Oleh Muhammad Subhan

KALAU tidak gara-gara majalah sekolah, barangkali hingga sekarang saya tidak suka menulis dan tidak jadi penulis.

Gara-gara majalah dinding (mading) di SMP dan majalah sekolah cetakan stensilan di SMA itulah, di saat dunia kerja menutup pintu, saya memutuskan menjadikan menulis sebagai pekerjaan.

Ternyata, dari pekerjaan menulis itu, saya bisa hidup, menafkahi keluarga, dan membuka pintu ke jalan-jalan mana saja. Menulis itu sungguh asyik sekali.

Titik tolaknya bermula ketika kelas 1 SMP. Di sekolah saya, SMP Negeri 6 Lhokseumawe, atau di zaman itu dikenal sebagai SMP Dewantara, ada sebuah papan mading yang dikelola kakak kelas. Setiap hari saya lewat di depan mading itu.

Mulanya saya cuek. Namun, karena isi mading rutin diperbarui, saya mulai tertarik membaca apa yang ditulis teman-teman saya di mading itu.

Terbacalah oleh saya sepotong puisi, cerpen, dan artikel. Karya yang ditulis tangan dengan tinta warna-warni itu menarik perhatian saya. Di dalam hati saya bertanya, bagaimana cara agar bisa mengirim karya ke mading?

Di sudut bawah papan mading tersurat catatan redaksi yang memberitahukan cara mengirim naskah, disertai ruang kelas tempat naskah harus diserahkan.

Di rumah, saya pun menulis beberapa puisi dan cerita mini. Tulis tangan. Idenya dari khayalan. Saya tulis serapi mungkin.

Ya, di zaman sekolah tulisan saya sangat rapi. Ehem! Iya, serius.

Sering dipuji guru, kok bisa serapi itu? Pada tahun 90-an, ketika belum ada media sosial dan komunikasi masih lewat surat-menyurat, menulis tangan menjadi kebiasaan. Karena terbiasa, menjadi terlatih.

Nah, saya kirimlah puisi saya ke redaksi mading. Edisi berikutnya terbit. Saya gembira sekali. Sudah merasa sebagai orang hebat saja di sekolah. Edisi berikutnya saya kirim lagi dan dimuat lagi. Makin ketagihan menulis.

Sampai di SMA, yang gedungnya bersebelahan dengan SMP, kesukaan menulis itu kian tumbuh. Saya bersekolah di SMA Negeri 2 Lhokseumawe, yang pada masa itu dikenal sebagai SMA Palda. Palda adalah singkatan dari Paloh Lada, sebuah daerah di Kecamatan Dewantara, Aceh Utara.

BACA JUGA :  Literasi Daerah Tersandung Birokrasi, Nasib TBM Kian Tak Pasti

Mading di SMA saya lihat kurang aktif. Saya berinisiatif mengaktifkannya bersama kawan-kawan. Saya bentuk kelompok menulis kreatif, lalu menggagas majalah sekolah versi cetakan stensilan. Mesinnya dibuat sendiri secara manual. Naskah diketik di mesin tik, lalu diperbanyak dengan kertas karbon.

Di zaman susah itu, kreativitas tumbuh. Pikiran berjalan. Tak ada waktu santai. Setiap hari yang terpikir apalagi yang bisa dikerjakan? Apalagi yang bisa ditulis?

Majalah sekolah yang kami gagas mendapat sambutan luas. Kepala sekolah, guru, dan siswa mendukung. Posisi saya sebagai wakil ketua OSIS memudahkan memimpin redaksi dan berkomunikasi dengan pimpinan sekolah.

Hingga tamat SMA, majalah itu masih bertahan. Dan ilmu serta pengalamannya sangat berguna ketika, di penghujung sekolah, ayah saya meninggal dunia. Saya kemudian membawa keluarga merantau ke Kota Padang. Pulang kampung, karena ibu saya orang Minang, meski sebelumnya saya tidak pernah pulang kampung.

Di Kota Padang itulah saya mencari pekerjaan untuk menafkahi keluarga. Namun, hampir semua pintu tertutup. Barangkali saya dianggap anak bau kencur, baru tamat SMA, belum bisa apa-apa. Lalu ingatan saya terlempar kembali ke masa SMP dan SMA, saat aktif menulis di mading dan majalah sekolah. Seolah ada ilham, kenapa tidak menulis saja?

Ya, kenapa tidak menjadikan menulis sebagai pekerjaan?

Sejak itu, saya memutuskan menulis. Apa pun saya tulis. Dan tulisan-tulisan itu menjadi jembatan menuju pintu-pintu rezeki yang tak pernah saya duga. Ternyata, di belantara kota, saya bisa hidup sebagai penulis, bahkan di masa sulit. Hingga hari ini, saya masih bekerja sebagai penulis. Tulisan yang Anda baca ini adalah bagian dari pekerjaan itu.

BACA JUGA :  Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Lalu, dari pengalaman itu, saya ingin mengatakan bahwa majalah sekolah bukan sekadar pelengkap kegiatan ekstrakurikuler. Kemahiran menulis yang dilatih sejak dini bisa menjadi jalan ke industri kerja di masa depan selain sebagai ruang hidup.

Ya, ruang hidup.

Di majalah sekolah siswa pertama kali merasa bahwa tulisan bukan hanya tugas, tapi sesuatu yang bernapas. Sesuatu yang dibaca orang lain, yang membuat nama mereka hadir di hadapan publik, sekecil apa pun lingkupnya.

Majalah sekolah adalah wadah literasi yang nyata. Siswa tidak hanya belajar membaca, tapi juga menulis, menyunting, dan merangkai gagasan agar layak dibaca. Di sana ada proses. Ada “debar”, ada harap-harap cemas naskah dimuat atau tidak.

Eksistensi majalah siswa melatih cara berpikir. Ketika siswa menulis karya fiksi, opini, reportase, atau esai, mereka belajar melihat lingkungan sekitar. Mereka belajar bertanya. Belajar tidak sekadar menerima, tapi juga mengolah apa yang mereka dapat.

Dan lebih dari itu, majalah sekolah adalah tempat menemukan jati diri.

Banyak siswa yang diam di kelas, justru bersuara lantang lewat tulisan. Yang tidak menonjol di depan, kritis di tulisan.

Saya sudah melihat itu sejak dulu.

Majalah sekolah juga mengajarkan kerja bersama. Ada penulis, editor, desainer, bahkan fotografer. Ada tenggat waktu, ada revisi, ada perdebatan di ruang rapat redaksi. Semua itu adalah latihan kehidupan yang sesungguhnya.

Dan diam-diam, tanpa kita sadari, majalah sekolah menjadi arsip yang merekam jejak sebuah generasi. Membaca karya mereka, tahulah kita cara mereka berpikir, merasakan, dan melihat kegelisahan pada zamannya.

Namun, satu hal yang perlu diingat, majalah sekolah akan kehilangan ruhnya jika hanya dijadikan formalitas. Jika isinya sekadar laporan kegiatan. Jika terlalu dikontrol hingga kehilangan suara siswa.

Majalah harus hidup. Dan kehidupan itu lahir dari kebebasan yang bertanggung jawab.

Hari ini, tantangannya berbeda. Gawai ada di tangan siswa. Dunia digital lebih cepat, lebih menarik. Maka, penting mengawal dan menghadirkan sepenuhnya majalah siswa di sekolah.

BACA JUGA :  Cerita tentang Orang Rimba dan Jalan Pulang ke Padang Panjang

Kalau tak mampu cetak, setidaknya majalah digital. Tapi yang perlu dijaga periodisasi terbitnya. Harus rutin, jangan terlalu lama, agar informasi yang disiarkan tidak kedaluwarsa, dan pembaca (siswa lainnya) tidak menunggu hingga lupa kalau di sekolah mereka ada majalah.

Demikianlah, tidak selalu medianya yang menjadi persoalan, tetapi bagaimana prosesnya. Redaksi harus benar-benar bekerja. Libatkan siswa secara nyata. Guru menjadi pembina, kepala sekolah menyiapkan anggaran. Setiap edisi majalah integrasikan dengan pembelajaran agar konten tidak pernah kering.

Kelebihan majalah siswa versi cetak kalau dibandingkan di zaman lampau ada pada “debarnya”. Ya, yang membuat majalah dulu menghadirkan debar bukan hanya karena kertasnya, tetapi karena peristiwanya.

Ada momen menunggu. Ada rasa penasaran, ada degup saat membuka setiap halaman dan mencari nama sendiri.

“Debar” itu yang perlu dihidupkan kembali.

Maka, sekolah harus membuat momen terbit. Buat kejutan. Buat seleksi yang benar-benar terasa. Jangan semua tulisan langsung dimuat. Biarkan ada proses yang membuat karya terasa layak dirayakan.

Adakan pula peluncurannya, sekecil apa pun. Bacakan karya siswa yang terbit. Umumkan nama penulisnya. Biarkan siswa merasakan bahwa tulisannya dihargai. Proses itu adalah pengalaman berharga bagi siswa di kemudian hari.

Dalam penerbitan majalah, kepala sekolah berdiri di garda terdepan. Ia memberi ruang, menjadi motivator, menyediakan waktu, mengalokasikan anggaran, dan melindungi kebebasan berekspresi siswa.

Majalah sekolah adalah “rahim” yang melahirkan pemikiran-pemikiran besar. Ia bukan sekadar tumpukan kertas atau file digital, melainkan monumen pembuktian bahwa suara siswa layak didengar dan mampu mengubah arah hidup seseorang, persis seperti yang saya alami puluhan tahun silam.

 Muhammad Subhan penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis

Follow Berita Insert Rakyat di (whatsapp-channel)