupan beragama, tidak sedikit orang yang tekun beribadah, rajin shalat, giat berdzikir, dan fasih melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an.

Namun ironisnya, ibadah tersebut tidak selalu melahirkan kerendahan hati. Kepala hanya tunduk di hadapan Allah, tetapi hati justru meninggi di hadapan sesama manusia. Inilah kesombongan yang sebenarnya tidak boleh dilakukan karena berkaitan dengan akhlak.

Ibadah yang sejati bukan diukur dari banyaknya gerakan, panjangnya bacaan, atau seringnya seseorang terlihat khusyuk.

Ibadah sejati diukur dari sejauh mana ia mampu meruntuhkan kesombongan, melunakkan ego, dan menumbuhkan kasih sayang.

Jika sholat tidak menjadikan kita lebih lembut, dan dzikir tidak melatih kita menjadi sabar, maka patut kita khawatirkan: jangan-jangan kita hanya sedang sibuk dengan bentuk, tetapi lalai dari makna.

Allah [ﷻ] telah mengingatkan dengan sangat jelas bahwa Dia tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.

Namun justru di titik inilah banyak manusia terjebak. Rasa puas dalam ibadah, merasa paling benar, dan merasa paling suci sering kali disangka sebagai tanda kedekatan dengan Allah, padahal bisa jadi itulah pintu kesombongan yang paling halus.

Al-Qur’an yang kita baca sejatinya adalah petunjuk hidup. Ia bisa menjadi penyelamat, tetapi juga bisa menjadi peringatan keras bagi pembacanya.

Betapa banyak orang yang khatam Al-Qur’an berkali-kali, namun ayat-ayat tentang larangan sombong hanya berhenti di lisan, tidak turun ke akhlak.

Iblis tidak diusir dari surga karena kurang ibadah, tetapi karena kesombongannya. Kisah ini sengaja diabadikan agar manusia bercermin, bukan sekadar mengagumi ceritanya.

Kita juga perlu jujur pada diri sendiri. Betapa sering kita mengeluh, kurang bersyukur, sibuk membandingkan hidup dengan orang lain, dan mengejar amalan demi kepentingan dunia.

Lalu. Doa-doa kita pun kadang berubah menjadi “tawar-menawar” dengan Allah, bukan sebagai penghambaan yang tulus demi meraih ridha-Nya.

Padahal Allah hanya memerintahkan satu hal yang sangat mendasar: memohon ampun atas dosa-dosa kita.

Kisah Nabi Yunus Alaihissalam memberi pelajaran yang sangat dalam. Dalam kegelapan di atas kegelapan, di perut ikan paus, beliau tidak meminta dunia, tidak menuntut kenyamanan, tidak pula mengeluhkan takdir. Yang keluar dari lisannya hanyalah pengakuan dosa, pengagungan kepada Allah, dan tauhid yang murni. Dari sanalah pertolongan Allah datang.

Maka, marilah kita belajar merendahkan hati, membuang kesombongan, dan memperbanyak istighfar. Sebab hanya dengan hati yang bersih dan jiwa yang tunduk, ibadah akan benar-benar bernilai di hadapan Allah [ ﷻ ]. Dan. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang beruntung ketika kelak berdiri di hadapan-Nya, pada hari di mana tidak ada yang berguna kecuali amalan dan hati yang selamat.

Editor: Bahtiar