Oleh Muhammad Subhan

NGOPI (gobrol pintar) di hari gembira memang asyik. Apalagi yang dibicarakan adalah hal-hal yang dekat dengan keseharian; sesuatu yang tumbuh dari kegemaran, hobi, dan kecintaan yang pelan-pelan menjadi laku hidup.

Dan, salah satu hobi yang kemudian mendarah daging itu adalah literasi.

Di Pasaman Barat, Sumatra Barat, literasi bukan sekadar slogan atau program seremonial. Ia hidup dan bergerak dari rumah ke rumah, dari ruang tamu ke ruang baca, melalui percakapan yang dirawat konsistensinya.

Meski cukup jauh dari ibu kota provinsi, kantong-kantong literasi yang dikelola mandiri oleh masyarakat tumbuh subur di kabupaten penghasil sawit ini.

Di sini, literasi tidak lagi dimaknai sebatas aktivitas membaca dan menulis, melainkan gerak bersama untuk menghidupkan kesadaran, menajamkan daya pikir, dan membangun kepekaan sosial.

Salah satu simpul literasi itu adalah Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Ruang Baca Kreatif Lestari. Letaknya di Padang Tujuh.

Jika Tuan datang dari arah Padang dan tiba di Simpang Empat, berbeloklah ke kanan, lalu lurus saja. Lokasinya tak jauh dari kantor DPRD Pasaman Barat yang beratap gonjong, atau sebelum Pasar Padang Tujuh.

Minggu, 8 Februari 2026, saya memenuhi undangan Ruang Baca Kreatif Lestari. Pengelolanya Suria Tresna dan Rian, pasangan suami istri yang sejak lama “mewakafkan” waktu mereka untuk buku. Membaca dan menulis bagi mereka bukan sekadar mengisi waktu luang, tapi juga cara merawat mimpi.

Suria Tresna kebetulan adalah peserta Sekolah Menulis elipsis (SMe) yang saya ampu. Ia pembaca sekaligus penulis yang produktif. Beberapa bukunya telah lahir.

Saat ini, sebuah naskah cerita anak karyanya tengah diproses oleh sebuah penerbit mayor.

Ketika awal bergabung di SMe, saya melihat bakatnya sangat kuat di genre cerpen. Namun, seiring waktu, ia memilih menekuni dunia cerita anak. Pilihan yang tak kalah menarik, saya kira.

Kedatangan saya di komunitas ini disambut hangat oleh kawan-kawan pegiat literasi di Pasaman Barat. Mereka berasal dari Kajai, Simpang Empat, hingga Kinali. Masing-masing membawa cerita tentang simpul baca di rumah mereka.

Kami berbagi kisah tentang program-program yang tengah digerakkan, khususnya di komunitas masing-masing, terutama mendampingi anak-anak membaca, menulis, menggambar, bercerita, hingga membantu mereka menemukan bakat sendiri.

Dari penginapan, saya dijemput Rian, suami Suria Tresna. Di sepanjang perjalanan, ia bercerita bahwa Padang Tujuh pernah menjadi pusat pendidikan pertanian yang masyhur pada masanya. Banyak orang datang belajar ke sana, bahkan tenaga pengajarnya didatangkan langsung dari Jerman.

Menariknya, menurut Rian, masyarakat setempat dulu menyebut hampir semua orang asing sebagai “orang Jerman”. Hal ini karena pakar-pakar dari Jerman itulah yang paling dikenal dan membaur dengan kehidupan warga. Bukan sekadar tenaga ahli, tetapi telah menjadi bagian dari tatanan sosial kampung.

Sesampainya di Ruang Baca Kreatif Lestari, keluarga Suria Tresna menjamu makan siang ala rumahan. Semuanya terhidang di meja.

Bagi selera saya, makanan itu sungguh sedap. Aromanya menguar. Ada sambal lado teri, gulai jariang (jengkol) kering, ikan nila goreng, rebusan daun pucuk ubi, telur rebus, dan yang paling mengusik adalah gulai ikan limbek berkuah asam durian. Rasanya membuat tangan enggan berhenti menyendok nasi.

Usai makan siang, kami mengobrolkan geliat literasi di masing-masing komunitas.

Di rak buku taman bacaan ini, saya menemukan beberapa buku karya saya tersusun rapi. Menurut Suria, buku-buku itu sering direbut-baca anak-anak dan remaja sekitar. Mendengar itu saya gembira.

Diskusi berlanjut pada topik puisi dan program kreatif taman baca yang dipandu Yeni Setria, STP. Ia pengelola TBM Alfatih. Obrolan mengalir hangat tanpa jarak.

Literasi, sekali lagi, mempertemukan orang-orang dengan niat baik.

Sehabis ngobrol, saya diajak raun ke Lubuak Landua, sebuah desa wisata di Kenagarian Lubuak Landua Aua Kuniang, sekitar sembilan kilometer ke arah barat Kota Simpang Empat. Daya tarik utamanya adalah Surau Buya, pusat suluk yang sejak lama didatangi peziarah, serta ikan larangan di sungai jernih yang membelah sisi surau.

Di sungai itu, mata saya melihat banyak sekali ikan gariang berenang bebas. Anak-anak bermain air dan berinteraksi langsung dengan ikan-ikan yang dilindungi hukum adat tersebut. Fasilitas pendukung seperti rumah makan dan homestay sudah dikelola dengan baik oleh masyarakat setempat. Orang ramai datang ke sana.

Menurut cerita warga, Surau Buya dan tradisi ikan larangan ini telah berumur ratusan tahun. Surau tersebut didirikan pada 1852 oleh Tuanku Khalifah Sutan Saidina Syekh Basyir atau Buya Basyir.

Meski sempat terdampak gempa berkekuatan 6,1 SR pada 24 Februari 2022 yang menyebabkan puluhan ton ikan mati—dan ada situs Kuburan Ikan di sana—karena air yang keruh, ajaibnya, ikan-ikan itu kembali muncul dalam jumlah banyak. Seolah alam dan adat bersepakat untuk pulih bersama.

Setiap tahun, masyarakat juga menggelar Perayaan Gayo Anam atau Manjalang Buya. Tradisi ini diawali dengan puasa sunah enam hari setelah Idulfitri dan menjadi magnet wisata yang memperlihatkan kuatnya ikatan antara spiritualitas, adat, dan kehidupan sosial.

Saya asyik menikmati sungai berbatu itu sembari melihat ikan-ikan yang berenang bebas, membawa ingatan saya pada kisah-kisah yang sering diceritakan ibu saya saat kecil, khususnya tentang sungai, ikan larangan, dan kearifan lokal yang diwariskan lewat tutur. Ibu saya orang Kajai, sebuah kampung di kaki Gunung Talamau yang puncaknya tinggi menjulang.

Hari itu, saya merasa sedang menapaki kembali ingatan kolektif yang tak pernah benar-benar hilang di Pasaman Barat.

Literasi, saya kira, bekerja dengan cara yang serupa. Ia menjaga ingatan, merawat kearifan, dan menghubungkan masa lalu dengan hari ini.

Dan, kemarin, di antara obrolan hangat dan gulai ikan limbek berkuah asam durian yang sedap di Ruang Baca Kreatif Lestari itu, ada banyak hal yang ingin saya rawat dalam tulisan. Tak lain agar ingatan tak lekas karatan.

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, fouder Sekolah Menulis elipsis