SINJAI — Penolakan terhadap rencana pembukaan aktivitas pertambangan Sinjai Sulawesi Selatan, terus melebar. Isyal Aprisal, Jenderal Lapangan Aliansi Mahasiswa, Pemuda dan Rakyat (AMPERA) Sinjai, kembali menyerukan peringatan keras kepada pihak-pihak yang mendorong masuknya investasi tambang ke wilayah tersebut. Jum’at, (14/11/2025)
Isyal menegaskan bahwa kebijakan apa pun yang berpotensi mengusik ruang hidup masyarakat Sinjai akan berhadapan langsung dengan kekuatan rakyat. Menurutnya, rencana tambang ini bukan hanya tidak memiliki kejelasan, tetapi juga menyimpan ancaman besar terhadap keberlanjutan lingkungan dan keselamatan warga.
Ia menyebut pengalaman di berbagai daerah sebagai bukti konkret bahwa aktivitas pertambangan kerap meninggalkan jejak kerusakan. “Jika tambang dipaksakan masuk, bersiaplah melihat masyarakat Sinjai mengungsi dari kampungnya sendiri. Bukan kesejahteraan yang datang, tetapi bencana ekologis dan sosial. Tidak ada satu pun tambang yang benar-benar menghadirkan kemakmuran; yang ada hanya luka terhadap alam dan penderitaan bagi rakyat,” tegas Isyal seperti dikutip keterangannya yang diterima Insertrakyat.com, pukul 21.41 WITA.
Menurutnya, pola kerusakan akibat pertambangan di sejumlah daerah lain sudah berulang. Contohnya, hutan rusak, tanah retak, sungai tercemar, banjir meningkat, dan masyarakat lokal kehilangan ruang hidup. Karena itu, AMPERA Sinjai menolak keras segala bentuk eksploitasi yang mengabaikan keselamatan ekologis dan hak masyarakat.
Isyal juga menyoroti minimnya transparansi dalam pembahasan rencana tambang. Ia mempertanyakan kejelasan dokumen AMDAL, partisipasi publik dalam proses sosialisasi, hingga motif sejumlah pihak yang membuka ruang bagi perusahaan tambang tanpa mempertimbangkan risiko jangka panjang.
“Sinjai bukan untuk diperjualbelikan. Pemerintah daerah seharusnya berdiri di sisi rakyat, bukan menjadi pintu masuk kerusakan yang hanya menguntungkan segelintir elite. AMPERA Sinjai tidak akan tinggal diam. Kami siap mengonsolidasikan rakyat, mahasiswa, dan seluruh elemen sipil untuk turun menolak kebijakan yang mengancam masa depan daerah ini,” tambahnya.
AMPERA Sinjai menilai keselamatan ruang hidup jauh lebih berharga dibanding keuntungan sesaat yang dijanjikan perusahaan tambang. Bumi Panrita Kitta, dengan kekayaan alam, budaya, dan sejarahnya, dinilai layak dipertahankan sebagai wilayah berkelanjutan, bukan dijadikan area eksploitasi yang berpotensi memicu bencana.
“Kami tidak ingin Sinjai menyisakan kenangan pahit. Alam yang rusak tidak akan kembali. Air yang tercemar tidak mudah pulih. Dan masyarakat yang kehilangan tanahnya tidak akan pernah mendapatkan penggantian sepadan,” tutup Isyal. (su/ad)





























