PADA zaman silam sebut saja di negeri Baghdad, pada masa ketika istana dipenuhi cendekia, hulubalang ilmu, serta para penulis hikmah, tersebar suatu kebiasaan di kalangan para pembesar. Mereka mulai menjunjung tinggi sehelai warkah kelulusan pendidikan atau tanda kelulusan keilmuan, seolah-olah lembaran itu menjadi timbangan utama bagi kadar akal dan kemuliaan seseorang. Barang siapa memilikinya, ia dianggap berderajat tinggi, meski isi pikirannya belum tentu sebanding dengan kemegahan kertas yang dibawanya.

Dalam suasana demikian, muncullah Abu Nawas, seorang yang masyhur dalam hikayat lama karena kelincahan budi dan ketajaman berpikir. Inti kejeniusan dibalut kejenakaan. Ia tidak menentang dengan kasar, tmelainkan menyampaikan isyarat makna melalui permainan kata yang mengundang tawa sekaligus renungan, bahkan penulis artikel ini ikut tersentak ketika uraian ini membuat pembaca yang budiman berpikir sehat.

Tatkala pada suatu hari, ketika para pembesar istana berkumpul dalam majelis ilmu dan kebanggaan, masing-masing memperlihatkan warkah kelulusan pendidikan mereka dengan penuh rasa megah, Abu Nawas pun hadir membawa sebuah peti kecil daripada kayu tua.

Lebih jelasnya diceritakan, langkah tenang dan wajah yang tidak terusik oleh riuh kebanggaan orang lain, Abu Nawas pun berhati-hati tak berani berkata bahawa dirinya juga memiliki tanda kelulusan keilmuan yang tidak kurang hebatnya.

Perkataan itu jika sempat terucap kemungkinan segera mengundang perhatian seluruh yang hadir. Ada yang mengangkat alis, ada yang tersenyum, dan ada pula yang menanti dengan penuh ingin tahu, seakan-akan hendak menyaksikan sesuatu yang luar biasa “dokumen” Keilmuan. Untung Abu Nawas tak bilang punya dokumen itu. Hampir saja dibuat berkeringat panas.

Dalam pada itu, Abu Nawas dikisahkan membuat sebuah simulasi, untuk mengubah cara pandang hingga membuka tabir dibalik tirai.

Maka dibukalah satu peti kisah masa itu, dengan perlahan, disaksikan oleh mata dunia. Akan tetapi, alangkah terperanjatnya mereka, kerana di dalamnya tiada sehelai warkah, tiada tulisan, tiada cap, melainkan kekosongan semata, dokumen yang selama ini disebut tanda keilmuan hanya sebuah argumentasi intelektual, tanda setiap individu pernah berpikir sehat.

Sejenak suasana menjadi hening, seolah-olah waktu berhenti beredar. Lalu terdengar suara keheranan bercampur geram daripada salah seorang pembesar.

“Apa maksud engkau membawa peti kosong ini?” bunyi potret pikiran orang yang sedang membaca artikel ini, tidaklah bedanya dengan dalam pada itu bila hal demikian adanya pernah menggaris satu takdir dalam cerita Abu Nawas.

Abu Nawas bertutur kata. “Wahai tuan-tuan yang mulia, kekosongan ini bukanlah tiada isi, melainkan cerminan kepada keadaan yang sering kita abaikan. Tidak sedikit orang yang memiliki warkah kelulusan pendidikan, namun hatinya kosong daripada hikmah, dan akalnya tidak digunakan sebagaimana sepatutnya,”

Kata-kata itu membuatkan sebagian hadirin tersenyum hambar, sementara yang lain menunduk, seakan terkena sindiran yang tidak perlu disebut namanya. Artikel ini pun tak berani, menyebutkan nama selain Nama Abu Nawas dalam cerita ini. Toh ini special khusus untuk cerita Abu Nawas pada masa itu.

Abu Nawas melanjutkan, “Sesungguhnya warkah kelulusan keilmuan hanyalah tanda seseorang pernah menempuh jalan belajar. Adapun ilmu yang sebenar ialah yang hidup dalam pertimbangan, dalam adab, dalam kebijaksanaan ketika bertindak dan bertutur kata”

Apa pun itu, strategi selalu ada untuk cerita.

Maka diceritakan pula ternyata majelis yang semula penuh rasa megah itu pun berubah menjadi ruang renungan yang diselangi tawa, kerana cerita Abu Nawas telah mengenai tepat tanpa perlu meninggikan suara.

Demikianlah hikayat ini diceritakan sebagai hiburan semata-mata, tanpa maksud menyentuh mana-mana pihak, hanya sebagai pelengkap literasi, bahawa ilmu tidak terhenti pada warkah kelulusan pendidikan atau tanda kelulusan keilmuan, tetapi pada kebijaksanaan yang hidup dalam diri manusia yang jujur.

Terlepas daripada benar atau sekadar kisah penglipur lara, cerita ini beruntung telah dibaca oleh anda semua pembaca yang budiman. Dan semoga hari-hari yang dilalui sentiasa diberkati, dipermudahkan urusan, serta dikurniakan ketenangan dalam setiap langkah kehidupan. “Hidup literasi”. (mft/as/za).

 

Follow Insert Rakyat di whatsapp channel