Oleh Muhammad Subhan
BEBERAPA hari lalu, langkah kaki membawa saya kembali ke Rumah Baca Aia Tayo di Kampung Pasir, Nagari Kajai. Rumah baca ini menjadi titik labuh terakhir dari rangkaian kegiatan literasi yang saya jalani selama sepekan di Kabupaten Pasaman Barat.
Ada rasa haru yang menyeruak setiap kali menapakkan kaki di sini. Ingatan saya terlempar ke tahun 2000, ketika pertama kali saya datang dari Aceh untuk mencari kampung ibu. Ya, di sinilah ibu saya berasal; sebuah kampung di kaki Gunung Talamau.
Tahun 2022, gempa mengguncang Pasaman Barat. Pusatnya di gunung itu. Banyak rumah yang rusak. Saya pulang kampung, lalu mengajak keluarga menginisiasi sebuah rumah baca. Maka, berdirilah Rumah Baca Aia Tayo.
Saat itu, rumah baca ini saya niatkan sebagai ‘trauma healing’. Saya ingin kantong literasi ini menjadi titik kumpul bagi anak-anak untuk membasuh luka batin mereka, sekaligus membangun kembali semangat belajar yang sempat terusik oleh gempa.
Tiga bulan setelah berdiri, keajaiban datang. Sebuah yayasan kemanusiaan di Jakarta, melalui kemurahan hati ribuan orang baik, menghubungi saya dan berniat membangun fisik rumah baca ini secara lebih permanen. Alhamdulillah.
Bangunannya kini semipermanen. Tidak besar memang, namun ia adalah istana pengetahuan yang cukup untuk menampung mimpi-mimpi anak-anak yang dibina di sini.
Karena berada di pelosok kampung, lokasi di sekitar Rumah Baca Aia Tayo sangat asri, tepat di pekarangan belakang kediaman kakak saya. Hanya beberapa meter di belakang rumah itu, mengalir sebuah sungai jernih berbatu. Aia Tayo namanya.
Nama sungai itulah yang dilekatkan pada rumah baca ini.
Pertama kali melihat sungai tersebut di awal tahun 2000, banyak ikan saya berenang di lubuk-lubuknya. Saya suka sekali mendengar suara riak gemericik airnya. Kini, Sungai (Aia) Tayo menjadi saksi bisu tumbuh kembangnya generasi baru yang gemar membaca.
Rabu, 11 Februari 2026, saya menghubungi Yeni Eliza, S.Pd., keponakan saya yang dengan telaten mengasuh rumah baca ini. Saya menyampaikan kabar bahwa saya akan datang bersama beberapa pegiat literasi Pasaman Barat.
Di antara yang hadir ada Fera Susanti, pengurus Rumah Baca Bunda di Kinali. Ada pula Suria Tresna, pengurus Ruang Baca Lestari di Kompleks Pertanian, Padang Tujuh. Suria datang bersama suami dan anak-anaknya. Ia adalah sosok pegiat literasi yang gigih, sekaligus peserta di Sekolah Menulis elipsis yang saya ampu.
Tak ketinggalan, hadir Joel Pasbar, novelis produktif yang unik. Unik karena ia merajut kata-kata menjadi novel hanya melalui ponselnya. Di mana pun ia berada, jemarinya menari melahirkan naskah-naskah yang siap meluncur ke tangan pembaca.
Hari itu, Joel datang bersama sahabatnya, pendamping literasi dari Pondok Pesantren Darussalam Pinagar.
Hadir pula Novaria Zahara, S.Pd., guru MAN 4 Pasaman Barat yang membawa Jihan Putri. Jihan adalah pemenang pertama Lomba Baca Puisi “3rd My Rubel Competition”. Pada lomba itu, kebetulan saya diundang sebagai juri.
Kehadiran mereka menyemarakkan suasana. Acara dibuka dengan suara lantang Jihan yang membacakan puisi, menggetarkan udara sore di Kampung Pasir.
Setelah sambutan hangat dari Yeni Eliza, perhatian anak-anak terisap sepenuhnya pada sesi ‘Read Aloud’ atau membaca nyaring. Fera Susanti memegang sebuah buku karya penulis Wulan Mulya Pratiwi dengan penuh semangat. Ia membacakan cerita tentang seekor lembu yang baik hati.
Metode membaca nyaring bukan sekadar mengeluarkan suara, melainkan cara membangun jembatan emosi antara teks dan pendengarnya. Saya tertegun melihat bagaimana anak-anak itu terpaku saat Fera membacakan cerita.
‘Read Aloud’ adalah teknik literasi dini yang sangat efektif untuk merangsang imajinasi dan memperkaya kosakata. Saat Fera memberikan intonasi yang berbeda pada setiap karakter, anak-anak seolah terseret masuk ke dalam buku. Mereka tidak hanya melihat kertas dan tinta, tetapi melihat petualangan, warna, dan harapan.
Bagi anak-anak di daerah terdampak bencana, membaca nyaring berfungsi lebih dari sekadar edukasi; ia adalah terapi. Suara yang membacakan cerita memberikan rasa aman dan kenyamanan.
Melalui nada yang tenang namun ceria, anak-anak diajak untuk fokus pada narasi yang positif, mengalihkan memori bawah sadar mereka dari suara gemuruh bencana menuju suara keceriaan literasi.
Fera dan Suria, yang aktif di komunitas Read Aloud Pasaman Barat, telah menunjukkan bahwa buku adalah alat belajar dan bermain yang paling canggih untuk merangsang kecerdasan emosional anak.
Sehabis sesi yang memukau itu, Suria Tresna melanjutkan dengan sesi “bookish play”. Anak-anak diajak membuat gambar di atas topi kertas. Jemari kecil mereka yang dulu mungkin gemetar karena takut, kini mantap menggoreskan warna-warni krayon. Setelah selesai, mereka memakai topi-topi hasil karya sendiri itu dengan senyum yang mengembang lebar.
Saya melihat kebahagiaan yang tulus di sana.
Sesi kemudian beralih ke diskusi literasi. Joel Pasbar berbagi kisah tentang proses kreatifnya. Ia menceritakan betapa menulis adalah cara untuk “pulih”.
Baginya, menulis novel di ponsel adalah bentuk kebebasan.
Ia berpesan kepada anak-anak bahwa cerita bisa lahir dari apa saja: dari gemericik air Sungai (Aia) Tayo, dari pohon-pohon kelapa yang melambai, hingga dari rasa rindu pada rumah sebagai jalan pulang. Joel mengajarkan bahwa dengan menulis, kita sedang membangun keabadian.
Rumah Baca Aia Tayo kini terus berdenyut dengan berbagai kegiatan. Setiap hari, tempat ini aktif dengan aktivitas membaca, menulis, hingga membuat kerajinan tangan. Bahkan, Duta Baca Indonesia, Gol A Gong, pernah singgah di sini dalam rangkaian safari literasinya, memberikan validasi bahwa apa yang dilakukan di sudut terpencil kampung ini adalah hal besar bagi masa depan bangsa.
Pentingnya taman bacaan di tingkat nagari seperti Rumah Baca Aia Tayo tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia adalah laboratorium peradaban di tingkat akar rumput. Taman bacaan bukan sekadar rak berisi buku, tetapi juga ruang aman (safe space) bagi masyarakat untuk bertukar ide.
Di daerah pascabencana, taman bacaan adalah oase mental.
Ia berfungsi sebagai pusat rehabilitasi sosial tempat anak-anak kembali belajar bersosialisasi, berani bermimpi, dan percaya bahwa dunia masih baik-baik saja selama mereka masih mau membaca.
Sore menjelang senja itu, hujan turun sederas-derasnya di Kampung Pasir. Hujan seolah menjadi pertanda bahwa kegiatan di rumah baca itu telah usai. Namun, semangat belajar anak-anak tak pernah selesai.
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis




























