Oleh Muhammad Subhan & Supriadi Buraerah

SEORANG birokrat (ASN) menulis buku itu keren sekali. Bertambah keren kalau setelah pensiun ia masih terus menulis buku.

Kenapa disebut keren?

Karena tak banyak orang mau dan mampu menulis ketika usia dianggap tak lagi produktif. Tak sedikit yang menjawab, mau apa setelah pensiun? “Mengurus cucu!” Sebagian yang lain menyebut, “ingin bertani, beternak, atau membuka usaha yang sekadar menghabiskan waktu.”

Namun sejatinya, di usia purnatugas, memilih jalan sebagai penulis adalah cara lain merawat kebermanfaatan hidup.

Menulis, memungut kembali serpihan pengalaman selama aktif bekerja, menyusun ulang ingatan tentang suka dan duka pekerjaan, tentang perjalanan di kantor dan di lapangan, lalu mengubahnya menjadi jejak yang dapat dibaca dan dipelajari generasi berikutnya.

Tidak semua orang sanggup melakukannya. Sebab, menulis bukan hanya soal kemampuan merangkai kata, tapi juga keberanian membuka kembali lorong-lorong pengalaman hidup yang pernah dilalui.

Semangat itulah yang [kami] temukan dari sosok seorang pensiunan abdi negara, mantan pejabat BPKP, bernama Bambang Setiawan Djatmiko. Kisah hidupnya ditulis menjadi novel inspiratif oleh Maghdalena berjudul “Menjemput Matahari di Ufuk Timur, Menyemai Asa dan Cinta”. Buku itu setebal 427 halaman.

Maghdalena mewawancarai Pak Bambang dan mengolah kembali isi buku autobiografi yang sebelumnya ditulis Pak Bambang berjudul “Jejak Langkah Sang Auditor, 11 Langkah Membangun Negeri, Sepenuh Hati, Setulus Nurani”. Sebagai sebuah novel, buku yang mulanya terasa sangat serius itu menjadi lebih lentur dan enak dibaca. Narasinya mengalir, tidak kaku seperti laporan birokrasi, tapi tetap menyimpan ruh pengalaman seorang auditor yang lama berkecimpung di dunia pengawasan negara.

Oh ya, Maghdalena saya kenal. Ia adalah peserta Sekolah Menulis elipsis yang saya ampu, sekaligus tim redaksi majalah digital elipsis. Kemampuan menulisnya baik, dan akhir-akhir ini Ilen—demikian saya akrab menyapanya—produktif menulis buku-buku biografi tokoh. Ilen juga mengelola sebuah penerbitan independen di Padang.

Novel “Menjemput Matahari di Ufuk Timur, Menyemai Asa dan Cinta” pada Ahad, 10 Mei 2026, tadi malam, diluncurkan dan dibincangkan oleh sejumlah narasumber melalui Zoom Meetings, dan saya menjadi salah seorang pembicaranya. Perbincangan berlangsung hangat, meski waktu terasa sangat terbatas.

Novel itu merekam kisah tokoh Wawan—cermin sosok Pak Bambang—yang ditugaskan pimpinannya sebagai Kepala Perwakilan BPKP di Papua. Papua, yang sebelumnya tak pernah terbayang dalam benaknya, membuat Wawan tersentak ketika menerima penugasan itu.

Dalam pikirannya, pekerjaan di tanah ujung timur Indonesia tersebut tentu akan berhadapan dengan banyak rintangan. Wilayah yang luas, medan tempuh yang sulit, serta persoalan sosial yang kompleks menjadi bayangan pertama yang muncul di kepalanya.

Namun, Wawan berusaha tenang. Penempatan ke jabatan baru itu justru disambut senang oleh sang istri, Evi, meski ketika mendengar lokasi tugas mereka adalah Papua, ia sempat terkejut. Akhirnya, pasangan suami istri itu saling menguatkan.

“Tapi Ma, kita punya Allah yang akan selalu memudahkan urusan kita,” demikian dikatakan Wawan kepada istrinya.

Di Papua, Wawan disambut dengan “karpet merah”, sesuatu yang membuatnya agak risih karena tidak terbiasa diperlakukan demikian. Wawan menggantikan kepala perwakilan sebelumnya yang menyambut kedatangannya dengan hangat. Para staf pun terlihat gembira.

Namun, di tengah suasana penyambutan yang meriah itu, hadir pula kabar duka. Gubernur Papua meninggal dunia. Setelah meletakkan barang-barangnya, malam itu juga Wawan meminta diantarkan melayat ke rumah duka. Di sana, ia melihat Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla turut hadir melayat.

Hari-hari berikutnya dijalani Wawan dengan berbagai ujian. Salah satunya ketika oknum warga setempat memalang kantor dengan modus pemerasan. Peristiwa serupa ternyata pernah terjadi pada masa kepemimpinan BPKP sebelumnya, sebagaimana disampaikan Agus ketika mereka melayat malam itu. Kini Wawan benar-benar menghadapi situasi nyata.

Wawan berpikir keras mencari solusi. Ia mendekati ketua adat setempat, berbicara dari hati ke hati, mendengarkan keinginan mereka, lalu menawarkan beberapa jalan keluar, termasuk mengundang perwakilan mereka bertemu pimpinan di Jakarta.

Dari sinilah novel ini menjadi menarik. Konflik tidak selalu diselesaikan dengan benturan kekuasaan, tapi melalui komunikasi yang hangat dan pendekatan yang manusiawi. Wawan tidak hadir sebagai pejabat yang gemar menggurui, melainkan sebagai seseorang yang mau mendengar.

Satu masalah selesai, masalah lain muncul. Berbagai ujian itu dihadapi Wawan sebagai abdi negara yang bertanggung jawab dan berintegritas. Dari persoalan audit hingga tantangan lapangan selama bertugas di Papua, semuanya dijalani sebagai pekerja yang nyaris tak mengenal lelah.

Bahkan di ujung masa jabatannya di Papua, Wawan masih memikirkan seorang rekannya dalam tim auditor BPKP Papua yang hilang kontak di Teluk Cenderawasih. Secara administrasi, Papua tak lagi berada di bawah tanggung jawabnya. Namun, secara moral, ia tetap merasa bertanggung jawab karena tugas itu sebelumnya berjalan atas arahannya. Syukurlah, tim auditor tersebut akhirnya ditemukan selamat setelah tiga hari tak terlacak.

Novel ini tidak hanya berkisah tentang perjalanan seorang auditor negara. Lebih dari itu, buku ini memuat pelajaran penting mengenai komunikasi, psikologi pengawasan, dan cara membangun hubungan kerja yang sehat di tengah benturan kepentingan.

Keberhasilan pengawasan ternyata tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan teknis auditor. Faktor komunikasi dan pendekatan psikologis justru memiliki peran yang sangat penting. Auditor harus mampu menyampaikan pesan secara tepat, bijak, dan dapat diterima oleh pihak yang diperiksa.

Hubungan auditor dan auditan sering kali berada dalam situasi yang rumit. Auditor menjalankan fungsi kontrol dan evaluasi, sedangkan pihak yang diperiksa berusaha mempertahankan kebijakan maupun kepentingannya. Dalam kondisi seperti itu, komunikasi yang buruk dapat memperlebar jarak psikologis. Masing-masing pihak menjadi defensif, saling curiga, bahkan sibuk mempertahankan diri.

Akibatnya, pengawasan kehilangan ruh pembinaan.

Melalui tokoh Wawan, pembaca diperlihatkan bahwa pendekatan humanis jauh lebih efektif dibanding konfrontasi. Ia mengedepankan sikap saling menghormati, menjaga kejujuran dalam komunikasi, menghargai peran masing-masing pihak, serta lebih mengutamakan solusi daripada pertentangan.

Pengawasan, dalam pandangan Wawan, bukanlah upaya mencari-cari kesalahan, melainkan cara memperkuat tata kelola agar berjalan lebih baik. Suasana pengawasan harus dibangun secara terbuka, objektif, profesional, dan tetap menjunjung integritas.

Novel ini tidak hanya berbicara tentang Papua, auditor, atau birokrasi negara, tapi lebih jauh lagi berbicara tentang ketulusan bekerja, kesabaran menghadapi manusia, dan bagaimana seseorang tetap menjaga nuraninya ketika berada dalam jabatan dan kekuasaan.

Kehadiran novel ini menjadi pengingat berharga bagi pembaca bahwa dedikasi seorang abdi negara tidaklah berakhir seiring dengan ketukan palu masa purnatugas. Melalui literasi, pengalaman yang semula bersifat personal dan teknis bertransformasi menjadi warisan intelektual yang abadi.

Novel ini mengajak pembaca untuk memandang pengabdian bukan sebagai beban protokoler, sebaliknya sebagai sebuah perjalanan hati yang meninggalkan jejak kebaikan bagi negeri, sejauh apa pun ufuk timur yang dituju.

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis & Lembaga Pendidikan Journalist Center Pekanbaru, Supriadi Buraerah