Oleh Muhammad Subhan

SAYA bersyukur pernah memiliki guru-guru yang mendorong saya membaca buku dan menulis sejak duduk di bangku SMP dan SMA.

Pada masa itu, media sosial belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Hiburan yang paling menyenangkan adalah pergi ke perpustakaan, menyusuri rak demi rak buku, lalu pulang ke rumah dengan kepala penuh gagasan yang ingin dituliskan.

Dari situlah saya belajar bahwa membaca dan menulis bukan sekadar kewajiban akademik, tetapi juga kebutuhan batin.

Keteladanan guru-guru saya itulah yang perlahan menular pada diri saya, hingga hari ini.

Mereka tidak hanya menyuruh kami membaca, tetapi juga memperlihatkan kecintaan mereka pada buku.

Mereka tidak hanya memberi tugas menulis, tetapi juga menikmati proses menulis itu sendiri.

Tanpa disadari, benih-benih kecintaan pada dunia literasi tumbuh dalam diri saya.

Hingga kemudian, bertahun-tahun setelahnya, saya memilih jalan hidup sebagai penulis, sebuah pilihan yang akarnya berawal dari ruang kelas dan sosok guru.

Menulis, bagi siapa pun yang mampu menyelaminya, adalah aktivitas yang mengasyikkan.

Menulis membuka pintu-pintu tak terduga: perjumpaan dengan gagasan baru, jejaring pertemanan, kesempatan berbagi, bahkan peluang profesional.

Menulis juga menjadi cara untuk memahami diri sendiri dan lingkungan sekitar dengan lebih jernih.

Bagi guru, menulis memiliki manfaat yang jauh lebih dalam, karena ia berkelindan langsung dengan peran mendidik dan membentuk generasi.

Pengalaman itu kembali terasa ketika saya hadir memenuhi undangan sebagai narasumber Workshop Menulis Kreatif bertajuk “Membukukan Puisi” yang diselenggarakan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia Kementerian Agama Pasaman Barat, Senin, 9 Februari 2026, di MTsN 4 Pasaman Barat.

Sekitar dua puluhan guru mengikuti pelatihan tersebut. Mereka datang dengan latar belakang kesibukan yang beragam, bahkan dari pelosok Pasaman Barat yang jauh, tetapi dipersatukan oleh semangat ingin menulis, ingin membukukan karya.

Di ruang workshop itu, saya melihat kembali nyala literasi yang dulu saya temukan pada guru-guru saya.

Ada kegugupan, ada keraguan, tetapi juga ada antusiasme yang tulus.

Para guru berdiskusi tentang diksi, imaji, dan keberanian mengekspresikan perasaan melalui puisi. Mereka saling menyemangati, seolah menemukan kembali sisi kreatif yang mungkin lama terpendam oleh rutinitas administratif dan beban mengajar.

Pertanyaannya kemudian, mengapa guru harus menulis buku? Bukankah tugas utama guru adalah mengajar di kelas?

Justru di sinilah letak jawabannya.

Mengajar dan menulis bukan dua hal yang saling meniadakan, namun saling menguatkan.

Guru yang menulis akan memiliki kedalaman materi, keluasan perspektif, dan kepekaan bahasa yang lebih terasah.

Ia tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga menghadirkan pengalaman intelektual.

Buku teks pelajaran tentu sangat penting sebagai rujukan utama dalam proses belajar-mengajar. Namun, buku-buku pengayaan sebagai sumber bacaan siswa tidak kalah penting.

Buku pengayaan memberi ruang bagi siswa untuk melihat pengetahuan dari sudut pandang yang lebih luas dan kontekstual.

Ketika buku pengayaan itu ditulis oleh guru mereka sendiri, kedekatan emosional pun tercipta.

Siswa membaca bukan sekadar karena kewajiban, tetapi karena rasa ingin tahu terhadap gagasan gurunya.

Lebih dari itu, guru yang menulis buku menghadirkan keteladanan nyata. Ia tidak hanya berdiri di depan kelas mengajarkan teori, tetapi membuktikan bahwa ia sendiri mampu menulis dan menerbitkan karya.

Keteladanan semacam ini jauh lebih kuat daripada seribu ceramah atau nasihat.

Siswa akan melihat bahwa menulis adalah sesuatu yang mungkin, sesuatu yang bisa dilakukan oleh orang terdekat mereka.

Manfaat guru menulis buku juga terasa bagi dunia pendidikan secara lebih luas.

Buku karya guru sering lahir dari pengalaman nyata di kelas, dari interaksi langsung dengan siswa, dari problem konkret yang dihadapi sehari-hari.

Karena itu, buku-buku tersebut cenderung lebih membumi, relevan, dan kontekstual.

Ia menjadi jembatan antara teori pendidikan dan praktik lapangan.

Bagi guru sendiri, menulis buku adalah proses pengembangan profesional yang berkelanjutan.

Menulis melatih disiplin, ketekunan, dan kemampuan refleksi.

Guru belajar mengevaluasi praktik mengajarnya, merumuskan kembali gagasan, dan memperbaiki diri.

Dalam jangka panjang, budaya menulis akan membangun ekosistem pendidikan yang lebih sehat, kritis, dan kreatif.

Buku adalah jejak pemikiran yang bisa melampaui ruang dan waktu.

Ketika seorang guru menulis buku, ia sedang menanam benih pengetahuan yang kelak mungkin tumbuh di tangan siswa-siswanya, bahkan jauh setelah ia tak lagi berdiri di depan kelas.

Dan di situlah, peran guru menemukan eksistensi paling hakikinya.

Selamat menulis, selamat berkarya bapak dan ibu guru Bahasa Indonesia MGMP Pasaman Barat.

Di kabupaten ini pernah lahir tokoh novelis pertama Indonesia, Sariamin Ismail atau Selasih atau Selasih Selaguri. Dan tak mustahil, penulis-penulis masa depan yang mengikuti jejak sastrawati itu akan kembali lahir. Mereka menyikapi dan melampaui zamannya.

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis