BANJIR bandang melanda wilayah Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, pada Senin (5/1/2026) sekitar pukul 03.00 WITA.
Bencana terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan tersebut dan memicu luapan aliran sungai ke permukiman warga dan fasilitas publik.
Kelurahan Bahu, Kecamatan Siau Timur, Kampung Peling Sawang dan Kampung Paseng, Kecamatan Siau Barat adalah lokasi yang paling terdampak.
Di sana, material lumpur, batu, dan kayu dilaporkan menutup akses jalan dan menghambat aktivitas masyarakat.
Merespons kejadian tersebut, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bergerak cepat dengan mengerahkan personel teknis serta menyiagakan alat berat untuk mendukung penanganan darurat di lokasi terdampak.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan fungsi pemerintah pusat dalam membantu daerah terdampak bencana, termasuk wilayah kepulauan dengan tantangan geografis yang kompleks.
“Kementerian PU langsung menangani dampak banjir bandang ini dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia. Keselamatan warga dan percepatan pemulihan menjadi prioritas utama,” tegas Menteri Dody di Jakarta.
Sebagai langkah tanggap darurat, Kementerian PU melalui balai teknis terkait telah menurunkan personel lapangan serta menyiagakan dua unit alat berat untuk evakuasi, pencarian korban, dan pembersihan material banjir.
Selain itu, tiga unit excavator tambahan dari Kota Manado telah disiapkan untuk segera dimobilisasi ke Kabupaten Kepulauan Sitaro.
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi I Manado, Sugeng Harianto, menyampaikan bahwa koordinasi intensif terus dilakukan, khususnya terkait keterbatasan akses transportasi antarpulau.
“Kapal menuju Pulau Siau sudah tersedia dan alat berat tambahan akan segera dikirim. Saat ini, alat berat juga sudah mulai beroperasi di lokasi terdampak,” ungkap Sugeng seperti dikutip InsertRakyat.com dalam keterangan resmi Humas Kementerian PU, Selasa, (6/1/2025).
Sugeng mengakui, kondisi geografis kepulauan menjadi tantangan tersendiri dalam mobilisasi peralatan. Meski demikian, sinergi lintas sektor terus diperkuat agar penanganan berjalan optimal.
Penanganan banjir bandang dilakukan secara terpadu bersama BPBD, Basarnas, dan unsur Forkopimda setempat. Fokus utama diarahkan pada pembukaan akses wilayah terdampak, evakuasi warga, serta pencarian korban.
Di sisi lain, Kementerian PU juga melakukan identifikasi awal kerusakan infrastruktur, meliputi jaringan sungai, badan jalan, dan prasarana pendukung. Hasil identifikasi ini akan menjadi dasar penyusunan langkah pemulihan lanjutan pasca bencana. Tak ada korban jiwa dalam laporan Resmi Kementrian PU.





























