DESA TALLE (INSERTRAKYAT.com) — Bara kelelahan masyarakat akhirnya berubah menjadi api tuntutan terbuka. Aspirasi pemekaran wilayah di Desa Talle tak lagi sekadar wacana bisik-bisik warga, melainkan telah terungkap menjadi gerakan sosial secara serentak. Impian “naik kelas” sebagai komunitas dan entitas pemerintahan baru kini menguat, didorong akumulasi beban geografis yang berliku, dan kelelahan struktural yang dipendam bertahun-tahun (sejak pasca Indonesia Merdeka).
Di satu sisi, indikator objektif ibarat berbicara tegas. Delapan dusun dengan jumlah penduduk sekitar 7.000 hingga 8.000 jiwa berdiri sebagai fakta tak terbantahkan. Seorang warga yang akrab disapa Prabowo itu menyebut Desa Talle telah lama melampaui batas kewajaran pengelolaan administratif satu wilayah desa. “Delapan dusun, ribuan jiwa. Ini bukan desa kecil lagi. Ini wilayah besar yang butuh tata kelola baru, yang lebih objektif,” tegasnya, menggambarkan realitas yang selama ini terabaikan.
Namun di sisi lain, realitas geografis menjadi luka terbuka. Transisi pelayanan publik berubah menjadi perjalanan fisik yang melelahkan. Warga Dusun Lappang, misalnya, harus menempuh jalur memutar melalui wilayah Kecamatan Sinjai Selatan sebelum akhirnya tiba di kantor desa yang berada di Dusun Jekka. Rute administratif berubah menjadi rute penderitaan. “Setiap urusan surat, warga harus memutar jauh. Lelah, capek, dan ini terjadi bertahun-tahun,” ulang Prabowo dari kalangan masyarakat itu dengan nada gemoy yang menggambarkan akumulasi frustrasi sosial.
Lebih jauh, kelelahan itu berubah menjadi kekecewaan terhadap kepemimpinan desa. Warga secara terbuka menyinggung minimnya kepekaan Kepala Desa Talle, Ir. Abd. Rajab, terhadap urgensi pemekaran. Padahal warga Ingin agar Kades Rajab menekan pedal gas pemekaran secara mapan. Mereka menilai Pemekaran merupakan kepentingan masyarakat yang menghendaki kemajuan dan majemuk.
Sementara itu, dari kalangan muda, api perlawanan justru menyala lebih terang. Biasa dipanggil Deni.dkk dari kalangan aktivis Mahasiswa organisasi Komite Merah Putih Indonesia (KMPI) menyebut gerakan pemekaran sebagai simbol hidupnya semangat generasi baru yang ingin melihat daerah berkembang.
Hasil investigasi Insertrakyat.com menguatkan fakta lapangan. Desa Talle di wilayah Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, dinilai memiliki potensi perkembangan besar. Pemekaran bukan lagi sekadar opsi, melainkan kebutuhan strategis demi efektivitas pelayanan pemerintahan dan percepatan pembangunan. Tokoh masyarakat menyebut, jika tetap dikelola sebagai satu wilayah besar, pelayanan publik justru akan semakin kompleks dan timpang.
Di tengah tekanan publik, Kepala Desa Talle, Abd. Rajab, menyampaikan bahwa usulan pemekaran sebenarnya telah diajukan. Ia menyebut jumlah penduduk sekitar 8.000 jiwa yang tersebar di delapan dusun sebagai dasar kuat pengajuan tersebut. “Kita sudah usulan untuk pemekaran,” ujarnya, sembari berharap pemerintah daerah segera menindaklanjuti aspirasi tersebut demi optimalisasi pelayanan publik.
Menariknya, saat dikonfirmasi soal rencana demonstrasi dari warga dan aktivis, respons yang muncul justru terkesan santai. Melalui sambungan WhatsApp, Jum’at (28/2/2026) sore, Abd. Rajab menyebut reaksi warga sebagai hal biasa. “Tidak semua warga tahu kalau pemekaran sudah diusulkan. Kami pemerintah desa terus bekerja untuk aspirasi masyarakat,” ujarnya.
Lebih luas lagi, isu pemekaran ini sempat mengemuka dalam agenda reses Ketua DPRD Sinjai, A. Jusman beberapa hari lalu. Aspirasi pemekaran disebut menjadi salah satu pembahasan serius. Namun hingga kini, belum ada komitmen politik yang mantap atau langkah konkret dari legislatif. Ruang harapan masih terbuka, tetapi kepastian belum kunjung tiba. “Kesannya hanya seremonial,” ucap Warga.
Padahal, pemekaran Desa Talle bukan sekadar soal batas dan populasi penduduk serta luas wilayah. Namun juga sebagai bentuk keresahan masyarakat terhadap akses yang berliku, dan rasa lelah yang menumpuk.
Dan
Jika suara ini terus membesar, pemekaran bukan lagi pertanyaan “perlu atau tidak”, melainkan “kapan direalisasikan”. Kades Talle Ir Abd Rajab masih idaman masyarakat luas.
Masyarakat Desa Talle memiliki potensi pendapatan ekonomi melalui pertanian dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah UMKM.
(Yusuf Buraerah)



















