- Siti Hajnia: Musibah Mengajarkan Kita Untuk Saling Menguatkan
MALANG, INSERTRAKYAT.COM — Di tengah derasnya banjir yang merendam Aceh sejak puncaknya pada Rabu, memutus akses komunikasi antara berbagai pihak termasuk Mahasiswa yang menempuh pendidikan di Kota Malang.
Manusia pada umumnya adalah makhluk sosial yang saling melengkapi satu sama lain. Dari situ Hadir sebuah ketulusan seperti yang sedang berlangsung di sudut Kota Malang, Yogyakarta.
Di sana, tampak terlihat sebuah Rumah makan Jasa Ayah, milik Siti Hajnia dipadati Mahasiswa dari berbagai daerah termasuk Aceh. Khususnya Mahasiswa Aceh, manajemen rumah makan gratiskan makanan dan minuman, manajemen Rumah makan itu juga mendoakan agar Aceh segera pulih seperti sedia kala.
Awal mulanya, pemilik rumah makan, Siti Hajnia mengumumkan kebijakan manajemennya, “makan gratis” khusus bagi mahasiswa Aceh yang sedang menempuh pendidikan atau merantau di Malang dan Yogyakarta.
Kebijakan ini muncul setelah banyak mahasiswa kehilangan kabar dari keluarga. Sebagian tidak menerima kiriman uang karena banjir memutus transportasi dan memperparah situasi di kampung halaman. Pohon Tumbang, tanah longsor dan rumah hanyut menambah bobot kecemasan bagi keluarga dan Mahasiswa.
Siti Hajnia, putri kelahiran Bireuen, mengaku merasakan kecemasan yang sama. Selama beberapa hari ia sendiri sulit menghubungi keluarga di daerah/kota dan Provinsi Aceh. Dari situ lahir emosional dan tekad untuk membantu sesama perantau dengan menjangkau kebutuhan hajat hidup Mahasiswa.
“Di saat seperti ini, kita harus saling menguatkan,” kata Siti Hajnia.
Memang juga, Rasulullah telah mengajarkan bahwa Muslim itu seperti satu tubuh. Jika satu bagian sakit, semua ikut merasakannya.
Lantas, Siti Hajnia menegaskan, pintu rumah makan Jasa Ayah terbuka tanpa batas. “Kalau keluarga sedang kesulitan kirim uang, jangan tahan lapar. Datang saja kemari. Makan gratis. Tidak perlu malu, kita semua saudara, semoga Aceh lekas pulih,” imbuhnya.
Masyarakat luas dan riwayat Rasulullah, memberi makan orang yang sedang membutuhkan adalah amal yang tidak boleh ditunda. Siti Hajnia berharap agar apa yang dilakukannya membawa kebaikan bersama. “Semoga ini menjadi penguat bagi kita semua di tengah ujian ini,” harapnya.
Banyak mahasiswa Aceh kini menghadapi hari penuh kecemasan. Ada yang sudah tiga hari tak bisa menghubungi orang tua. Dalam pada itu pun, tak sedikit yang berharap ysinyal kembali pulih sehingga dapat mendengar suara keluarga.
Air mata mahasiswa begitu mahal untuk menangisi bencana ini, demikian pula kemurahan hati dan kepedulian Siti Hajnia bak mercusuar dalam definisi aksi heroik terhadap sesama.
“Ku simpan air mata untuk kebahagiaan dikemudian hari, agar negara hadir untuk kami yang sedang dilanda bencana,” ulas seorang Mahasiswa. Dalam kondisi itu, pengumuman dari Jasa Ayah terasa seperti kiriman kekuatan yang sangat menguatkan. “Rasanya seperti dapat pelukan dari kampung sendiri,” ujar mahasiswa yang datang ke cabang Lowokwaru itu.
Menu rumahan Jasa Ayah, hangat, sederhana, dan mengenyangkan, menjadi pengingat kecil tentang rumah. Tempat seseorang tidak perlu menjelaskan keadaan, hanya perlu duduk dan menumpahkan air mata bahagia, bersuara senada dan dan bersua dengan keluarga yang sederhana. “Aceh serambi Mekah”.
Kebijakan Berlaku di Semua Cabang
Jasa Ayah menetapkan kebijakan dan program ini berlaku di semua cabang Malang dan Jogja. Mahasiswa cukup menunjukkan KTP Aceh untuk mendapatkan makan gratis.
Realita itu juga mendapat apresiasi dari berbagai komunitas mahasiswa Aceh. Mereka menyebut inisiatif ini sebagai wujud kepedulian dan nilai ukhuwah dalam Islam. Menolong tanpa diminta, memberi tanpa menunggu balas. “Kami memahami ini takdir Aceh,” kata Mahasiswa.
Siti Hajnia berharap Aceh segera pulih dan para mahasiswa kembali mendapatkan kabar baik dari keluarga.
“Semoga Allah menjaga saudara-saudara kita di sana. Semoga banjir cepat surut, dan semoga bantuan segera sampai ke daerah-daerah yang terisolasi,” ucapnya.
Beliau mengajak masyarakat yang mampu untuk turut membantu dalam bentuk apa pun sepanjang bermanfaat, baik itu tenaga, doa, atau sekadar memastikan anak-anak perantau tidak merasa sendirian.
“Di hadapan musibah, yang paling kuat bukan harta, tetapi hati yang saling menguatkan,” tutupnya.
Suasana dari luar terlihat kontras dengan situasi didalam. Sebab, dibalik suka duka Aceh, di Jasa Ayah itu, bagi mahasiswa terasa seperti suasana lebaran di negeri orang.

Di dalam warung yang serba sederhana ini, Mahasiswa tersenyum dalam renungan berbalut tangis, bagi mereka, keluarga yang jauh di Aceh dalam keadaan sehat adalah hal yang paling terpenting dari segala hal.
Tak ada menu Asta Cita di dalam warung sebab ini murni gerakan rakyat. Kendati demikian, Aliansi Madura Indonesia Bersatu mengapresiasi Manajemen Rumah Makan Jasa Ayah. Baihaki Akbar mengatakan aksi kemanusiaan itu perlu dicontoh. “Kami sangat mengapresiasi kebijakan pihak Jasa Ayah. Dan kami sangat berharap pemerintah ikut memperhatikan Mahasiswa asal Aceh yang kini merantau di luar daerah. Pemerintah harus meminta data door to door pada setiap kampus atau Universitas, dengan begitu data Mahasiswa asal Aceh lebih mudah untuk dihimpun dan diberikan perhatian,” ujar Baihaki Akbar Ketua Umum Aliansi Madura Indonesia saat dihubungi oleh Supriadi Buraerah melalui sambungan telepon. “Saat ini saya masih di Jatim,”kunci Baihaki Akbar.
(Rifqi/Luthfi/Su).






































