Oleh Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis


SAYA membaca puisi-puisi Sulaiman Juned sejak tahun 1990-an. Waktu itu namanya kerap muncul di koran-koran Aceh, Medan, dan Jakarta. Ia bukan sekadar penyair; ia adalah suara yang berjalan di antara panggung teater, kolom-kolom opini, hingga halaman-halaman cerpen di media massa tempat kata-kata disemai.

Pertemuan kami terjadi setelah saya meninggalkan Aceh dan bermukim di Sumatra Barat. Ketika saya memimpin biro sebuah koran tertua di Padang untuk wilayah tugas Bukittinggi (2006—2007), ia kerap mengirim tulisan untuk kolom “Detak Jam Gadang” yang saya asuh. Tulisan-tulisannya tak pernah datar. Selalu ada getar emosi, ada gugatan, ada jejak seorang seniman yang tak ingin hanya menjadi penonton sejarah.

Kedekatan kami semakin erat ketika saya bermukim di Padang Panjang dan ia meminta saya menjadi salah satu pembina Kuflet, komunitas seni yang ia dirikan dan rawat lebih dari seperempat abad. Di sana kami berdiskusi, menerbitkan buku, mementaskan teater, membina kelas sastra di sekolah-sekolah, bahkan melakukan perjalanan literasi hingga ke sejumlah kota di Aceh dan lainnya. Dalam rentang waktu itulah saya melihat bagaimana Sulaiman Juned bekerja. Ia bukan hanya menulis puisi, tetapi membangun ekosistem kebudayaan.

Kini, melalui buku kumpulan puisi terbarunya bertajuk “Padangpanjang 999” (2026), ia seperti meneguhkan satu hal: kota bukan sekadar latar; kota adalah tubuh. Kota adalah perasaan. Kota adalah ingatan kolektif yang terus berdenyut.

Padang Panjang dalam buku ini bukan sekadar kota administratif. Ia adalah ruang spiritual, ruang luka, ruang cinta. Kota yang akrab dengan hujan, gerimis, kabut, angin, bukit, dan gunung. Kota yang, dalam penggalan puisinya, dituliskan demikian:

BACA JUGA :  Mengapa Rasa Sakit Kucing adalah Ujian Kemanusiaan Kita?

di sini
malam dan siang menjamu debu
di perhidangan
musim, tetap saja aku basuh
dengan cinta.
Sedang gerimis
mengental
di dada.

Hujan dalam puisi “Padangpanjang 999” ini bukan sekadar peristiwa meteorologis. Ia adalah suasana batin. “Gerimis mengental di dada” adalah metafora tentang beban perasaan, tentang cinta yang tidak ringan. Ada kegetiran yang tidak diucapkan secara frontal, tetapi terasa sebagai lapisan yang menebal.

Sulaiman Juned tidak menulis kota sebagai lanskap eksotik. Ia menulis kota sebagai ruang kontemplasi. Hujan menjadi cermin batin; kabut menjadi metafora keraguan; debu menjadi jejak perjalanan manusia yang tak pernah steril dari kesalahan.

Dalam puisi “Padang Panjang (Dua Puluh Satu)”, ia menulis:

aku
gendong
peradaban cinta
merindui guel,
seudati dan hikayat
sambil
menghitung ombak di matamu

Di sini kita melihat satu hal penting: identitas kultural tidak dilepaskan dari kota. Ia menyebut guel, seudati, hikayat—yang ketiganya simbol-simbol kebudayaan Aceh—lalu membawanya ke Padang Panjang. Ada pertemuan dua tanah, dua sejarah, dua pengalaman.

Ia seolah berkata, manusia modern tak bisa tercerabut dari akar tradisinya. Namun, akar itu bukan untuk dibekukan. Ia digendong sebagai “peradaban cinta”. Kata “gendong” memberi kesan keintiman sekaligus tanggung jawab. Tradisi bukan beban; ia adalah anak yang harus dirawat.

BACA JUGA :  Makna, Hidup dari Menulis di Dunia yang Tidak Baik-Baik Saja

Namun, puisi-puisi dalam buku ini tidak hanya bicara tentang romantisme kota dan kebudayaan. Ia juga menyentuh wilayah kegelisahan sosial dan spiritual. Dalam “Lelaki yang Memikul Marapi di Pundaknya”, ia menulis:

aku
tak ingin resah. Walau
Marapi acap mengantarkan kepundan
bersama hujan
ke rumah
rumah.

: Allah menegur dengan cinta-Nya.

Gunung Marapi dalam puisi ini bukan hanya gunung yang bisa (sering) meletus. Ia adalah simbol ancaman, simbol ketidakpastian hidup. Namun, Sulaiman Juned tidak menutupinya dengan kepanikan. Ia menafsirkannya sebagai teguran Ilahi: “Allah menegur dengan cinta-Nya.”

Di sini terlihat kedalaman spiritual yang tidak sentimentil. Bencana tidak dibaca sebagai kutukan, tetapi sebagai peringatan. Ada upaya memaknai tragedi sebagai bagian dari dialog manusia dengan Tuhannya.

Namun, yang paling menggugah adalah puisi “Laporan Gaduh Seorang Bekas Mahasiswa di Kuburan Bekas Aktivis Mahasiswa”. Puisi itu pendek tetapi mengandung pesan yang gelisah:

kawan
susah hidup di kotamu
segala hati dikuasai kekuasaan

Ah!

Puisi ini seperti ledakan kecil yang menyimpan bara panjang. Ia menyentil realitas sosial-politik. Kota yang dahulu mungkin menjadi ruang idealisme mahasiswa kini berubah menjadi ruang kompromi kekuasaan. “Segala hati dikuasai kekuasaan”, sebuah kritik yang tajam sekaligus getir.

Sulaiman Juned tidak berkhotbah panjang. Ia hanya menyisakan gumam—atau bahkan teriakan—pendek: “Ah!” Tapi justru di situlah daya pukulnya. Seruan itu seperti keluhan, seperti kelelahan, seperti kekecewaan yang tak lagi ingin dijelaskan.

Dalam “Padangpanjang 999” yang menghimpun 70 puisi, saya melihat tiga lapis kesadaran: kesadaran kultural, kesadaran spiritual, dan kesadaran sosial. Ketiganya berjalin berkelindan tanpa harus saling meniadakan. Ia menulis kota dengan cinta, tetapi tidak menutup mata terhadap retaknya nilai. Ia merayakan tradisi, tetapi tidak terjebak pada romantisme masa lalu. Ia memaknai bencana dengan iman, tetapi tetap menyadari getir kehidupan.

BACA JUGA :  Tahun Baru, Longsor Baru: Ketika Kebijakan Tanggap Bencana Kehilangan Arah

Sebagai penyair yang juga sutradara teater, Sulaiman Juned memiliki kepekaan dramatik. Banyak puisinya seperti monolog panggung. Ada suara “aku” yang kuat, ada dialog batin yang terasa performatif. Ia tidak menulis dengan jarak; ia menulis dengan keterlibatan.

Buku ini bukan hanya kumpulan puisi tentang sebuah kota kecil di dataran tinggi Sumatra Barat yang telah lama menjadi Simpul Sumatra. Ia adalah catatan seorang penyair yang menempatkan dirinya di tengah perubahan zaman. Tentang bagaimana ia tetap memeluk hujan, kabut, dan luka sebagai bagian dari takdir kreatifnya.

Padang Panjang dalam buku ini akhirnya menjelma menjadi cermin. Siapa pun yang membacanya akan menemukan dirinya sendiri; dalam gerimis yang mengental di dada, dalam gunung yang sewaktu-waktu bisa meletus, dalam romantika kekuasaan yang menggerus idealisme.

Dan mungkin, di antara semua itu, kita akan belajar satu hal: membasuh debu musim dengan cinta.

Berkontribusi dalam artikel ini adalah Muhammad Subhan yang bergabung dengan manajemen Insertrakyat.com pada 2026.

Untuk Informasi, Pre-Order Buku Kumpulan Puisi “Padangpanjang 999” karya Sulaiman Juned, hubungi nomor WhatApp: 0813-9328-6671. Persediaan terbatas.