Oleh Afrianus Juang
Andre Gorz pernah mengungkapkan kalimat berikut: “Kapitalisme membuat kita sibuk bekerja, agar kita lupa menanyakan untuk apa kita hidup.” Ungkapan Gorz ini adalah bentuk keresahannya terhadap orang-orang yang sibuk bekerja sehingga melupakan tujuan hidupnya. Ungkapan ini juga adalah bentuk kegelisahannya terhadap kapitalisme yang terus memperbudak manusia untuk bekerja terus-menerus, bukan demi manusia itu sendiri, tetapi demi pengembangan modal. Kapitalisme telah membuat manusia kehilangan identitasnya. Kapitalisme membuat kerja dilihat semata-mata demi pengembangan modal, sementara kesejahteraan pekerja kadang diabaikan. Karl Marx berpendapat bahwa sistem ekonomi seperti ini sangat berbahaya. Kapitalisme yang mementingkan modal hanya akan membuat manusia dilihat sebagai alat produksi semata. Sistem ini juga, menurut Karl Marx, hanya akan membuat manusia terasing dari diri sendiri, dari hasil pekerjaan, dari sesama, dan dari pemodal itu sendiri. Perdagangan manusia, kerja paksa, dan upah di bawah UMR adalah bentuk-bentuk pengaruh kapitalisme yang merendahkan martabat manusia demi pengembangan modal.
Di Hari Buruh Internasional ini, sangat penting untuk melihat kesejahteraan buruh yang kadang terabaikan. Kita mesti membaca ulang posisi dalam sistem kerja yang semakin kompleks. Kapitalisme telah membawa perubahan besar bagi sistem kerja manusia. Ia tidak saja hadir sebagai sistem ekonomi semata, melainkan sebagai cara pandang baru yang mengubah nilai-nilai sosial. Di hari buruh ini, kita diajak untuk membuat refleksi dan mempertanyakan lagi hubungan manusia, kerja, dan makna hidup.
Kapitalisme modern membuat kita bekerja demi produktivitas, efisiensi, dan akumulasi keuntungan yang besar. Bahayanya adalah nilai seseorang kadang diukur dengan seberapa besar pencapaian ekonominya. Penilaian ini menghasilkan cara pandang yang keliru terhadap kerja. Kerja menjadi pusat identitas. Banyak orang menganggap dirinya berguna hanya jika ia produktif. Situasi ini membuat kita tidak bisa membedakan mana hal yang menjadi kebutuhan dan mana hal yang menjadi keinginan. Ambisi untuk terus produktif membuat kerja menguasai ruang-ruang lain dalam hidup kita.
Kapitalisme saat ini tidak tampak sebagai paksaan langsung, melainkan hadir dalam bentuk yang lebih halus: tuntutan untuk selalu produktif dan tidak tertinggal mendorong individu untuk mengejar standar hidup yang kadang tidak realistis. Dalam kondisi ini, banyak orang secara sukarela bekerja melebihi batas, bahkan tanpa disadari sedang mengeksploitasi dirinya sendiri. Tentang eksploitasi diri, Byung-Chul Han pernah mengatakan: “Kita kadang menjadi tuan atas diri sendiri, sekaligus menjadi budak yang harus menuruti perintah itu. Kita yang membuat target dan kita yang memaksakan diri untuk mencapainya. Kita juga akan menyalahkan diri sendiri jika kita gagal mencapainya.”
Hari Buruh mesti membuat kita menemukan makna baru bagi kehidupan kita. Kesempatan hari buruh ini menjadi peringatan bagi kita bahwa tubuh kadang bisa lelah, pikiran bisa jenuh, dan emosi bisa terkuras jika kita terus bekerja demi modal. Tubuh punya hak untuk beristirahat dari segala aktivitas yang menguras energi. Hari Buruh mengajak kita untuk kembali ke dalam diri dan bertanya: untuk apa saya bekerja?
Hari buruh di era kapitalisme mesti dimaknai secara berbeda, bahwa manusia tidak bisa diperbudak dan dimanfaatkan demi pengembangan modal semata. Kerja itu penting dan sekaligus esensi manusia, tetapi ada hal lain yang perlu dipertimbangkan: kesejahteraan tubuh, kenyamanan pikiran, dan kesehatan emosi.
Saya kira ungkapan berikut amat tepat untuk konteks kita sekarang: “Kerja untuk hidup, bukan hidup untuk kerja.”
Follow whatsapp channel





