JAKARTA, INSERTRAKYAT.com Semenjak dilantik menjadi Kepala Badan Urusan Administrasi Mahkamah Agung (KABUA), jadwal saya terasa jauh lebih padat. Keputusan yang harus diambil setiap hari pun berlipat dibanding saat menjabat Kepala Biro Hukum dan Humas. Dari biasanya tiga keputusan penting sehari, kini bisa mencapai sepuluh, semuanya menuntut ketepatan, kecepatan, dan tanggung jawab penuh.

Agar tidak ada yang terlewat, saya memiliki kebiasaan sederhana: mencatat dan segera menindaklanjuti setiap hal yang penting. Papan board besar di dinding sebelah meja kerja kini menjadi “peta jalan kecil” yang setiap pagi mengingatkan saya ke mana arah BUA harus melangkah dan sejauh mana progres telah dicapai.

BACA JUGA :  MA Lesatkan Putusan Bersalah 14 ASN Inspektorat Koltim, Iswan LIRA: Era Prabowo Tak Ada Ruang Main-Main dengan Hukum

Belum sempat bernafas panjang, seminggu setelah pelantikan, saya mendapat amanah tambahan: mengikuti Pendidikan Pemantapan Pemimpin Nasional (P3N) Lemhannas Angkatan XXVI. Jadwal pun semakin padat. Pagi menghadiri rapat internal MA, siang diskusi kelompok di Lemhannas, malamnya menyelesaikan laporan dan koordinasi daring dengan tim.

Di Lemhannas, saya belajar banyak tentang Trigatra dan Pancagatra sebagai dasar ketahanan nasional. Trigatra mencakup geografi, kekayaan alam, dan penduduk—unsur alamiah yang menentukan potensi dan posisi strategis bangsa. Pancagatra meliputi ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya, dan pertahanan-keamanan, yang bisa dikelola dan dibina. Keseimbangan keduanya mencerminkan ketahanan nasional yang kokoh.

BACA JUGA :  100 Hari Kepemimpinan KABUA Mahkamah Agung, Sobandi

Setiap sesi membuka wawasan tentang sinergi antar lembaga, kepemimpinan, serta kolaborasi lintas sektor. Namun, di balik kesibukan itu, saya menyadari satu hal penting: menata waktu dan menyeimbangkan diri.

Sabtu dan Minggu menjadi waktu untuk “recharge”. Menikmati kebersamaan dengan keluarga, bermain dengan cucu, jalan pagi, membaca, atau sekadar duduk santai menulis refleksi. Me time bagi saya bukan berhenti bekerja, melainkan memberi ruang bagi pikiran dan hati tetap jernih.

BACA JUGA :  MA Tekankan Keamanan Digital dan Wajib Email Dinas, Perjuangan Kesejahteraan Panitera Terus Berjalan

Pemimpin yang baik bukan hanya mampu memutuskan cepat, tetapi juga mampu menjaga keseimbangannya. Dengan pikiran tenang dan hati lapang, keputusan besar bisa diambil dengan bijak. Resep menjaga stamina di tengah padatnya tugas pun sederhana: jangan lupakan me time di Sabtu-Minggu.

Karena bahkan seorang birokrat pun butuh jeda, agar esok tetap bisa bekerja dengan semangat yang sama.

Oleh: Sobandi. Jakarta 18 Oktober.