MALUKU, INSERTRAKYAT.com – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat laporan kejadian Gempa Bumi yang mengguncang kawasan Pantai Selatan Maluku Tengah pada Minggu, dini hari (11/1/2026) tepat pukul 03.43 WIB.

Gempa tersebut mulanya dinyatakan memiliki kekuatan magnitudo M5,1. Namun, setelah dilakukan pembaruan data dan analisis lanjutan, BMKG memperbarui parameter gempa menjadi magnitudo M4,9. Episenter gempa berada pada koordinat 7,07 derajat Lintang Selatan dan 129,62 derajat Bujur Timur, tepatnya di tengah laut dengan jarak sekitar 212 kilometer arah barat laut Tanimbar, Maluku, dengan kedalaman 180 kilometer.

Direktur Gempa bumi dan Tsunami BMKG, Dr. Daryono, S.Si., M.Si., dalam keterangan tertulis yang diterima Insertrakyat.com pukul 07.13 WIB, menjelaskan bahwa gempa tersebut tergolong sebagai gempa bumi menengah. Kedalaman hiposenter yang cukup dalam menunjukkan bahwa sumber gempa berasal dari aktivitas deformasi batuan di dalam lempeng Laut Banda.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi ini merupakan jenis gempa bumi menengah akibat aktivitas deformasi batuan dalam lempeng Laut Banda,” jelas Dr. Daryono.

Lebih lanjut, hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa memiliki mekanisme pergerakan turun atau normal fault. Karakteristik ini menggambarkan proses pelepasan energi yang terjadi di zona tektonik aktif, namun tidak mengarah pada potensi pembangkitan tsunami.

Berdasarkan estimasi peta guncangan atau shakemap BMKG, gempa tersebut menimbulkan guncangan di beberapa wilayah. Daerah Amahai di Maluku Tengah, Pulau-Pulau Babar di Maluku Barat Daya, serta Pulau Wetang merasakan getaran dengan skala intensitas III MMI. Pada tingkat ini, getaran dirasakan nyata di dalam rumah dan terasa seperti ada kendaraan berat yang melintas.

Meski guncangan sempat dirasakan warga, hingga saat ini belum ada laporan mengenai dampak kerusakan bangunan akibat gempa tersebut. BMKG juga memastikan bahwa hasil pemodelan menunjukkan gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

“Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami,” tegas Dr. Daryono.

BMKG terus melakukan pemantauan pascagempa. Hingga pukul 04.10 WIB, hasil monitoring belum menunjukkan adanya aktivitas gempa susulan atau aftershock di sekitar lokasi episenter.

Seiring dengan itu, kata Daryono, [BMKG] mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Warga di wilayah yang merasakan guncangan diminta untuk tetap waspada terhadap kondisi lingkungan sekitar.

“Masyarakat juga disarankan menghindari bangunan yang mengalami retakan atau kerusakan akibat gempa, serta memastikan rumah tempat tinggal cukup aman dan tahan gempa sebelum kembali beraktivitas di dalamnya.Hal ini penting untuk mencegah risiko yang dapat membahayakan keselamatan,” tandasnya.