Oleh Muhammad Subhan

MASA remaja saya di tahun 1990-an di Aceh dipenuhi dengan kegembiraan sederhana yang ditawarkan oleh dunia tulis-menulis. Di zaman itu, saya menemukan kebahagiaan yang lebih dalam melalui korespondensi, yaitu hobi menulis surat kepada kawan-kawan di berbagai tempat.

Saat itu, belum ada media sosial. Komunikasi melalui surat masih menjadi sarana utama untuk menjalin hubungan jarak jauh, dan bagi saya, kegiatan itu menjadi salah satu kenikmatan terbesar dalam hidup. Dari secarik kertas yang dibubuhi tinta dan dihiasi perangko, lahir sebuah dunia baru yang menuntun saya kepada kebiasaan mengarang, yang hingga kini menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup saya. Dan, di jalan itu pula saya memenuhi kebutuhan hidup, tentu juga menghidupi keluarga.

Di sekolah menengah atas, saya memiliki banyak sahabat pena. Ada yang berasal dari kota-kota yang jauh, bahkan beberapa dari negara lain. Korespondensi ini bukan hanya soal berbagi cerita sehari-hari, tapi juga bertukar pemikiran, budaya, dan pengalaman hidup yang beragam. Saat itulah, saya mulai membaca majalah “Sahabat Pena”, sebuah majalah yang diterbitkan Pos Indonesia yang memungkinkan orang-orang untuk menemukan sahabat pena baru di seluruh pelosok negeri. Selain tentu, majalah itu, menyuguhkan banyak informasi menarik lainnya, termasuk halaman cerpen dan puisi.

Majalah ini memberikan kesempatan kepada saya untuk terhubung dengan orang-orang yang mempunyai latar belakang berbeda. Ketika mendapatkan surat balasan dari sahabat pena yang tinggal di tempat yang belum pernah saya kunjungi, rasanya seperti menerima sekeping dunia baru. Melalui surat-surat tersebut, saya belajar tentang kehidupan di luar lingkungan saya, belajar tentang keunikan budaya, serta cara pandang yang berbeda. Masing-masing surat yang saya kirimkan atau terima seolah menjadi jembatan antara saya dan dunia luar.

Namun, lebih dari sekadar media komunikasi, menulis surat juga menjadi ajang bagi saya untuk melatih keterampilan menulis. Saya harus berpikir tentang bagaimana menyampaikan gagasan dengan baik, merangkai kata-kata dengan jelas, tapi tetap halus dan sopan sesuai dengan etika menulis surat yang diajarkan.

Bahasa dalam surat tidak sama dengan bahasa lisan, ada aturan tak tertulis yang harus diikuti; keramahan, kesopanan, dan kerapian bahasa sangat diutamakan. Dari sinilah, kemampuan saya untuk menulis mulai terbentuk. Dan, konon, kata orang, dari bentuk tulisan di kertas surat yang ditulisnya, mencerminkan watak dan karakter si penulisnya.

Tak lama setelah saya rutin bersurat-suratan, hobi lain muncul sebagai dampak dari kecintaan saya terhadap korespondensi, yaitu filateli, atau mengumpulkan perangko. Setiap surat yang saya terima selalu dihiasi perangko yang berbeda-beda. Perangko itu cantik-cantik dan estetik. Saya mulai tertarik dengan gambar-gambar yang ada di atas perangko tersebut. Awalnya, saya hanya mengagumi keindahan visualnya, tapi kemudian saya tertarik pada sejarah dan pesan yang terkandung di dalamnya.

Perangko bukan semata alat pembayaran untuk layanan pos. Di dalamnya tersimpan kisah-kisah yang lebih besar; sejarah suatu bangsa, peristiwa penting, tokoh-tokoh yang berjasa, serta flora dan fauna unik dari berbagai belahan dunia. Saya mulai mengumpulkan perangko dari setiap surat yang saya terima dan mencari perangko khusus yang memiliki tema-tema tertentu. Seiring waktu, koleksi saya berkembang dan mengisi lembaran-lembaran album filateli yang dengan bangga saya susun.

Hobi ini mengasah rasa ingin tahu saya dan memperluas wawasan sejarah serta budaya.

Selama bertahun-tahun, aktivitas menulis surat ini menjadi bagian dari rutinitas saya hingga tamat SMA. Dalam setiap surat, saya merasakan kebebasan untuk mengekspresikan diri, menuliskan pemikiran, dan merangkai cerita. Saya tidak sadar bahwa semua itu menjadi latihan penting dalam dunia kepenulisan yang kelak akan saya tekuni. Setiap surat yang saya tulis harus dipertimbangkan dengan cermat. Mulai dari pemilihan kata, nada, dan gaya bahasa menjadi sangat penting. Di sini, saya belajar tentang betapa besar pengaruh sebuah kata yang tepat pada pembaca.

Seiring berjalannya waktu, korespondensi ini memberi saya kepercayaan diri dalam menulis. Saya mulai merasa nyaman mengekspresikan diri melalui tulisan, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan. Saya mulai menulis tidak hanya untuk kawan-kawan yang menjadi sahabat pena, tapi juga untuk diri sendiri. Saya menulis cerita-cerita pendek, puisi, dan akhirnya, esai. Bahasa surat yang terbentuk dari kebiasaan korespondensi melatih saya untuk menulis dengan baik, dengan sentuhan kehalusan yang sering saya gunakan dalam surat-surat saya.

Keterampilan ini kemudian berkembang menjadi kemampuan mengarang yang lebih luas. Saya menemukan bahwa bahasa surat memiliki kemurnian tersendiri, yang bisa membawa emosi dan pesan dengan lebih mendalam. Itulah yang saya bawa ke dalam dunia mengarang. Kelembutan bahasa surat memberikan saya pondasi untuk menulis dengan cara yang baik, elegan, penuh makna, dan tetap mudah dipahami. Bagaimana penerimaan pembaca, saya serahkan sepenuhnya kepada mereka sebagai hakim tulisan-tulisan saya.

Perjalanan panjang dari menulis surat hingga mengarang profesional menjadi satu proses yang penuh makna bagi saya. Setelah terbiasa menulis surat yang sarat nuansa pribadi dan ekspresi, saya mulai berpikir tentang bagaimana membawa kehalusan tersebut ke dalam cerita-cerita yang lebih besar. Saya merasa ada banyak hal yang bisa diceritakan, banyak kisah yang bisa dibagikan dengan lebih luas. Saya mulai mengirimkan tulisan-tulisan saya ke majalah dan surat kabar, dan lambat laun tulisan-tulisan itu mulai diterima, meski sebelumnya ratusan kali ditolak. Dan, saya menikmati setiap penolakan itu.

Saya menyadari bahwa kecintaan saya pada korespondensi telah membuka pintu menuju dunia kepenulisan profesional. Korespondensi bukan lagi sekadar kegiatan, tapi sebuah jendela yang membuka kesempatan bagi saya untuk mengeksplorasi dunia literasi. Kebiasaan menulis yang saya bangun melalui surat-surat itu membuat saya lebih peka terhadap detail, lebih hati-hati dalam memilih kata, dan lebih mampu menyusun narasi yang baik.

Kini, setelah lebih 25 tahun zaman bersurat-suratan itu terlewati, saya hidup dari karang-mengarang alias tulis-menulis. Tulisan-tulisan saya tidak hanya menjadi sarana untuk berbagi pemikiran dan perasaan, tapi juga menjadi sumber mata pencaharian. Setiap karya yang saya hasilkan, baik itu esai, cerita pendek, puisi, atau novel memiliki jejak dari perjalanan panjang saya bersama surat dan perangko. Korespondensi dan filateli telah menjadi batu pijakan yang membawa saya ke dunia literasi yang lebih besar.

Bagi saya, dunia menulis dimulai dari sepucuk surat sederhana, dan saya percaya bahwa surat-surat tersebut akan selalu menjadi bagian penting dari proses kreatif saya. Korespondensi memberi saya pelajaran tentang kekuatan kata-kata, filateli memperkaya wawasan saya, dan semuanya bermuara pada sebuah perjalanan panjang dalam dunia karang-mengarang.

Hingga kini, saya merasa bahwa setiap kata yang saya tulis, selalu ada jejak dari masa-masa itu, masa di mana sebuah surat kecil bisa menghubungkan dunia, dan perangko kecil bisa bercerita lebih dari yang terlihat.

Terima kasih, Pos Indonesia, wabilkhusus kepada Pak Pos, yang setia mengirim dan mengantarkan surat-surat saya. Selamat merayakan Hari Pos Sedunia, 9 Oktober. Menyala terus Pos Indonesia. []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis

Penulis: Muhammad Subhan
Editor: Supriadi Buraerah

TR Fahsul Falah — InsertRakyat.com
INSERT RAKYATMAJALAH DIGITAL
FEATURE STORY

Birokrasi · Aparatur · Indonesia 2045

BerAKHLAK Menjiwai Birokrasi TR Fahsul Falah Menuju Indonesia Emas 2045

Perjalanan kedinasan di lingkungan Kementerian Dalam Negeri, pengembangan kompetensi aparatur, dan nilai dasar ASN dalam kerangka pembangunan nasional.

Cerita TR · Perjalanan Kedinasan

InsertRakyat.com — TR Fahsul Falah menjalani tiga penugasan di lingkungan Kementerian Dalam Negeri sepanjang 2018–2022, mulai dari Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kemendagri Regional Bandung, PPSDM Kemendagri Regional Makassar, hingga Sekretariat Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemendagri. Perjalanan kedinasannya kemudian berlanjut ke bidang strategi kebijakan. Saat ini, Oktober 2026, ia menjabat Kepala Pusat Strategi Kebijakan Kewilayahan, Kependudukan, dan Pelayanan Publik pada Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kemendagri.

Pada 2018–2020, TR bertugas sebagai Kepala Bidang Pengembangan Kompetensi Jabatan Fungsional, Pelaksana, Kepala Daerah, Wakil Kepala Daerah, DPRD, dan Lurah di PPSDM Kemendagri Regional Bandung. Pada 2019, ia mengikuti Training of Facilitator untuk Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil dengan Agenda ANEKA. Pada tahun yang sama, ia juga mengikuti pelatihan untuk PNS yang beralih melalui mekanisme inpassing ke jabatan fungsional Pengawas Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan di Daerah.

Pada 2020, TR mendapat penugasan sebagai Kepala PPSDM Kemendagri Regional Makassar. Wilayah kerja lembaga tersebut mencakup sepuluh provinsi, yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.

Salah satu kegiatan pada masa penugasan itu ialah Pelatihan Kepemimpinan Administrator Angkatan III yang berlangsung pada 15 September hingga 18 Desember 2020 dengan metode blended learning. Pesertanya berasal dari Kabupaten Bone, Bantaeng, dan Bulukumba di Sulawesi Selatan, serta Kabupaten Buton di Sulawesi Tenggara. TR menyampaikan laporan penyelenggaraan pelatihan tersebut.

Pada November 2020, ia juga terlibat dalam evaluasi program dan pembahasan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) 2021 bersama Lembaga Administrasi Negara (LAN) Makassar. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian evaluasi program dan perencanaan anggaran di lingkungan PPSDM Kemendagri Regional Makassar.

Pada 2022, TR mengemban tugas sebagai Sekretaris BPSDM Kemendagri. Penugasan berikutnya membawanya ke BSKDN Kemendagri, tempat ia kini menjabat Kepala Pusat Strategi Kebijakan Kewilayahan, Kependudukan, dan Pelayanan Publik. Bidang tugas tersebut berkaitan dengan strategi kebijakan pemerintahan dalam urusan kewilayahan, kependudukan, dan pelayanan publik.

Perjalanan kedinasan tersebut berlangsung dalam konteks penyelenggaraan pemerintahan nasional yang terus berkembang. Sejak kemerdekaan, Indonesia dipimpin oleh presiden dengan agenda, kebijakan, dan tantangan yang berbeda pada setiap masa pemerintahan. Pembangunan nasional berjalan melalui rangkaian keputusan dan program yang dilaksanakan oleh lembaga negara serta aparatur pemerintahan.

Dalam pidato kenegaraan pada 16 Agustus 2016 di hadapan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI, Presiden RI ke-7 Joko Widodo menyampaikan penghargaan terhadap kontribusi para presiden terdahulu, yakni Presiden RI ke-1 Soekarno, Presiden RI ke-2 Soeharto, Presiden RI ke-3 B.J. Habibie, Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid, Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri, dan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono.

Dalam pidato kenegaraan pada 15 Agustus 2025, Presiden RI ke-8 Prabowo Subianto juga menguraikan kontribusi para pemimpin sebelumnya. Presiden RI ke-1 Soekarno dikaitkan dengan pembentukan Republik Indonesia, upaya mempertahankan keutuhan wilayah, dan integrasi Irian Barat ke dalam NKRI. Pada masa Presiden RI ke-2 Soeharto, agenda pemerintahan mencakup pembangunan ekonomi, swasembada pangan, dan industrialisasi.

Presiden RI ke-3 B.J. Habibie memimpin Indonesia ketika negara menghadapi krisis multidimensi pada 1998, termasuk persoalan stabilitas ekonomi dan pengembangan teknologi. Pada masa Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid, stabilitas nasional serta hubungan antarkelompok masyarakat menjadi bagian dari dinamika pemerintahan. Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri memimpin pada masa pemulihan ekonomi dan penguatan kelembagaan negara, termasuk menjelang pelaksanaan pemilihan presiden secara langsung pada 2004.

Pada masa Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, pemerintah menangani penyelesaian konflik Aceh dan menghadapi krisis keuangan global. Presiden RI ke-7 Joko Widodo menempatkan pembangunan infrastruktur, hilirisasi, dan penanganan pandemi Covid-19 sebagai bagian penting dari agenda nasional. Sementara itu, Presiden RI ke-8 Prabowo Subianto mengangkat ketahanan pangan, pembangunan sumber daya manusia, peningkatan kesejahteraan, dan pencapaian Indonesia Emas 2045 sebagai agenda pembangunan.

Pelaksanaan agenda nasional tersebut melibatkan berbagai unsur pemerintahan. Aparatur sipil negara (ASN) menjalankan tugas sesuai fungsi dan kewenangan masing-masing, mulai dari perencanaan, pelaksanaan program, pengelolaan administrasi dan anggaran, hingga pelayanan kepada masyarakat. Di tingkat pusat maupun daerah, pekerjaan aparatur menjadi bagian dari proses pelaksanaan kebijakan pemerintah.

Nilai dasar ASN

Dalam penyelenggaraan tugas tersebut, nilai dasar ASN BerAKHLAK menjadi pedoman perilaku aparatur. Nilai ini ditetapkan melalui Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 20 Tahun 2021. BerAKHLAK mencakup tujuh nilai dasar, yaitu Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif, dengan semboyan “Bangga Melayani Bangsa”.

Berorientasi Pelayanan menekankan pemenuhan kebutuhan masyarakat melalui pelayanan yang sesuai ketentuan. Akuntabel berkaitan dengan tanggung jawab atas pelaksanaan tugas, penggunaan kewenangan, dan pengelolaan sumber daya. Kompeten menekankan penguasaan pengetahuan serta keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan. Harmonis berkaitan dengan penghormatan terhadap perbedaan dan hubungan kerja yang baik.

Loyal berarti memegang teguh Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta pemerintahan yang sah sesuai ketentuan. Adaptif berkaitan dengan kemampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan. Kolaboratif menekankan kerja sama antarpihak dalam pelaksanaan tugas dan pencapaian tujuan organisasi.

Ketujuh nilai tersebut menjadi bagian dari kerangka perilaku ASN dalam menjalankan tugas pemerintahan. Penerapannya berkaitan dengan tata cara memberikan pelayanan, mempertanggungjawabkan pekerjaan, meningkatkan kompetensi, menjaga hubungan kerja, memegang teguh ketentuan, menyesuaikan diri dengan perubahan, serta membangun kerja sama.

Dalam perjalanan kedinasan TR Fahsul Falah, penugasan di PPSDM Kemendagri Regional Bandung, PPSDM Kemendagri Regional Makassar, Sekretariat BPSDM Kemendagri, dan BSKDN Kemendagri tercatat dalam rentang tugas yang berbeda. Masing-masing berada pada lingkungan kerja dengan ruang lingkup tanggung jawab yang berkaitan dengan pengembangan kompetensi aparatur, administrasi kelembagaan, dan strategi kebijakan pemerintahan.

Indonesia Emas 2045 merupakan sasaran pembangunan jangka panjang yang mencakup berbagai bidang, termasuk sumber daya manusia, perekonomian, tata kelola pemerintahan, dan pelayanan publik. Pencapaiannya melibatkan peran pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga negara, dunia usaha, dan masyarakat. Dalam lingkup pemerintahan, ASN menjalankan tugas sesuai kedudukan, kewenangan, dan tanggung jawabnya.

Nilai dasar BerAKHLAK menjadi salah satu pedoman bagi ASN dalam melaksanakan tanggung jawab tersebut. Semboyan “Bangga Melayani Bangsa” melekat pada agenda penguatan budaya kerja aparatur, sedangkan pelaksanaan tugas sehari-hari berlangsung melalui prosedur, program, koordinasi, dan pertanggungjawaban sesuai ketentuan. Dalam kerangka pembangunan menuju Indonesia Emas 2045, birokrasi menjadi bagian dari pelaksanaan agenda nasional melalui pekerjaan aparatur di setiap tingkat pemerintahan.

Penulis: Muhammad Subhan

Editor: Supriadi buraerah

INSERT RAKYATMAJALAH DIGITAL · MOBILE EDITION