SURABAYA, INSERTRAKYAT.com — Setelah siang ada sore di Surabaya bergerak perlahan dibingkai petang hingga malam penuh semangat setelah masyarakat seharian beraktifitas. 17 April 2026.
Sebelumnya pada pagi hari, aktivitas mulai tumbuh di ruas-ruas jalan, sementara di kawasan Rungkut Tengah, seorang lelaki mendorong gerobak kayu dengan ayunan dua kaki saling berganti bergerak maju. Saat ditanya, ia menjawab dengan gembira, namanya adalah pak Sunarno, yang akrab disapa Mas Narno.
Mas Narno penjual jamu keliling yang telah menekuni pekerjaannya sejak 1991 hingga kini.
Dari Pasar Sampoerna, hari-harinya dimulai. Ia menyiapkan ramuan tradisional dengan cermat, seperti kunyit asam, beras kencur, dan beberapa racikan lain yang ia pelajari dari pengalaman panjang. Semua dagangan diatur dan disusun rapi dalam botol-botol kaca di atas gerobaknya.
Setiap tahun gerobaknya juga berkias merah putih. Menandakan rakyat seutuhnya mensyukuri kemajemukan hingga kemerdekaan Indonesia kembali diperingati setiap 17 Agustus.
Pekerjaan tersebut (jual jamu, -red), ia pilih untuk menjaga keberlangsungan hidup keluarga. Waktu berjalan, dan pekerjaan itu menjadi bagian dari sepotong cerita hidup dan menghidupi keluarga. Ia tidak banyak berbicara tentang kesulitan, justru sebaliknya jejak gembira selama puluhan tahun menunjukkan daya tahan takdir yang kuat, meskipun pekerjaannya “tukang kamu” keliling.
“Saya jalani saja dengan baik (hidup ini),” tuturnya kepada kutu berita seperti diberitakan Insertrakyat.com, Jum’at malam.
Mas Narno memahami bahwa kepercayaan pelanggan tidak datang dengan sendirinya. Ia menjaga kualitas racikan, melayani dengan sopan, dan hadir secara konsisten tegas dalam tekad di jalur yang sama. Hubungan dengan pelanggan terbangun dari kebiasaan yang berulang. Sapaan ringan, percakapan singkat, dan perhatian yang tulus tanpa basa – basi.
Seorang pelanggan yang bekerja di lingkungan PT HM Sampoerna mengaku telah lama mengenalnya. Menurutnya, kehadiran Mas Narno memberi rasa dekat yang jarang ditemukan dalam interaksi sehari-hari. “Ada ketenangan dalam cara Mas Narno berbicara, juga dalam sikapnya yang tidak ditemukan pada orang lain,” ucap pelanggan.
Perjalanan sebagai penjual jamu keliling tidak selalu mudah. Cuaca, perubahan selera, hingga persaingan dengan produk modern menjadi tantangan yang harus dihadapi. Mas Narno meresponsnya dengan cara yang tenang. Ia kemudian menyesuaikan diri tanpa meninggalkan dasar yang ia pegang yaitu prinsi dan kejujuran dalam meracik jamu.
Mas Narno bilang, dirinya tidak mengejar banyak hal. Ia menjaga apa yang sudah ada; pelanggan, kualitas, dan ritme kerja. Dari situ, keberlanjutan terbentuk hingga kini, ceritanya ditulis kutu berita.
Kisah Mas Narno tidak menawarkan hal yang sedap. Ia menunjukkan bahwa ketekunan memiliki nilai yang baik. Bahwa pekerjaan yang dijalani dengan disiplin dapat membangun kepercayaan. Dan bahwa kehadiran yang konsisten sering kali lebih berarti daripada pencapaian yang cepat dan tergesa-gesa. Meskipun Mas Narno menyadari bahwa capaian yang ia raih hanya cukup untuk menyambung hidup setiap hari.
Di jalan-jalan yang ia lewati setiap hari, Mas Narno membawa jamu. Kisahnya ini adalah contoh hidup yang bersahaja dalam cerita rakyat, yang tumbuh dari kerja keras dan dijaga dengan kesungguhan.
Kelak Mas Narno pensiun, yang ganti jual jamu kutu berita demikian canda diakhir kesempatan hari ini.
Situs Sejarah Menuai Pertanyaan
Di Surabaya juga masyarakat acapkali bercerita tentang satu sejarah besar, ialah Rumah Radio Bung Tomo. Namun realita pait tak ubahnya terselip. Sebab Rumah Radio Bung Tomo tak lagi dapat digunakan untuk bercengkrama seperti pada masa 1945.
Rumah Radio Bung Tomo pada masa emas Indonesia 1945 kala itu, menjadi pusat siaran utama dalam menggerakkan perlawanan Rakyat Surabaya terhadap sisa penjajahan di atas tanah air pada 10 November. Kini situs Sejarah paling mendasar ini tidak lagi ditemukan.
Bahkan Presiden Prabowo Subianto sempat menanyakan soal Rumah Radio Bung Tomo kepada pemkot Surabaya. Kepala Negara disebut ingin situs sejarah dirawat dengan baik. Ketua Umum AMI sempat juga menyinggung Pemkot Surabaya soal situs sejarah tersebut. “Jangan sampai Presiden RI sudah menanyakan namun Pemkot Surabaya justru diam, kita perlu melestarikan budaya dan menjaga situs sejarah,” tandas Baihaki Akbar.
(Jurnalis : Refit/Redho |Editor : Supriadi Buraerah). Follow berita Insert Rakyat di whatsapp channel


























