MAKASSAR, INSERTRAKYAT.COM — Proses reproduksi kepemimpinan dalam Ikatan Tamalanrea (IKATA) Makassar menunjukkan tingkat kematangan organisasi setelah pasangan Hj. Nurfaidah GP dan A. Fadillah MR kembali memperoleh legitimasi elektoral tertinggi untuk memimpin periode 2026–2030. Keputusan tersebut dihasilkan melalui mekanisme pemilihan internal yang memenuhi prinsip demokrasi deliberatif, partisipasi inklusif, serta akuntabilitas struktural, Rabu (24/12/2025), di Resto Bugis Hotel Unhas Tamalanrea.
Dominasi perolehan suara yang dicapai pasangan Nurfaidah–Fadillah merepresentasikan akumulasi modal sosial (social capital) dan kepercayaan kolektif (collective trust) anggota terhadap kapasitas kepemimpinan yang telah teruji secara empiris selama lebih dari satu dekade. Dalam arena kontestasi yang melibatkan tiga pasangan calon, keduanya secara statistik dan sosiologis unggul atas dua pasangan lainnya, yakni A. Asni–Afiah dan Ana Hasanuddin–Ida Adri.
Keberlanjutan kepemimpinan ini mencerminkan stabilitas institusional (institutional stability) sekaligus preferensi rasional anggota terhadap model tata kelola organisasi yang berbasis kesinambungan kebijakan (policy continuity), efisiensi manajerial, dan adaptabilitas struktural. Sejak 2014, Nurfaidah GP dan A. Fadillah MR telah menjalankan fungsi kepemimpinan yang tidak semata administratif, melainkan strategis, dengan pendekatan governance berbasis komunitas (community-based governance).
Dalam pernyataan resminya, Hj. Nurfaidah GP menegaskan bahwa mandat yang kembali diberikan merupakan bentuk kontrak sosial (social contract) antara pengurus dan anggota. Ia berharap adanya penguatan sinergi horizontal, partisipasi aktif, serta mekanisme evaluasi berbasis kinerja (performance-based evaluation) guna memastikan implementasi program IKATA berjalan efektif, terukur, dan berorientasi pada kemanfaatan publik (public value).
Dari perspektif historis, IKATA merupakan organisasi komunitas yang memiliki legitimasi sosiologis dan historis yang kuat. Didirikan pada 1984 oleh para akademisi Universitas Hasanuddin—antara lain Dr. Imran Arief, SH, MH, Drs. Abd. Muzakkir Rewa, M.Si, Apt, Prof. Dr. Aminuddin Salle, SH, MH, dan Prof. Dr. Noer Bachri Noor, M.Kes—IKATA sejak awal dirancang sebagai ruang integrasi sosial (social integration), internalisasi nilai kolektif, serta penguatan kohesi sosial (social cohesion) di lingkungan Perumahan Dosen Unhas Tamalanrea.
Pelaksanaan pemilihan pengurus dirangkaikan dengan agenda silaturahmi dan penutupan arisan tahun 2025. Kegiatan ini merefleksikan praktik kelembagaan yang menempatkan rekognisi partisipasi anggota sebagai bagian dari penguatan budaya organisasi (organizational culture). Pemberian penghargaan kepada peserta arisan kehormatan dan anggota dengan tingkat kepatuhan iuran tertinggi menjadi indikator konkret dari internalisasi norma kolektif dan disiplin organisasi.
Dimensi kultural turut diintegrasikan melalui penilaian busana kebaya modern, yang berfungsi sebagai medium ekspresi identitas sosial (social identity) dan simbol reproduksi nilai budaya dalam ruang organisasi perempuan. Penilaian tersebut tidak hanya bersifat estetis, tetapi juga memiliki makna simbolik sebagai afirmasi peran perempuan dalam menjaga tradisi sekaligus modernitas.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan tukar kado, jamuan makan siang bersama, serta dokumentasi kolektif melalui foto bersama. Penutupan ini menegaskan posisi IKATA sebagai institusi komunitas yang dinamis, berkelanjutan, dan memiliki daya adaptasi tinggi terhadap perubahan sosial, dengan tetap berlandaskan nilai kekeluargaan dan solidaritas kolektif. (Isma).





