BANDA ACEH – Sebanyak 685 Calon Jamaah Haji (CJH) Kota Banda Aceh yang tergabung dalam empat kelompok terbang (kloter) yakni kloter 1, 4, 12, dan 14, mengikuti kegiatan Manasik Haji Terintegrasi Tingkat Kota Tahun 1447 H/2026 M. Kegiatan ini digelar Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Wilayah Kota Banda Aceh di Masjid Raya Baiturrahman, Kamis.

Acara dibuka oleh Wali Kota Banda Aceh yang diwakili Staf Ahli Bidang Keistimewaan, Drs. H. Ridwan Ibrahim, M.Pd. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi pelaksanaan manasik yang mengambil tempat di masjid kebanggaan masyarakat Aceh tersebut.

“Pelaksanaan manasik di Masjid Raya Baiturrahman membuktikan bahwa Kemenhaj Banda Aceh serius dan berkomitmen memberikan layanan terbaik bagi jamaah,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya kesiapan administrasi dan pemahaman aturan sebelum keberangkatan. Menurutnya, jamaah harus memastikan kelengkapan dokumen sebelum diberangkatkan ke asrama transit.

“Periksa kelengkapan dokumen sebelum diberangkatkan menuju asrama transit, itu sangat penting. Jamaah harus memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, baik saat di asrama maupun selama aktivitas di dalam pesawat. Perjalanan udara yang panjang membutuhkan kesiapan mental dan fisik,” tegasnya.

Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah pemangku kepentingan haji, di antaranya Kepala Dinas Syariat Islam, Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Dinas Pendidikan Dayah, Ketua MPU Aceh, Kepala Dinas Perhubungan, Kapolresta Banda Aceh, Satpol PP, perwakilan Bank BPS, KBIH, IPHI, serta 20 Petugas Kloter Aceh.

Mengusung tema “Haji Ramah Lansia, Disabilitas dan Perempuan”, manasik terintegrasi ini dilaksanakan serentak di seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Tujuannya untuk meningkatkan kesiapan pengetahuan fiqh manasik, kesiapan fisik, dan mental calon jamaah haji agar pelaksanaan ibadah berjalan sah, mandiri, dan mabrur.

Kepala Kantor Kemenhaj Kota Banda Aceh, Dr. Muhammad Iqbal, S.H., M.H., menyampaikan bahwa bimbingan manasik menjadi bekal penting bagi jamaah agar memahami secara komprehensif rukun haji, wajib haji, sunnah haji, hingga larangan-larangan dalam ibadah haji.

“Dengan adanya kegiatan manasik, saya harap para jamaah dapat memaksimalkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, mencerna ilmu yang disampaikan, dan mampu menerapkannya dalam pelaksanaan ibadah di Tanah Suci. Hingga akhirnya dapat menjadi haji yang diterima oleh Allah SWT,” ujarnya.

Dalam sesi materi, Ketua MPU Aceh, Tgk. H. M. Faisal Ali, menekankan pentingnya memahami alur perjalanan haji, mulai dari persiapan pra-embarkasi hingga teknis pelaksanaan ibadah di embarkasi dan Tanah Suci.

“Ketentuan murur, tanazzul dan DAM harus dipahami secara hati-hati demi menjaga keabsahan ibadah,” pesannya.

Sementara itu, Syekh Jamaluddin turut memberikan materi terkait koordinasi dan pemantapan peran Kepala Regu (Karu) dan Kepala Rombongan (Karom) jamaah haji. Ia juga membagikan tips agar pelaksanaan ibadah haji berjalan mudah, aman, dan lancar, baik sejak di tanah air maupun saat berada di Tanah Suci.

Dengan pembekalan yang komprehensif ini, diharapkan seluruh CJH Banda Aceh dapat berangkat dengan kesiapan maksimal dan kembali ke tanah air sebagai haji yang mabrur.