Presiden RI, Prabowo Subianto bersama Menteri dengan membahas program nasional pada 24 Juli. (Sumber Foto: BPMI Setpres).
OPINI, INSERTRAKYAT.COM,— Dalam konsep demokrasi yang semakin terbuka, rakyat Indonesia tak lagi sekadar menunggu melulu untuk dimbaua. “Rakyat untuk Masyarakat”. Mereka mulai tampil sebagai pelaku aktif yang sadar akan bahaya disinformasi (Hoaks). Hoaks bukan sekadar salah kirim informasi. Hoaks telah menjelma sebagai alat perusak logika, pelumpuh akal sehat, dan pemecah kesatuan bangsa. Dalam diamnya negara, rakyat justru bergerak. Sebuah gerakan yang disebut Rakyat Untuk Masyarakat, kini bergaung dari kampung ke Istana Negara, tempat Prabowo Subianto Presiden RI menerima surat yang dikirim oleh Rakyatnya, dari lorong kampung, disini (ia) Rakyat mengangkat dahu lalu melakukan kampanye melawan hoaks. [Isi Surat bagian A1-penulis]. Sebelumya kami segenap Rakyat untuk Masyarakat, mengucapkan terima kasih banyak atas kesempatan dan kepercayaan Negara berserta Pucuk Pimpinan Tertinggi ialah Prabowo Subianto, Kampanye melawan hoaks dilakukan oleh Rakyat demi kemajemukan dalam kehidupan bermasyarakat.
Kampanye anti Hoax yang digagas oleh Rakyat untuk Masyarakat ini bukan kampanye yang disponsori, bukan proyek dari institusi, bukan pula agenda politik. Ini murni kampanye kesadaran. Warga, dari berbagai latar belakang, saling mengingatkan. Di pos ronda misalnya terpajang spanduk kecil: “Periksa dulu sebelum sebar!” Di pengajian, ustaz menyisipkan pesan: jangan telan semua berita tanpa nalar. Di warung kopi, obrolan pagi disulap menjadi diskusi cerdas. Semua berangkat dari keresahan yang sama: hoaks telah menyusup terlalu dalam, ke dalam hidup sehari-hari.
Rakyat menyadari, mereka sedang berhadapan dengan senjata digital yang lebih berbahaya dari peluru. Hoaks menyebar cepat, merusak lebih dalam, dan meninggalkan luka sosial. Hoaks meruntuhkan kepercayaan sosial, memecah belah komunitas, dan menghancurkan reputasi dalam hitungan detik. Dan rakyat, sadar betul, satu-satunya tameng yang bisa mereka andalkan adalah nalar yang terjaga.
Gerakan Anti Hoaks tentu didukung oleh keinginan yang kuat, banyak individu kini berusaha “bangkit” dari pengalaman panjang sebagai korban Hoaks. Terlalu banyak keluarga pecah karena isu palsu. Terlalu sering masyarakat tersulut amarah karena informasi Hoaks. Terlalu lama ruang publik dikotori narasi dusta yang dikemas seolah fakta. Maka kampanye rakyat ini hadir bukan hanya sebagai bentuk penolakan Hoaks, tetapi sebagai bentuk cinta. Cinta pada kebenaran. Cinta pada sesama. Cinta pada tanah air. Dan Cinta terhadap program Asta Cita Presiden Prabowo. Bayangkan jika Hoaks menghambat arus pembangunan dan kemajuan bangsa ini, banyangkan jika Hoaks meruntuhkan Marwah Asta Cita.
Kampanye anti Hoaks, [Rakyat untuk Masyarakat] bersuara lembut tapi tegas. Tidak menyerang, tapi menyadarkan. Tidak mencaci, tapi mengajak. Di sekolah, guru mengajarkan muridnya mengecek sumber informasi. Di keluarga, orang tua mulai belajar membedakan mana berita valid, mana hoaks. Di masjid, di gereja, di pura, di wihara, para pemuka agama mengingatkan umat agar tidak mudah terpancing oleh kabar tak pasti. Ini revolusi senyap, namun bergema nasional. Maka cembung lah anda yang tidak ikut dalam kampanye anti Hoaks.
Rakyat bergerak karena tak ingin lagi dibohongi. Mereka tak mau jadi alat politik murahan yang dimainkan lewat konten viral. Mereka ingin lingkungan informasi yang sehat, waras, dan membangun. Mereka lelah diseret dalam pusaran Hoaks.
Sayangnya, sebagian elite belum menyadari pentingnya gerakan ini. Rakyat sudah bergerak, bersama negara, semoga tidak ada pihak yang tinggal terseok dan membiarkan Hoaks mewabah. Bahaya (Hoaks) merajalela. Ini ironi yang harus segera dikoreksi. Negara tak boleh tertinggal dari rakyatnya dalam hal menjaga akal sehat bangsa.
Pemerintah sebagai pelindung ruang logika publik. Kominfo harus lebih mengedukasi daripada memblokir semena-mena. Dewan Pers perlu memperkuat media arus utama sebagai pilar literasi. Lembaga pendidikan perlu mendekatkan kurikulum dengan realitas digital. Tanpa dukungan struktural, kampanye Anti Hoaks ini hanya akan menjadi bara kecil yang padam perlahan dan tak membekas di era Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto bersama wakilnya Gibran Rakabuming Raka.
Media massa, sebagai tulang punggung demokrasi, memikul tanggung jawab besar. Mereka tak hanya harus netral, tapi juga kritis dan jujur. Rakyat butuh berita, bukan bumbu. Butuh fakta, bukan framing. Butuh kecepatan, tapi juga ketelitian. Media harus kembali menjadi penjaga pintu gerbang informasi, bukan penebar sensasi yang membunuh refleksi.
Kampanye hoaks versi rakyat ini patut diposisikan sebagai gerakan nasional. Kampanye Anti Hoaks bukan sekadar inisiatif lokal, tapi bentuk baru perlawanan budaya. Kampanye Hoaks ini mendukung kampanye yang telah dilakukan oleh Pemerintah yang hasilnya belum efektif. Dalam narasi yang dibangun oleh Rakyat, kita bisa melihat harapan. Harapan akan demokrasi yang lebih sehat. Harapan akan masa depan yang dipandu akal sehat, bukan dikendalikan nafsu terselubung yang dibungkus dengan Informasi hoaks. Harapan akan republik yang tetap waras di tengah badai kebohongan. Kejaksaan Agung dihantam Hoaks. Kementerian di Hantam Hoaks, Hingga Rakyat bosan melihat kejadian itu, namun tidak tinggal diam, kini rakyat untuk Masyarakat bergerak untuk melakukan kampanye Anti Hoaks.
Mari beri ruang, mari beri dukungan, mari beri panggung pada gerakan ini. Karena sejatinya, kekuatan republik ini tidak hanya ditentukan di ruang rapat pejabat tinggi. Namun adakalanya ditentukan juga di warung kopi kecil yang penuh obrolan jujur. Di grup WhatsApp ibu-ibu yang saling mengingatkan agar tak menyebar gosip. Di mimbar sekolah dasar tempat anak-anak diajari kebenaran. Dan di dalam hati rakyat yang ingin tetap berpikir lurus.
Jika kampanye ini terus tumbuh dan dijaga, bukan mustahil kita akan melihat Indonesia yang lebih cerdas secara digital. Rakyat yang tak mudah dibohongi. Anak-anak muda yang tidak terjebak ilusi viral. Orang tua yang bijak membaca kabar. Dan para pemimpin yang malu menyebar dusta.
Kita tidak sedang membangun negara teknologi semata. Kita sedang membangun peradaban akal sehat. Dan kampanye hoaks oleh rakyat adalah pondasinya. Presiden RI buka mata.
(Oleh: Rakyat – Masyarakat)





























