Foto ilustrasi.
“Narasumber Berhasil di Wawancara Insertrakyat.com : Kepala Sekolah, Suardi, Wakasek, Mauluddin, Orang Tua Siswa, Rajamuddin, Siswa, MF, Kapolres Sinjai AKBP Harry Azhar dan PERSEMA UIAD, Rehan.

SINJAI, INSERTRAKYAT.com Kasus dugaan kekerasan fisik terhadap Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) sekaligus guru mata pelajaran (mapel) Ekonomi, Mauluddin, di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Sinjai makin menuai sorotan masyarakat dan publik, Kamis, (18/9/2025).

Lebih jelasnya, Peristiwa terjadi pada Selasa (16/9/2025) sekitar pukul 10.00 WITA di ruangan BK atau Bimbingan Konseling.

Insiden itu melibatkan terduga pelaku berinisial MF, siswa kelas XII-2 sekolah yang disebut Smansa tersebut.

Hal ini senada diungkapkan Mauluddin. Menurutnya, ia dipukul di hadapan sejumlah guru dan orang tua siswa. Ia merasa tidak ada yang mencegah pemukulan tersebut.

Namun, ia tidak bisa memastikan apakah orang tua murid ikut melerai atau tidak.

Meski begitu, Mauluddin menyebut bahwa, informasi yang ia dapat dari guru, terkait kejadian itu tidak ada yang melerai kecuali guru.

“Iya, kejadian disaksikan guru dan orang tua siswa, tidak ada yang melakukan pencegahan. Kalau yang melerai saya hanya dapat info guru yang melerai. Karena saya setelah dipukul langsung merasa pusing dan kesakitan, jadi saya tidak tahu pasti kalau orang tua ikut melerai atau tidak, itu saya tidak tahu,” kata Mauluddin saat diwawancarai di rumahnya, yang terletak di Balle, Kelurahan Lamatti Rilau, Kecamatan Sinjai Utara, pada Rabu (17/9/2025), pukul 17.47 WITA.

Mauluddin mengatakan bahwa setelah kejadian dirinya tidak langsung melakukan visum di Puskesmas Balangnipa. Karena setelah kejadian itu, ia sempat alami pusing atau gejala merasa tidak sadarkan diri.

Menurutnya, berselang sekitar 50 menit setelah kejadian, barulah Mauluddin diantar menggunakan kendaraan roda empat oleh sejumlah guru menuju Puskesmas Balangnipa. Di sana Mauluddin divisum.

“Saya tidak langsung melakukan visum karena saya sempat pusing-pusing, takutnya saya pingsan. Jadi, sekitar hampir satu jam kemudian baru saya melakukan visum di Puskesmas Balangnipa, saya ditemani oleh teman-teman guru,” ungkap Mauluddin.

Selanjutnya, Mauluddin melaporkan kasus tersebut ke Mapolres Sinjai, Jln. Bhayangkara, Kelurahan Biringere, Kecamatan Sinjai Utara.

“Saya masih ditemani dengan teman-teman guru saat melapor,” ujarnya.

Ditanya terkait orang tua murid melakukan permintaan maaf dan mengatakan bahwa dirinya melerai dan bahkan sempat memarahi anaknya, dimana pernyataannya tersebut juga dapat dilihat melalui video amatir yang sudah beredar luas di berbagai platform media sosial.

Mauluddin menjawab bahwa hal tersebut adalah hak orang tua murid. “Saya rasa itu haknya, tapi kan ada saksi,” tuturnya.

Sebelumnya, Insertrakyat.com telah melakukan konfirmasi kepada Mauluddin melalui sambungan telepon genggam pada pukul 18.57 WITA, Selasa (16/9/2025) malam, namun jaringan internet kurang mendukung, meskipun  sempat berbicara selama beberapa menit.

Saat ditemui, Mauluddin menceritakan awal mula atau rentetan peristiwa yang terjadi di ruangan BK tersebut.

Mauluddin mengatakan bahwa pada Senin (15/9/2025) siang, ia bersama dengan sejumlah siswa hendaknya melangsungkan aktivitas mengajar dan belajar.

Namun, di dalam ruangan kelas XII-2 terdapat sebuah tas dan bangku kosong. Bangku itu tempat duduk siswa, MF.

Mauluddin lalu bertanya kepada siswa lainnya terkait dengan keberadaan MF.

Sebab, MF keluar dari ruangan kelas tanpa sepengetahuan guru, dan tidak ada siswa yang mengetahui secara pasti keberadaannya, sehingga Mauluddin kemudian berinisiatif mengambil tas milik MF. Tas itu disimpan di oleh Mauluddin bukan kepala sekolah.

Setelah proses mengajar dan belajar selesai, Mauluddin istirahat dan tiba jam pulang. Ia lalu meninggalkan lokasi Smansa dan tiba di rumahnya sore hari.

Namun sebenarnya, sekitar pukul 15.40 WITA, masih hari Senin, Mauluddin dihubungi melalui telepon via WhatsApp oleh Siswa, MF.

“Tujuan siswa menghubungi saya untuk meminta tasnya. Bahasa sangat sopan, memberi salam dan bicara baik-baik,” ujar Mauluddin.

“Sekitar pukul 15.40 siswa itu chat saya,’ pak dimana ki, mauka ambil tasku.
saya jawab besokpi diambil diruang kepala sekolah. Padahal. Tas itu saya simpan dibagian bawah meja saya,” ungkap Mauluddin.

“Tapi, ini tidak ada niat untuk tidak terbuka kepada siswa soal keberadaan tas, memang saya sampaikan seperti itu, padahal saya yang simpan itu tas,” tegas Mauluddin.

Tas Dikembalikan dan Ditangani Guru BK.

Pada hari Selasa pagi, suasana dan aktivitas siswa dan guru di sekolah berjalan dengan baik, tertib seperti biasanya.

Sementara Mauluddin menunggu siswa mengambil tas. Namun siswa tidak datang menemuinya. Mauluddin lalu mencari tahu keberadaan siswa.

BACA JUGA :  107 Saksi Telah Diperiksa dan Inilah 5 Tampang Tersangka Korupsi Triliun Rupiah, Kejati Sumsel : 6 Tersangka! 

Sekitar pukul 08.00 WITA, Mauluddin datang menemui MF. “Jadi saya yang pasangkan itu tasnya di pundaknya. Dan kebetulan ada kunjungan tamu dari Sulsel jadi saya suru menunggu itu siswa di depan. Untuk kedatangan orang tua murid ke sekolah di ruangan BK, terkait dengan persoalan murid kurang disiplin,” ujar Mauluddin.

Mauluddin menjelaskan bahwa demi mewujudkan impian setiap siswa dalam meraih cita-citanya, ia selaku guru terus berupaya melakukan didikan formal sesuai harapan orang tua murid dan guru.

Untuk itu, mengenai persoalan MF yang sebelumnya tidak ditemukan di ruangan kelas, Mauluddin menyerahkan persoalan ini ke Guru BK. Mauluddin lalu melakukan koordinasi dengan Kepala Sekolah, Suardi, dan Guru BK.

“Setelah saya lakukan koordinasi dengan Kepala Sekolah Pak Suardi, kemudian diarahkan untuk ke Guru BK,” jelas Mauluddin.

Jelang Insiden, Ada Kunjungan Cabdisdik dan BBGP Sulsel

Pejabat Cabang Dinas Pendidikan (Cabdisdik) bersama Balai Besar Guru Penggerak (BBGP) Sulsel melakukan kunjungan ke Smansa pada Selasa (16/9/2025) pagi.

Kunjungan tamu disambut oleh Kepala Sekolah, Suardi, dan Wakasek, Mauluddin serta guru.

Tak berselang lama kemudian, Mauluddin memastikan konseling ditindaklanjuti oleh guru BK.

Setelah mengetahui bahwa, persoalan terkait MF tersebut sudah ditindaklanjuti Guru BK, Mauluddin lalu meninggalkan lokasi sekolah sekitar puluhan menit.

Namun, saat di tengah perjalanannya, Mauluddin mendapatkan informasi melalui telepon genggam. Ia diminta untuk kembali ke ruangan BK.

Menurut Mauluddin, dirinya diminta kembali hadir ke ruangan BK atas permintaan orang tua murid. Sementara Kepala Sekolah, Suardi, masih bersama dengan tamu kunjungan di ruangan terpisah.

“Setelah saya pastikan sudah ditindaklanjuti Guru BK, saya tinggalkan sekolah untuk keluar. Kebetulan ada keperluan, sekitar beberapa menit kemudian, saya dapat telepon, saya diminta untuk kembali ke ruangan BK, orang tua murid yang minta saya kembali ke BK, mungkin untuk konseling,” ujar Mauluddin.

Puncak Insiden di Ruangan BK.

Mauluddin mengatakan bahwa dirinya tidak menyangka siswa akan melakukan pemukulan.

“Jadi karena saat saya diminta untuk kembali ke ruangan BK, saya langsung ke sana. Begitu saya tiba dan masuk ke ruangan, itu siswa langsung lompat menyerang (pukul) saya,” ujarnya.

“Ada guru BK, orang tua siswa, MF dan orang tua siswa lainnya satu orang lagi, kebetulan juga anaknya punya masalah,” lanjut Mauluddin.

Mauluddin mengatakan bahwa dirinya tadi siang (Rabu) tidak hadir ke sekolah karena masih sempat merasa pusing, efek insiden tersebut.

Selanjutnya, ia berharap kejadian serupa tidak terulang. Dan terkait dengan siswa telah dikeluarkan dari sekolah, Mauluddin mengatakan baru – baru mengetahui.

“Saya berharap kejadian seperti yang saya alami tidak terulang lagi, itu saya sangat harapkan. Terkait dengan siswa dikeluarkan saya baru tahu ini, dan tidak ada tujuan saya untuk mematahkan masa depan siswa mana pun. Karena kejadian seperti ini yang menimpa saya sehingga harus ditangani, itu makanya saya lapor ke Polres Sinjai,”jelasnya.

“Kemarin saya sudah berikan keterangan BAP di Polres Sinjai, dan ini masalah sudah banyak yang masuk – masuki termasuk PGRI dan Alumni,” tegas Mauluddin.

Wakasek Mauluddin saat dijumpai di ruangan tamu rumahnya, (foto Insertrakyat.com, sensor foto wajah atas permintaan Wakasek.

Sekedar diketahui, saat wawancara Insertrakyat.com terhadap Mauluddin, terdapat sedikitnya enam orang di ruang tamu, termasuk istrinya, anaknya, dan tetangga yang datang menjenguknya. Saat awak media ini pamit pulang, Mauluddin mengantar sampai di teras rumahnya.

Kepala Sekolah Sebut Ada Dukungan Disdik

Kepala Sekolah SMANSA, Suardi di ruangan kerjanya, (foto: Insertrakyat.com, Rabu (17/9/2025).

Kepala Sekolah, Suardi sempat dikonfirmasi melalui sambungan telepon genggam. Ia mengatakan bahwa benar kejadian tersebut terjadi di ruang BK pada Selasa siang.

“Iya benar, tadi siang kejadiannya,” kata Suardi kepada Insertrakyat.com pada Selasa malam, pukul 18.47 WITA. Namun untuk info lebih jelasnya, ia bersedia diwawancarai secara langsung.

Ditemui, Suardi mengatakan bahwa saat kejadian itu terjadi dirinya masih menerima tamu pejabat Cabdisdik dan BBGP Sulsel. Kejadian ini juga diketahui secara langsung oleh tamu tersebut.

“Kejadian ini juga diketahui secara langsung pihak Cabdisdik karena masih ada kemarin di sini (sekolah,-red) saat kejadian. Tapi saya dan Cabdisdik tidak melihat langsung saat kejadian. Namun laporan dari guru saya sudah dapatkan, benar ada orang tua murid dan Guru BK saat kejadian. Untuk luka, ada hasil visum. Dan ini sudah ditangani Polres Sinjai. Siswa juga sudah dikeluarkan dari sekolah berdasarkan hasil rapat di sekolah, tapi kami bersedia memberikan surat pindah jika ada sekolah yang bersedia menerima,” kata Suardi saat diwawancarai Insertrakyat.com di ruangan kerjanya, Rabu (17/9), pukul 16.15 WITA.

BACA JUGA :  Mendagri Tegaskan Pemda Wajib Prioritaskan Anggaran Enam Pelayanan Dasar

Persoalan ini juga telah dilaporkan ke Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan. Menurut Suardi, Dinas mendukung langkah hukum yang ditempuh oleh guru Mauluddin. “Ada dukungan, dan kami sudah kirim ke Disdik laporan terkait dengan kejadian,” imbuhnya.

Sebelum kejadian pemukulan, siswa sempat berdiri di luar ruangan atas perintah Wakasek Mauluddin. Siswa berdiri sambil menunggu Wakasek menyudahi hukuman. Selanjutnya Kepala Sekolah Suardi mengarahkan ke ruangan BK setelah berkomunikasi dengan Wakasek Mauluddin.

Kasus Ditangani, Ini Kata Kapolres Harry

Kapolres Sinjai, AKBP Harry Azhar, S.H.,S.Ik.,M.H (foto Istimewa)

 Kapolres Sinjai AKBP Harry Azhar, S.H.,S.Ik., M.H yang dikonfirmasi menegaskan bahwa laporan telah ditindaklanjuti dengan melakukan pengambilan keterangan pihak yang terlibat.

“Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Guru menjadi contoh terbaik bagi kita semua. Kekerasan tidak dibenarkan dilakukan oleh Murid terhadap guru. Karena guru merupakan orang tua murid di sekolah,” kata Kapolres Sinjai kepada Insertrakyat.com saat diwawancari tepat pukul 20.15 WITA, Selasa malam.

AKBP Harry Azhar juga menyayangkan kejadian tersebut. “Kami juga menyayangkan kejadian ini, seharusnya tidak terjadi, namun kebenarannya belum kita ketahui secara utuh. Pada intinya kasus ini ditindaklanjuti sesuai dengan prosedur” tegasnya.

PERSEMA Desak Polres Sinjai Usut Tuntas Kasus

PERSEMA UIAD, Rehan (Foto: Rehan).

Tindakan Kekerasan, baik itu terhadap anak didik dan sebaliknya tenaga pendidik tidak bisa ditolerir.

Demikian dikemukakan oleh Presiden Mahasiswa (PERSEMA) Universitas Islam Ahmad Dahlan (UIAD) Sinjai, Rehan saat ditemui Insertrakyat.com pada pukul 23.28 WITA, Selasa (16/9/2025) malam di Sinjai

Rehan sangat menyayangkan jika kejadian kekerasan terhadap guru terjadi seperti di SMANSA. Apa lagi menurut dia, kejadian itu disaksikan oleh orang tua siswa yang merupakan Anggota Polri.

“Sangat memprihatinkan ketika orang tua siswa yang seharusnya mencegah, justru diam dan tidak melerai, ini sangat disayangkan” tegas Rehan.

Tindakan pemukulan terhadap guru dapat dikualifikasikan sebagai tindak pidana dugaan penganiayaan, kata Rehan, ancaman pidana jelas ada, apalagi korban merupakan tenaga pendidik yang menjalankan tugasnya.

Guru juga harus memperoleh perlindungan hukum, UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Pasal-pasal dalam undang-undang tersebut menegaskan bahwa guru berhak atas rasa aman, perlindungan hukum, serta penghargaan atas profesinya.

Selain itu, Permendikbudristek No. 46 Tahun 2023 hadir sebagai pedoman pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan pendidikan. Regulasi ini menegaskan tanggung jawab semua pihak, termasuk sekolah dan orang tua, untuk melindungi guru dan siswa dari praktik kekerasan.

Rehan menilai peristiwa ini sebagai preseden buruk bagi dunia pendidikan. “Jika kekerasan terhadap guru dibiarkan, maka wibawa pendidikan akan runtuh,” ujarnya.

Berkaca pada Kasus ini, Rehan menegaskan bahwa, tidak bisa dipandang sekadar konflik siswa dan guru. Menurut dia, ada aspek serius tentang lemahnya peran orang tua dalam membina anak, serta tanggung jawab sekolah untuk memastikan ruang pendidikan tetap aman.

Penyelesaian hukum sangat penting, tetapi langkah pencegahan juga jauh lebih penting. “Edukasi kepada siswa dan orang tua, pembinaan karakter, serta penguatan aturan sekolah harus berjalan simultan. Tanpa itu, kasus serupa berpotensi terulang,” tuntas Rehan.

Polri Minta Maaf Secara Langsung Ke Wakasek Mauluddin di Rumahnya.

Keterangan foto: Bhabinkamtibmas saat melakukan permintaan maaf secara langsung kepada Wakasek Mauluddin di rumah Mauluddin, Rabu, (17/9/2025).

Bhabinkamtibmas Kelurahan Lamatti, Asmo (panggilan akrab), mewakili institusi Polri dan orang tua siswa mendatangi rumah Mauluddin bersama dengan sejumlah masyarakat.

Pertemuan tersebut berlangsung tak lama setelah waktu salat subuh, Rabu (17/9/2025). Bhabinkamtibmas mengutarakan permohonan maaf kepada Mauluddin di ruang tamu.

Mulanya, info pertemuan tersebut diperoleh Insertrakyat.com melalui sumber terpercaya, Rabu siang, menyusul beredarnya video yang memuat pernyataan orang tua siswa, Rajamuddin.

Kendati demikian, semua sumber yang berhasil ditanya terkait dengan pertemuan tersebut tidak ada yang membantah.

Siswa MF Akui Perbuatan dan Klaim Dijemur Setelah Dibohongi 

Layar HP milik Siswa MF memuat percakapan dirinya dengan Wakasek Mauluddin, (foto Insertrakyat.com, Rabu 17 September).

Siswa, MF tidak membantah apa yang telah terjadi di ruangan BK, ia mengakui kesalahannya itu.

Bahkan, MF juga mengakui dihukum pada hari Selasa siang sebelum kejadian. Menurutnya, ia dihukum karena membuat kesalahan pada hari Senin dengan tidak mengikuti kegiatan belajar tanpa izin terlebih dahulu kepada Guru. Hukumnya itu langsung dari Guru, Mauluddin bukan dari guru BK/BP.

“Saya akui itu kejadian di ruangan BK, dan saya juga salah sehingga saya dihukum langsung dengan cara di jemur di halaman sekolah, sekitar hampir satu jam pada hari Selasa, karena saya ada kesalahan pada hari Senin. Saat saya dijemur itu sebelum kejadian di ruangan BK. Pak Mauluddin yang suruh saya berdiri sambil menghadap ke bendera, di situ saya di jemur, setelah itu ada arahan kepala sekolah, agar saya ke ruangan BK,” kata MF kepada Insertrakyat.com, saat ditemui di Sinjai, Rabu (17/9/2025) malam, sekitar pukul 22.00 WITA. Saat diwawancarai ia didampingi oleh kedua orang tuanya.

BACA JUGA :  Patroli Presisi TNI-Polri Aceh Selatan Dalam Wujudkan Situasi Aman Kondusif

Sebelumnya pada hari Senin, kata MF, dirinya menyimpan tas miliknya di ruangan kelas tepat di meja belajar. Ia lalu meninggalkan lokasi meskipun tanpa izin.

Setelah sore hari, MF mengetahui tas diambil Wakasek. MF lalu menghubungi Wakasek melalui sambungan telepon via WhatsApp. Karena ada juga tugas yang mau ia setor ke guru.

Awalnya MF percaya dengan apa yang disampaikan oleh Wakasek sehingga MF memutuskan untuk mengambil tas, esok hari.

Namun, belakangan terungkap, jika MF mendapati bahwa kepala sekolah Suardi masih berada di sekolah dan tas milik MF tidak ada pada kepala sekolah atau di ruangan kepala sekolah, melainkan Wakasek yang menyimpan tas.

Wakasek juga telah menyampaikan kepada MF bahwa kepala sekolah dan dirinya sudah pulang, sehingga tas MF tidak dapat diambil pada Senin. Penyampaian Wakasek Mauluddin itu berlangsung saat menjawab pertanyaan MF via WhatsApp dalam bentuk teks.

“Ini bukti chat WhatsApp, antara saya dengan pak Mauluddin, disini saya bertanya dan menyampaikan kalau saya mau ambil tas, tapi dijawab kalau tas sudah disimpan kepada kepala sekolah, dan sudah pulang (keduanya).” ucap MF sambil memperlihatkan bukti chat/percakapan. MF juga mengizinkan Insertrakyat.com, handphone (HP) nya di Foto.

MF mengatakan bahwa ia merasa kecewa karena apa yang disampaikan Wakasek Mauluddin saat ia hubungi, dianggap tidak sesuai dengan apa yang ia lihat langsung.

“Saya waktu kembali ke sekolah untuk latihan basket, saya lihat pak Suardi, Kepala Sekolah, masih ada di sekolah. Padahal pak Mauluddin saat saya hubungi (chat) bilang pak Suardi sudah pulang. Kemudian tas saya tidak disimpan oleh diruangan kepala sekolah tapi disimpan pak Mauluddin, di situ saya merasa kalau saya tahu Bo…….,” ungkap MF.

Buntutnya, persoalan tas juga itu pemicu insiden di Ruang BK. “Saya akui itu semua pak, saya salah, tapi, ……” tuturnya.

“Saya juga sempat Minta Maaf Waktu sudah kejadian di ruangan BK,” kunci MF.

Kendati demikian, orang tua siswa, Aiptu Rajamuddin mengatakan bahwa dirinya meminta maaf atas kejadian tersebut.

“Saya tidak menyangka kejadian itu akan terjadi, bagi kami, ini cobaan. Secara logika pak, tidak mungkin saya biarkan terjadi seandainya saya tahu sebelumnya, tapi kejadiannya spontan” ungkapnya.

“Jadi benar saat itu saya sedang berbincang dengan guru di ruangan BK, kemudian untuk Konseling saya berharap agar pak Mauluddin bisa juga hadir supaya kami tahu apa yang menjadi kendalanya ini anak, sehingga ada panggilan guru BK ke sekolah” kata Rajamuddin.

“Iya betul, Maksud saya pak bertukar informasi, itu tujuannya sehingga saya ingin pak Mauluddin hadir, nah setelah hadir pas masuk ke dalam ruangan BK, tiba – tiba langsung kejadian,” lanjut Aiptu Rajamuddin.

“Jadi tidak benar kalau saya diam saja, malahan saya marahi anak saya, tapi sudah pasti disini saya minta maaf kepada satuan pendidikan dan kepada pak Mauluddin atas kesalahannya anak ku,”ujarnya.

“Ia benar saya juga telah memberikan keterangan kepada propam di Polres,” demikian Aiptu Rajamuddin menjawab pertanyaan konfirmasi Insertrakyat.com.

Guru BK Telpon Orang Tua Siswa

Rajamuddin mengatakan dirinya ke sekolah setelah ada telpon guru BK.

Saya ke sekolah karena ada telpon dari guru BK, telpon itu diterima ibu di rumah, tidak ada surat. “Jadi begitu, setelah ada pemberitahuan melalui telpon saya ke sekolah, di ruangan BK saya juga melihat ada orang tua siswa lainnya,” tegas Rajamuddin.

Terkait dengan anaknya dikeluarkan dari sekolah Rajamuddin telah mengetahui.

Selanjutnya Rajamuddin berharap persoalan ini dapat disikapi dengan bijak oleh semua pihak termasuk Disdik dengan melihat semua fakta yang ada.

“Jadi seperti itu harapan saya. Semoga kejadian ini menjadi pembelajaran bagi saya, dan kelak menuai solusi agar anak saya tetap dapat melanjutkan pendidikannya. Dan untuk umur, betul sudah ada KTP nya. demikian kuncinya.

Sampai berita ini disiarkan sejumlah pihak terkait masih diupayakan untuk dikonfirmasi.(S).

BACA JUGA: Disdik Sulsel Keluarkan Edaran Wajib Hafalan Juz 30 Bagi Guru dan Siswa Muslim: Untuk Pembentukan Akhlak dan Literasi Al-Qur’an

Ikuti kanal resmi Insertrakyat.com untuk update berita cepat, akurat, dan terpercaya: