Salah satu kompetisi pelajar satuan pendidikan formal yang setiap tahun selalu menarik perhatian saya adalah FLS3N. Kepanjangannya Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional. Sebelumnya, bernama FLS2N.

Ajang ini berjenjang, dimulai dari tingkat satuan pendidikan, berlanjut ke kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional. Setiap tahap adalah saringan yang ketat. Prestise yang menyertainya pun tidak main-main.

FLS3N diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Sejak beberapa pekan terakhir, buku panduan teknis digitalnya telah beredar ke seluruh satuan pendidikan di Indonesia.

Sekolah-sekolah mulai sibuk mengidentifikasi bakat, menunjuk peserta, dan bersiap mendaftarkan mereka melalui portal resmi.

Di atas kertas, prosesnya tampak sistematis, mulai dari seleksi tingkat sekolah hingga tahap final nasional. Namun, pengalaman saya sebagai juri dan pelatih di sejumlah daerah menunjukkan satu kenyataan: menjadi juara FLS3N bukan perkara menunjuk siswa berbakat lalu melatihnya sekadar menjelang lomba. Ia adalah proses panjang, berlapis, dan menuntut keseriusan manajerial sekolah.

Sejak awal penyelenggaraannya yang bermula dari Jambore Seni Siswa Nasional tahun 2004, lalu berkembang menjadi FLS2N pada 2008 di Bandung, dan kini bertransformasi menjadi FLS3N pada 2026, ajang ini memang dirancang sebagai wahana strategis pengembangan talenta seni budaya. Bahkan, FLS3N kini menjadi bagian integral dari Desain Besar Manajemen Talenta Nasional (DBMTN) sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 108 Tahun 2024.

BACA JUGA :  Murthalamuddin Resmi Jabat Kadisdik Aceh

Artinya, negara menempatkan ajang ini bukan sekadar lomba tahunan, melainkan instrumen kebijakan untuk menyiapkan generasi emas yang kreatif, berdaya saing, dan berkarakter.

Tema FLS3N 2026, “Menumbuhkan Karakter Bangsa melalui Kreativitas dan Apresiasi Seni Budaya”, sesungguhnya mengandung pesan kuat. Kreativitas bukan hanya soal hasil karya, melainkan proses pembentukan disiplin, daya tahan, kepekaan rasa, dan kemampuan berpikir kritis.

Apresiasi seni bukan hanya tepuk tangan bagi pemenang, tetapi juga sikap menghargai keberagaman, sportivitas, dan empati dalam kompetisi.

Di sinilah persoalan mendasar sering muncul. Tidak sedikit sekolah yang baru bergerak ketika juknis terbit. Siswa yang tampak berbakat ditunjuk, lalu dilatih beberapa kali oleh guru yang merangkap banyak tugas. Targetnya sederhana: lolos tingkat kota. Jika gagal, tahun depan mencoba lagi dengan pola yang sama.

Sebaliknya, sekolah-sekolah yang memiliki visi jangka panjang biasanya sudah memetakan talenta jauh sebelum jadwal lomba diumumkan. Mereka membangun ekosistem seni di sekolah: ekstrakurikuler aktif, ruang apresiasi tersedia, dan karya siswa rutin dipentaskan atau dipublikasikan. Lebih dari itu, mereka berani melibatkan praktisi ahli dari luar sekolah seperti seniman, penyair, sutradara teater, koreografer, pelukis, penulis, komposer, dan lainnya untuk mendampingi siswa secara intensif.

Keterlibatan praktisi bukan sekadar pelengkap. Dalam banyak kasus yang saya temui, kehadiran praktisi profesional menghadirkan perspektif baru, standar mutu yang lebih tinggi, serta pembacaan kritis atas karya siswa.

BACA JUGA :  Rehan Resmi Dilantik Jadi Presiden Mahasiswa UIAD Sinjai, Ajak Sinergi Antar Lembaga

Praktisi memahami dinamika lomba, karakter dewan juri, dan tuntutan inovasi di setiap jenjang. Mereka tidak hanya melatih teknis, tetapi juga membangun mental bertanding.

Namun, ada pula sekolah yang keliru memahami peran praktisi. Mereka mengundang pelatih profesional dengan biaya mahal di awal, lalu menghentikan pendampingan ketika siswa lolos ke tingkat berikutnya. Karya yang diandalkan tetap karya awal tanpa pengembangan berarti. Padahal, setiap jenjang seleksi menuntut penyempurnaan, adaptasi, bahkan pembaruan konsep.

Tanpa pembinaan berkelanjutan, siswa mudah terhenti di lima atau sepuluh besar—dan itu pun jika beruntung. Prestasi yang patut diapresiasi, tetapi belum maksimal.

Juara nasional hampir selalu lahir dari proses yang konsisten. Pembinaan mereka tidak terputus. Setiap tahap dilalui dengan evaluasi serius; ada perbaikan teknis, pendalaman konsep, dan eksplorasi kreativitas baru. Di balik nama siswa yang disebut sebagai pemenang, berdiri tim yang solid, mulai dari kepala sekolah yang visioner, guru pembina yang berdedikasi, serta praktisi ahli yang mendampingi secara profesional.

Peran kepala sekolah di sini sangat strategis. Ia bukan sekadar penandatangan surat tugas, melainkan arsitek kebijakan prestasi. Kepala sekolah yang hebat akan berani mengalokasikan anggaran untuk pembinaan seni, membuka jejaring dengan komunitas seni di luar sekolah, serta memberi ruang bagi guru untuk berkembang sebagai pembina. Ia memahami bahwa investasi pada talenta tidak bisa instan.

BACA JUGA :  Tim Gojukai Indonesia Raih Runner Up Kejuaraan Dunia Karate-Do di Jepang, Lampaui Target dengan 25 Emas

Guru pun memegang posisi kunci. Guru yang peka akan mampu mengidentifikasi bibit-bibit berbakat sejak dini. Ia tidak menunggu siswa mendaftar lomba, tetapi aktif mengamati, mendorong, dan menantang siswa untuk terus berkarya.

Guru hebat tahu bahwa talenta harus diasah melalui latihan rutin, kritik yang jujur, dan kesempatan tampil yang berulang.

FLS3N memiliki dua klasifikasi utama: seni pertunjukan dan seni penciptaan. Pada seni pertunjukan, kemampuan performatif—gerak, suara, ekspresi—menjadi penentu. Pada seni penciptaan, kualitas gagasan, orisinalitas, dan kekuatan produk akhir menjadi sorotan. Keduanya sama-sama membutuhkan pembinaan teknis dan konseptual yang serius dan terus-menerus.

Karena itu, sudah saatnya sekolah berhenti memandang FLS3N—dan kompetisi serupa lainnya—sebagai agenda tahunan yang reaktif. Ajang ini harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi pengembangan talenta jangka panjang.

Melibatkan praktisi ahli bukan pemborosan, melainkan investasi mutu. Pendampingan tidak boleh bersifat sesaat, tetapi berkesinambungan dari satu jenjang ke jenjang berikutnya.

FLS3N melampaui urusan medali dan piagam. Di sanalah sekolah menguji kesungguhannya menumbuhkan karakter, merawat kreativitas, serta menyiapkan generasi yang percaya diri membawa identitas budayanya ke panggung nasional. Semua itu menuntut keberanian kepala sekolah dan guru untuk menjadi penggerak perubahan—menggali potensi, merawat proses, dan menempa talenta dengan ketekunan, bukan digerakkan oleh semangat sesaat yang lekas padam.

 

Oleh Muhammad Subhan.

Ikuti kanal resmi Insertrakyat.com untuk update berita cepat, akurat, dan terpercaya: