Oleh Muhammad Subhan

KEINGINAN menyinggahi taman bacaan ini sudah lama hendak saya tunaikan, ditambah undangan pemiliknya yang berpesan kalau ke Kota Pariaman saya diminta mampir.

Tapi itulah, karena kesibukan, waktu belum juga mau diajak berkompromi.

Barulah kemarin, Jumat, 6 Februari 2026, saya benar-benar dapat singgah.

Sebelumnya, melalui pesan WhatsApp, saya sampaikan keinginan itu. Menjelang waktu Jumatan, berbekal Google Maps, saya menemukan lokasi taman bacaan ini.

Letaknya berada di permukiman padat penduduk, di jantung Kota Pariaman. Nama kantong literasi itu Taman Baca Masyarakat (TBM) Lambang. Sebelumnya bernama TBM AKS, melekatkan inisial nama pemiliknya.

Ya, AKS atau kepanjangannya Ai Kurnia Sari (AKS), seorang ibu rumah tangga dengan kegemaran membaca yang kemudian menjadi penggerak literasi adalah pengelola taman bacaan itu.

Di awal niat membuka taman bacaan, AKS kerap berkabar kepada saya, bertanya tentang bagaimana caranya membuat anak-anak di sekitar rumahnya mau membaca buku di tengah gempuran gawai.

Semangat itu tumbuh dari kebiasaan AKS membaca dan saling meminjamkan buku kepada tetangga. Aktivitas itu kemudian ia bagikan di media sosial.

Lambat laun, perpustakaan pribadinya diproklamirkan sebagai sebuah taman bacaan masyarakat.

Di awal berdiri, koleksinya tak lebih dari empat puluh buku dari berbagai genre. Namun lambat laun, berkat kegigihan dan konsistensinya, TBM Lambang telah memiliki lebih dari seribu buku.

Hampir seluruh buku yang pernah saya tulis, baik kumpulan cerpen, puisi, hingga novel, dimiliki AKS. Buku-buku itu kerap menjadi rebutan anak-anak.

“Buku-bukunya sudah pada lusuh, tapi anak-anak suka membaca,” ujar AKS gembira.

Sebagai penulis, saya bahagia melihat buku karangan saya dibaca sampai lusuh, pertanda ia benar-benar hidup di tangan pembaca.

Tentu, TBM Lambang tidak berhenti pada aktivitas membaca semata. Setiap pekan, anak-anak di sekitar taman bacaan ini didampingi dalam berbagai kegiatan, baik membaca bersama, mendengarkan dongeng, bercerita ulang, menulis pengalaman sehari-hari, hingga membuat keterampilan tangan.

Mereka juga belajar menggambar dan berkreasi, termasuk menulis.

AKS percaya, literasi bukan hanya soal huruf, tetapi juga keberanian berpikir dan percaya diri menyampaikan gagasan. Ia suka melihat anak-anak kritis yang bercerita tentang cita-cita yang tinggi.

Yang menarik, buku-buku di TBM Lambang tak hanya diam di rak. AKS kerap membawa buku-buku itu keluar dari taman bacaan. Ia membawa buku ke lapangan, ke teras rumah warga, bahkan ke ruang terbuka, lalu menggelar aktivitas membaca bersama.

Anak-anak yang semula hanya lewat, pelan-pelan ikut duduk, membuka halaman, dan tenggelam dalam berbagai cerita.

TBM Lambang juga aktif mengunjungi sekolah-sekolah. Berkolaborasi dengan guru, AKS dan relawannya menghidupkan sudut baca, mengadakan sesi mendongeng, membaca nyaring, dan menulis kreatif.

Kehadiran TBM di sekolah-sekolah itu seperti angin segar, memberi jeda dari rutinitas belajar yang padat.

Dalam perjalanannya, TBM Lambang juga mendapat banyak donasi buku dari berbagai pihak, termasuk dari Perpustakaan Nasional RI. Buku-buku itu memperkaya koleksi dan memperluas cakrawala baca anak-anak binaannya.

Bagi AKS, setiap buku yang datang bukan sekadar benda, namun juga amanah yang harus dihidupkan.

Beberapa tahun sebelum mendirikan TBM, AKS pernah menjadi peserta Kelas Menulis Daring (KMD) asuhan saya yang kini telah bertransformasi menjadi Sekolah Menulis elipsis (Sme). Dari sana, kegemarannya membaca berlanjut pada keberanian menulis.

Ia juga menulis sebuah buku tentang perjalanan hidupnya sebagai anak transmigrasi dari Negeri Pasundan ke Kepulauan Mentawai. Kisah suka duka itu kini tengah menunggu cetakan ulang.

“Banyak yang ingin membaca, tapi bukunya habis,” katanya penuh semangat.

Saya melihat benang merah yang jelas antara membaca, menulis, lalu menggerakkan literasi. TBM Lambang di Kota Pariaman ini adalah bukti bahwa literasi bisa tumbuh dari beranda rumah, dari kegigihan seorang perempuan, dari kerja-kerja tanpa pamrih yang dilakukan dengan cinta.

Di tengah hiruk-pikuk dunia digital dan perhatian yang mudah tercerai-berai, TBM Lambang memilih jalan yang tak mudah, terutama mendampingi anak-anak dari satu halaman buku ke halaman buku lainnya.

Dan justru dari situlah, masa depan generasi muda bangsa ini pelan-pelan disemai.

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis. Dan bergabung dengan Manajemen Insertrakyat.com khusus karya sastra -pelatihan literasi dan penulisan buku – novel, sejak  Januari 2026.

💬 Laporkan ke Redaksi