Oleh Muhammad Subhan

SAYA senang mendengar pidato pejabat yang disampaikan dengan rasa empati mendalam. Misal, pada pembukaan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV di Aceh, Senin (22/6/2026) lalu di Aula Gedung Wali Nanggroe, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof. Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed., menyampaikan kepada panitia bahwa jika ada kebutuhan yang kurang segera disampaikan kepadanya, baik uang maupun fasilitas gedung, karena Kementerian Pendidikan punya bangunan yang dapat dimanfaatkan sebagai penginapan.

Benarlah, menjelang penutupan PPN, peserta dapat menikmati fasilitas penginapan yang nyaman ala hotel di Wisma Balai Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP) Aceh di Aceh Besar.

Poin lain yang saya catat dan penting dari ucapan Pak Menteri adalah tentang pendidikan yang disebut tidak cukup hanya membentuk kecerdasan akademik, tapi juga karakter, empati, imajinasi, dan kepekaan sosial. Melalui sastra, para murid belajar memahami keberagaman, menghormati perbedaan, dan hidup damai.

Mendengar penegasan Prof. Abdul Mu’ti itu, tumbuh secercah harapan baru. Di hadapan para penyair Nusantara yang berkumpul di Bumi Serambi Mekah, beliau mendudukkan sastra bukan sekadar sebagai pemuas dahaga estetis, melainkan sebuah ruang perlindungan moral dan sosial. Di tengah gempuran teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang kerap mengikis kepekaan antarsesama, sastra hadir sebagai penyeimbang yang menjaga kewarasan peradaban bangsa.

Aceh tentulah menjadi tempat yang amat tepat bagi perhelatan akbar ini. Sejarah mencatat kawasan ini sebagai salah satu pusat kebudayaan dan sastra Melayu Nusantara yang agung. Dari tanah ini pula, spirit merawat bahasa digelorakan.

Pak Menteri juga mengingatkan pada konsep “Trigatra Bangun Bahasa”, yaitu mengutamakan Bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing. Ketiganya harus berjalan beriringan tanpa saling meniadakan.

Komitmen ini terasa kian mendesak ketika beliau menyoroti ranah publik kita hari ini. Tengoklah media sosial. Ruang-ruang digital kita kian miskin oleh kata-kata bijak, sebaliknya justru riuh oleh sumpah serapah dan ujaran kasar. Ia menyebut sejatinya penyair hadir untuk memberikan siraman rohani, mencerahkan nurani dengan kata-kata yang bijak, menggerakkan, dan menginspirasi.

Ketertarikan Prof. Abdul Mu’ti pada dunia kata ternyata bermula sejak masa sekolah. Beliau karib dengan puisi lewat bacaan, radio, hingga media cetak masa itu. Pengalaman personal inilah yang melandasi keyakinannya bahwa sastra memiliki andil raksasa dalam membentuk kepribadian seseorang. Demi mewujudkan itu, Kementerian tengah mendorong penguatan sastra dalam dunia pendidikan, termasuk gagasan memisahkan pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Sastra Indonesia agar porsi apresiasi karya di sekolah mendapat ruang yang jauh lebih lapang.

Namun, menurut hemat saya, penguatan kurikulum dan pemisahan mata pelajaran belumlah cukup. Sastra tidak boleh hanya mandek di dalam buku teks yang kaku dan dihafal demi nilai ujian. Gagasan besar ini akan jauh lebih bertenaga jika diwujudkan melalui gerakan nyata seperti membawa para sastrawan ke ruang kelas melalui program Sastrawan Masuk Sekolah. Program ini tentu tidak dirancang untuk membebani kurikulum yang sudah ada, melainkan hadir sebagai metode pembelajaran kontekstual yang menyenangkan dan mencerdaskan.

Kita tentu ingat bagaimana sastrawan Taufiq Ismail bersama Majalah Sastra Horison yang dahulu gigih menggerakkan program serupa secara masif. Program Sastrawan Masuk Sekolah terbukti ampuh menguak dinding pembatas antara teks sastra dan ruang batin siswa. Ketika seorang sastrawan melangkah masuk ke ruang kelas, mereka tidak sekadar membawa teori, sebaliknya membawa ruh kreatif, pengalaman hidup, dan keteladanan.

Kehadiran fisik seorang sastrawan di sekolah akan memberikan motivasi dan pemantik semangat yang luar biasa bagi para siswa. Murid-murid dapat melihat langsung contoh nyata dari sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk merawat bahasa. Mereka bisa berdialog, mendengarkan proses kreatif, dan memahami semenarik apa sebenarnya bekerja di dunia kreatif ini.

Pertemuan langsung ini akan melahirkan kekaguman yang kemudian menumbuhkan gairah bersastra di kalangan generasi muda. Murid tidak lagi memandang puisi atau cerita pendek sebagai tugas hafalan yang menjemukan, sebaliknya sebagai media ekspresi yang hidup.

Di samping kehadiran fisik sang sastrawan, ada satu instrumen penting yang tidak boleh dilupakan, yakni ketersediaan media cetak sastra di sekolah. Dahulu, Majalah Sastra Horison bukan sekadar lembaran kertas penampung karya, melainkan laboratorium kreatif yang mempertemukan guru dan siswa dalam satu ruang intelektual yang sehat. Menghidupkan kembali majalah sastra serupa di lingkungan pendidikan hari ini adalah sebuah keniscayaan yang mendesak.

Bagi guru, majalah sastra menjadi panggung terhormat untuk menuangkan kegelisahan budaya, gagasan pedagogis, sekaligus mengasah ketajaman menulis fiksi maupun esai kritis. Sementara bagi siswa, majalah tersebut merupakan ruang pembuktian sekaligus oase kreasi. Mengetahui karya mereka dimuat, dikurasi, dan dibaca secara luas akan menumbuhkan rasa percaya diri yang tinggi.

Majalah sastra di sekolah bertindak sebagai jembatan yang merawat tradisi membaca buku fisik dan melatih ketajaman berpikir lewat tulisan, mengimbangi derasnya arus informasi digital yang serbainstan. Tentu, di era sekarang, majalah fisik ini dapat berjalan beriringan dengan versi digitalnya (e-magazine), tanpa kehilangan marwah kurasinya, sehingga mampu menjangkau sekolah-sekolah di pelosok daerah secara merata dan efisien.

Pak Menteri menyampaikan komitmennya untuk memperluas ruang aktualisasi bagi pegiat sastra muda, termasuk rencana menghidupkan kembali sejumlah media sastra yang pernah diterbitkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Ini adalah angin segar. Potensi anak-anak kita dalam menulis karya sastra sangat luar biasa, dan mereka membutuhkan wadah yang sehat serta berkelanjutan.

Tentu saja, agenda besar ini tidak bisa diletakkan di atas pundak pemerintah sendirian. Sastra membutuhkan kerja bersama yang padu antara penyair, guru, kampus, komunitas, penerbit, media, pemerintah daerah, hingga dunia usaha. Dengan memanfaatkan anggaran serta fasilitas negara yang tepat sasaran, kolaborasi ini dipastikan tidak akan menjadi beban finansial bagi sekolah.

Melalui perpaduan gerakan Sastrawan Masuk Sekolah dan kehadiran kembali media sastra yang bermutu, kita sedang menyiapkan generasi masa depan yang tidak hanya cerdas secara digital, tapi juga anggun secara budi pekerti. Semoga saja dua program itu terwujud dan dapat terus dikuatkan di sekolah-sekolah kita.

(MUHAMMAD SUBHAN, Founder Sekolah Menulis Elipsis)

Buku-buku karya Muhammad Subhan juga dapat dipesan melalui LINI BUKU Padang. Untuk informasi dan pemesanan, silakan menghubungi admin LINI BUKU di nomor kontak: 0813-6303-840 .

Terima kasih kepada para pembaca yang telah memiliki dan mendukung hadirnya buku-buku ini.