ACEH TAMIANG, (20/2) — Muhammad Tito Karnavian, Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Kasatgas PRR) Pascabencana Wilayah Sumatera, melaksanakan salat tarawih berjemaah bersama masyarakat di Masjid Darussalam, Kampung Simpang Empat, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang.

Suasana berlangsung penuh khidmat. Tidak ada jarak simbolik antara pejabat negara dan rakyat terdampak bencana. Tito hadir sebagai representasi negara yang menyatu dalam barisan jamaah, menyelaraskan doa, harap, dan kepedihan yang sama.

Sebelum tarawih, Tito berbuka puasa bersama warga terdampak bencana, termasuk para penghuni Hunian Sementara (Huntara) Danantara Aceh Tamiang. Ia juga melaksanakan salat Magrib dan Isya di masjid yang sama, menjadikan hari pertama Ramadan 2026 sebagai momentum spiritual sekaligus kemanusiaan.

“Dari tiga provinsi terdampak, 52 kabupaten/kota, salah satu yang paling berat adalah Aceh Tamiang,” ujar Tito, menegaskan alasan kehadirannya yang bukan sekadar kunjungan kerja, melainkan panggilan empati.

Ia menegaskan, pemerintah pusat tidak akan meninggalkan warganya yang tertimpa musibah. Penunjukannya sebagai Kasatgas PRR oleh Presiden Prabowo Subianto menjadi mandat moral dan konstitusional untuk memastikan pemulihan berjalan nyata, bukan sekadar narasi.

“Kehadiran saya di sini adalah sinyal bahwa negara hadir. Pemerintah pusat tidak meninggalkan Bapak-Ibu sekalian,” tegasnya.

Dalam penjelasannya, Tito memaparkan bahwa proses pemulihan mulai menunjukkan hasil: aktivitas pemerintahan kembali berjalan, pasokan BBM mulai normal, pasar kembali beroperasi, dan denyut ekonomi perlahan pulih. Namun ia juga mengakui masih ada pekerjaan besar yang harus dituntaskan, mulai dari penanganan pengungsi, percepatan pembersihan lumpur, hingga penyediaan air bersih.

“Kita akan selesaikan sampai tuntas,” ucapnya, dengan nada tegas namun tenang.

Pemerintah pusat, lanjut Tito, juga telah menyiapkan skema bantuan konkret bagi warga terdampak: Rp15 juta untuk rumah rusak ringan, Rp30 juta untuk rusak sedang, dan Rp60 juta untuk rumah rusak berat atau hilang. Angka-angka itu bukan sekadar nominal, tetapi simbol kehadiran negara dalam membangun kembali martabat hidup rakyatnya.

Di ujung pernyataannya, Tito menekankan bahwa percepatan pemulihan tidak mungkin berjalan sendiri. Ia menyerukan kebersamaan seluruh elemen bangsa—pemerintah, masyarakat, dan semua pemangku kepentingan—untuk bergerak bersama.

“Kebersamaan adalah kunci. Semangat kolektif inilah yang akan mempercepat pemulihan,” ujarnya.

Di Masjid Darussalam malam itu, tarawih bukan hanya ibadah. Ia menjadi simbol: bahwa negara, iman, dan kemanusiaan bisa berjalan seiring—dalam satu saf, satu doa, dan satu tujuan: memulihkan kehidupan dengan martabat dan harapan.

Penulis: Rifqi |Editor: Muhammad Iqbal