Di tengah kehidupan sosial yang semakin dipenuhi kecenderungan untuk saling menilai, manusia perlahan kehilangan kebijaksanaan paling mendasar: kemampuan memahami dirinya sendiri sebelum menghakimi orang lain. Ruang publik hari ini dipenuhi diksi-diksi yang mudah melabeli, menyederhanakan, bahkan mereduksi manusia hanya dari serpihan perilaku yang tampak di permukaan. Padahal, manusia merupakan entitas kompleks yang tidak dapat dijelaskan secara utuh hanya melalui satu sudut pandang.
Saya termasuk orang yang tidak pernah benar-benar berani memberi cap kepada siapa pun. Bukan karena tidak memiliki penilaian, melainkan karena saya memahami bahwa setiap individu menyimpan dimensi psikologis, pengalaman sosial, serta pergulatan batin yang sering kali tidak terbaca oleh lingkungan sekitarnya. Dalam perspektif fenomenologi, manusia selalu memiliki ruang pengalaman subjektif yang tidak dapat sepenuhnya dipahami oleh orang lain. Karena itu, setiap bentuk penghakiman yang tergesa sesungguhnya lebih banyak menunjukkan keterbatasan penilai dibanding kesalahan pihak yang dinilai.
Puncak keberanian saya justru terletak pada keberanian mempertanyakan diri sendiri. Saya tidak pernah merasa sebagai pribadi yang paling cerdas, sebab semakin luas pengetahuan yang dipelajari, semakin tampak pula luasnya hal-hal yang belum dipahami. Akan tetapi, saya juga tidak sepenuhnya menganggap diri bodoh. Saya hanya menyadari bahwa manusia hidup di dalam proses belajar yang tidak pernah selesai.
Kesadaran semacam ini penting, terutama di tengah berkembangnya gejala narsisme sosial yang menjadikan pengakuan publik sebagai ukuran utama nilai diri seseorang. Banyak orang hari ini lebih sibuk membangun citra intelektual daripada memperdalam substansi pemikiran. Mereka ingin terlihat benar, tetapi enggan menjalani proses panjang untuk memahami kebenaran secara lebih mendalam. Akibatnya, ruang sosial dipenuhi perdebatan emosional yang miskin refleksi dan kehilangan etika berpikir.
Dalam kajian epistemologi, pengetahuan sejatinya tidak hanya berbicara tentang apa yang diketahui manusia, tetapi juga tentang kesadaran atas keterbatasan pengetahuannya sendiri. Di titik itulah kerendahan hati memperoleh makna ilmiah sekaligus moral. Orang yang merasa mengetahui segala sesuatu biasanya berhenti bertumbuh, sedangkan mereka yang menyadari keterbatasannya akan terus membuka diri terhadap pembelajaran baru.
Bagi saya, semangat hidup tidak lahir dari keinginan untuk menjadi lebih tinggi daripada orang lain. Semangat justru tumbuh dari kesediaan menerima keterbatasan diri tanpa kehilangan harapan untuk berkembang. Manusia tidak membutuhkan kesempurnaan untuk melangkah, melainkan keberanian untuk tetap belajar meskipun sering merasa belum cukup.
Saya percaya bahwa kehidupan bukan arena untuk mempertontonkan superioritas intelektual. Kehidupan adalah ruang panjang bagi manusia untuk saling memahami, saling menguatkan, dan saling belajar menjadi lebih bijaksana. Karena itu, saya lebih memilih memperbaiki diri sendiri daripada sibuk menilai kehidupan orang lain. Sebab sering kali, mereka yang paling keras menghakimi sesama justru sedang berusaha menutupi kekosongan di dalam dirinya sendiri.
Persisnya semangat terbesar manusia bukan terletak pada kemampuan menundukkan orang lain melalui penilaian, melainkan pada kemampuan menaklukkan kesombongan dalam dirinya sendiri agar tidak sombong. Di sanalah kedewasaan berpikir menemukan maknanya, dan di sanalah tempat belajar menjadi manusia yang tidak lupa bawa kita semua adalah manusia yang tidak akan sempurna.
Mari kita berkaca pada satu pertanyaan besar sambil merenung lebih dalam. “Apa yang menyebabkan Adam dan Hawa ada di dunia ini?.
Lengkapnya, kita bersama berucap. “Saya tidak pernah memiliki keberanian untuk melabeli siapa pun dengan penilaian apa pun.
Puncak keberanian saya agaknya hanya terletak pada kecenderungan merendahkan diri sendiri. Saya tidak merasa dianugerahi kecerdasan yang layak dibanggakan, namun juga tidak sepenuhnya menganggap kebodohan sebagai bagian dari diri saya. Di antara kesadaran itulah semangat saya bertumbuh.”
Oleh: Papay Supriatna – Supriadi Buraerah, Penulis [Jakarta 14 Mei 2026].





