MASYAALLAH, kokoh sekali kalimat ini, “Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, secara resmi melakukan aktivasi ruang publik Rumah Puisi Taufiq Ismail yang telah bertransformasi menjadi Museum Sastra Indonesia”, bertempat di Tanah Datar, pada Sabtu (24/1/2026).

Kegiatan yang mengusung tajuk “Baralek Literasi” bagian dari pernyataan sikap tentang tingginya nilai identitas bila menjaga akar budaya dan literasi di tengah arus modernisasi.

Aktivasi ini menandai penguatan fungsi Rumah Puisi yang telah berdiri sejak tahun 2008, kini berkembang menjadi ruang ingatan kolektif dan pusat pembelajaran sastra bagi masyarakat luas.

Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa agenda ini bukanlah peresmian bangunan baru, melainkan peluncuran kembali (re-activation) fungsi ruang publik dari institusi yang telah lama menjadi saksi bisu perjalanan intelektual bangsa.

Sejak didirikan hampir dua dekade silam, Rumah Puisi telah menjadi titik temu penting bagi para sastrawan, budayawan, dan seniman, baik dari skala nasional maupun internasional.

“Rumah Puisi ini memiliki sejarah panjang. Banyak sastrawan dan budayawan besar pernah hadir dan berkegiatan di sini. Kini, sejak beberapa tahun lalu, tempat ini tidak hanya menjadi rumah bagi karya-karya Taufiq Ismail, tetapi juga berkembang sebagai Museum Sastra Indonesia,” ujar Fadli Zon sambil dilah langsung Muhammad Subhan — Insertrakyat.com.

Transformasi tersebut membawa beban moral yang mulia. Museum Sastra Indonesia kini menjadi rumah bagi berbagai artefak intelektual. Koleksinya mencakup memorabilia yang sangat personal dan bernilai sejarah tinggi, mulai dari mesin tik tua milik para pesohor sastra, kacamata, lukisan, hingga mesin cetak manual yang pernah digunakan untuk menggandakan pikiran-pikiran besar.

Tak hanya itu, tersimpan pula tulisan tangan asli “Paus Sastra” H.B. Jassin, topi dan jaket penyair Sapardi Djoko Damono, kaset rekaman suara asli pembacaan puisi, serta ribuan manuskrip dan buku yang menjadi rujukan peradaban.

Hadir di lokasi yang sama, sastrawan legendaris Taufiq Ismail didampingi sang istri, Ati Ismail, yang tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Bagi penyair “Tirani dan Benteng” ini, Rumah Puisi adalah impian panjang untuk memberikan wadah bagi generasi muda agar mencintai kata-kata.

“Museum ini bukan sekadar bangunan penyimpanan kertas tua, melainkan rumah ingatan bagi peradaban bangsa. Semoga tempat ini terus menyalakan pelita literasi di tengah arus zaman yang kian menderu,” ungkap Taufiq Ismail dengan nada suara yang bergetar penuh syukur.

Taufiq menekankan bahwa sastra adalah “kompas nurani” yang menjaga kepekaan kemanusiaan dan martabat sebuah bangsa. Ia berharap, kehadiran museum ini di Sumatra Barat mampu menjadi benteng bagi generasi muda agar tetap teguh pada akar budaya mereka, meskipun dunia terus berubah secara dinamis.

Menbud Fadli Zon menambahkan, Rumah Puisi Taufiq Ismail merupakan contoh nyata dari “kantong budaya yang hidup” (living culture). Ia membandingkannya dengan rumah-rumah sastrawan besar di luar negeri yang telah sukses menjadi destinasi wisata budaya sekaligus pusat edukasi yang mendunia.

“Kekayaan budaya Indonesia merupakan mega diversity yang harus dirawat, dilindungi, dikembangkan, dan dimanfaatkan secara berkelanjutan. Kita berharap tempat ini melahirkan penyair dan sastrawan baru, sekaligus menjadi ruang ekspresi yang berkelanjutan bagi semua kalangan,” tegas Menbud.

Menurutnya, kebudayaan bukan hanya warisan masa lalu, melainkan kekuatan masa kini dan masa depan. Aktivasi ini diharapkan mampu memberikan ruang yang lebih luas bagi ekspresi budaya dan memperkuat indeks literasi nasional.

Nuansa kultural terasa kental dengan digelarnya prosesi makan bajamba usai acara peresmian. Tradisi makan bersama dalam talam besar yang dibuka dan ditutup dengan petatah-petitih Minangkabau ini menjadi simbol penghormatan kepada tamu sekaligus pengikat silaturahmi.

Acara ini turut dihadiri oleh sejumlah pejabat dan tokoh penting, di antaranya Direktur Sarana dan Prasarana Kementerian Kebudayaan Dr. Ir. Ferry Arlian, M.Sc., Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual Yayuk Sri Budi Rahayu, M.Pd., serta Anggota DPRD Sumbar H. Rony Mulyadi, S.E. Turut hadir pula perwakilan dari Pemprov Sumbar, Pemkot Padang Panjang, Rektor ISI Padang Panjang Dr. Febri Yulika, hingga jajaran kepolisian dan tokoh adat setempat.

Rangkaian “Baralek Literasi” tidak berhenti pada hari Sabtu saja. Pada Ahad, 25 Januari 2026, kegiatan dilanjutkan dengan agenda yang menyentuh akar rumput, seperti bengkel baca puisi, lomba baca puisi, dan diskusi buku yang melibatkan pelajar serta guru dari berbagai kota di Sumatra Barat. Dengan aktivasi ini, Rumah Puisi Taufiq Ismail dan Museum Sastra Indonesia resmi kembali menjadi jantung literasi yang berdenyut kencang di Ranah Minang.

Penulis: Muhammad Subhan

Editor : Supriadi Buraerah